
Thank you Abang Daniel.
pesan dari Lucky Daniel baca esok pagi setelah bangun tidak sambil senyum-senyum. Kalau Lucky sudah kirim kode begitu sudah dipastikan urusan malam pertama tidak pakai drama.
Gue sama Kia bareng deh ke Malang, berangkat jam berapa?
pesan berikutnya dari Lucky, semalam Daniel matikan handphonenya jadi pesan Lucky baru masuk pagi ini.
12.30, Dzuhur di Bandara saja.
Daniel membalas pesan Lucky, yang entah sudah lihat handphone atau belum pagi ini. Daniel baru saja pulang dari Mesjid bersama Nanta dan anak-anaknya. Semalam mereka menginap di rumah Nanta atas permintaan Dania, lagi pula Oma Nina juga memilih tinggal di rumah Nanta bersama perawatnya.
Oma tidak mau diajak ke Malang, meskipun naik private jet, kembali Ke Malang mengingatkan Oma Nina akan Opa Dwi yang sudah berpulang, malah semalam Oma minta Nanta agar berembuk bersama Raymond juga Reza dan Kenan tentang penjualan rumah Oma di Malang berikut aset lainnya yang dirasa tidak terurus oleh anak cucunya, rasanya Oma tidak akan kembali Ke kota itu lagi.
Sementara itu di apartment, Lucky baru saja bangun dari tidurnya, setelah sholat shubuh tadi Lucky dan Kia tidur lagi, sekarang sudah pukul delapan, perut sudah mulai lapar. Kia masih tidur cantik sambil memeluk Lucky, wajahnya tertutup bantal, itu saja masih cantik menurut Lucky.
"Morning, sayang." Lucky mulai ngusel-ngusel, membuat Kia terbangun dari tidurnya.
"Lapar." kata Lucky lagi setelah melihat pergerakan dari Kia yang menandakan dia sudah terbangun.
"Pesan online saja ya Om, Kia bosan makan telur." jawabnya bikin Lucky terkekeh, siapa juga yang mau kasih Kia sarapan telur pagi ini.
"Mau makan kamu." jawab Lucky jahil, bikin Kia ingat akan aktifitas mereka semalam.
"Sayang..." panggil Lucky karena Kia pura-pura tidak mendengar.
"Kita berangkat sama Baen dan Bang Daniel ya." ajak Lucky, Kia kira Lucky mau membahas lebih lanjut makan memakan itu.
"Jam berapa Om?" tanya Kia.
"Sekarang jam delapan." jawab Lucky.
"Bukan, pesawatnya jam berapa?" tanya Kia.
"Sebentar." Lucky mengambil handphone di nakas, memeriksa apa pesannya sudah dibaca.
"Jam sepuluh kita ke Bandara." jawab Lucky setelah membaca pesan balasan dari Daniel.
"Kia mandi dulu ya." jawab Kia yang sudah tidak lagi malu memandang wajah Lucky setelah diminta pertanggung jawaban adegan berikutnya.
"Berdua ya." Lucky tersenyum manis, berharap dapat persetujuan dari Kia.
__ADS_1
"Modus." dengus Kia bikin Lucky terbahak.
"Sayang, mau lagi." mulai ngusel-ngusel mumpung Kia belum beranjak dari kasur.
"Kia lapar, Om Lucky pesan makan, Kia mandi ya." kalau istrinya bilang lapar mana Lucky tega biarkan Kia terlambat makan.
"Mau sarapan apa?" tanya Lucky cepat tanggapan.
"Sarapan Om Lucky." jawab Kia terkikik geli, malah mancing-mancing, langsung saja dapat kelitikan dari Lucky hingga Kia tertawa geli.
"Mau makan apa sayang?" tanya Lucky lagi setelah capek bikin istrinya kegelian.
"Terserah Om Lucky deh. Kia mandi dulu." jawab Kia segera beranjak menuju kamar mandi.
"Morning kiss dulu dong." gerutu Lucky karena Kia main tinggalkan Lucky dikasur saja.
"Nanti kalau sudah sikat gigi." jawab Kia buru-buru menutup pintu kamar mandi.
"Sayang, pesan makannya telur ya." Lucky menggoda Kia.
"Jangaaan..." teriak Kia dari dalam kamar Mandi, Lucky terbahak mendengarnya.
Setelah pesan sarapan pagi untuk Kia, Lucky langsung hubungi Mama dan Papanya.
"Hmm..." sepertinya lagi sibuk olah raga, cuma jawab begitu.
"Lagi yoga ya?" tanya Lucky.
"Hu uh."
"Lucky sama Kia ke Malang siang ini sama Baen." Lucky beritahukan Mamanya, meskipun sudah dewasa tetap kasih laporan pada Mama.
"Oke." kalau lagi Yoga susah mau ajak ngobrol panjang lebar.
"Kasih tahu Papa ya." pinta Lucky.
"Ya." jawab singkat-singkat saja. Begitu saja yang penting Lucky sudah laporan sama Mama dan Papanya.
Kia mandi tidak lama-lama, begitu Lucky tutup telepon tampak Kia sudah berganti pakaian.
"Kamu mandi cepat sekali, cuci muka sama sikat gigi saja ya?" tanya Lucky curiga.
__ADS_1
"Enak saja. Mandi serius lah, pakai shower." jawab Kia bikin Lucky traveling.
"Mana sarapan Kia, Om?" tanya Kia.
"Belum datang, kamu tunggu saja ya. Aku mandi dulu." jawab Lucky, mencium pipi istrinya yang sudah wangi.
"Bauuuu." teriak Kia bikin Lucky kembali menciumnya. Tidak peduli dibilang bau sama Kia, yang penting masih terlihat tampan.
"Om..." teriak Kia bikin Lucky terbahak.
"Nanti kalau sudah wangi, cium bibir ya." pinta Lucky bikin Kia mencibir. Lucky kembali terbahak.
Siang hari sebelum Dzuhur Balen, Daniel, Shaka dan Bari sudah tiba di Bandara, sedang Lucky dan Kia masih dalam perjalanan.
"Lapar ndak Aban?" tanya Balen pada Daniel, tadi di rumah mereka baru sarapan buah saja, sekarang rasanya sudah minta makan berat, apalagi ada calon baby diperut Balen.
"Aku lapar, Ante." sahut Bari yang tidak di tanya.
"Tuh Aban, kasihan Bari kelaparan." kata Balen bikin Daniel terkekeh. Padahal Daniel tahu pertanyaan dari Balen tadi kode kalau dia sudah lapar.
"Mau makan Baso." kata Balen lagi lihat counter Baso tidak jauh dari tempat mereka menunggu Kia dan Lucky.
"Kalian mau Baso?" tanya Daniel pada Ddua orang anak Baen dihadapannya.
"Ya kalau biangnya minta Baso, kita sih ikut saja." jawab Shaka bikin Balen nyengir lebar.
"Di Ohio ndak ada Baso yang ini sih, mumpung lihat." jawab Balen senang segera menarik suaminya ke counter Baso, Bari dan Shaka mengikuti Dari belakang.
"Ante, Kak Kia mau juga katanya." Bari beritahukan Balen yang sedang antri di depannya.
"Aban Lucky mau juga ndak?" tanya Balen, Bari langsung ketikkan sesuatu di handphonenya.
"Mau, pakai kwetiau." jawab Bari kemudian.
"Kalian aja deh yang pesan, Ante cari bangku." kata Balen setelah antrian tinggal sedikit lagi, ia sebutkan apa saja yang harus di pesan lalu segera berikan beberapa lembar uang merah pada Bari.
"Ayo Aban, Baen capek berdiri." ajaknya pada Daniel. Baru juga mau cari bangku sudah terlihat Kia dan Lucky yang sedang berjalan kearah mereka, gunakan baju senada terlihat sangat serasi. Daniel langsung cengar-cengir ingat pesan yang Lucky Kirim tadi pagi.
"Berapa ronde?" bisik Daniel saat Lucky mendekat. Bukannya menjawab Lucky malah terbahak sambil menepuk keras bahu Daniel. Kelakuan mereka berdua yang sedikit rusuh tentu saja jadi perhatian lingkungan sekitar.
"Apa sih?" tanya Balen Kepo.
__ADS_1
"Itu loh..." belum Daniel selesaikan kalimatnya Lucky langsung membekap mulut Daniel agar tidak buka rahasia didepan Kia, khawatir merajuk bisa repot Lucky harus menyogok keponakannya agar membujuk Kia.
"Ih apa sih? Om Lucky sama Om Daniel rusuh deh." gerutu Kia, Daniel dan Lucky tertawa bersama saling pandang, biar mereka berdua saja yang tertawa sementara Balen dan Kia juga saling pandang tapi saling naikkan alis tanda tidak mengerti.