
"Ibu hanya kelelahan." kata Dokter senior yang ditemui Balen dan Daniel.
"Iya kita habis dari Bandung sih, naik kereta capek juga, pinggang saya sakit." jawab Balen baru merasakan capeknya.
"Bisa capek juga kamu." bisik Daniel, Balen mencubit paha suaminya.
"Dokter, saya tuh masih lama ya lahirannya?" tanya Balen.
"Perkiraan minggu depan ya, kalau lihat bentuk perutnya tinggal tunggu hari." jawab dokter yakin.
"Bukannya bulan depan ya? Ndak sempat lahiran di Ohio dong?" tanya Balen.
"Ibu tinggal di Ohio? sebaiknya setelah melahirkan saja kembali Ke sana, kalau dipaksakan saya khawatir Ibu melahirkan di pesawat." dokter tertawa sendiri, suka bercanda juga dia.
"Tadi saya kiranya juga saya lahiran di kereta dokter, berapa kali seperti kontraksi." jawab Balen polos.
"Duh kamu bilang hanya keram." Daniel gelengkan kepalanya.
"Kalau bilang kontraksi Aban panik." jawab Balen nyengir.
"Untung saja tidak jadi melahirkan di kereta." Daniel terkekeh.
"Iya lah, bisa repot kalau lahir di kereta, yang panik banyak." jawab Balen kembali nyengir.
"Jadi mau melahirkan dimana nanti, bu?" tanya dokter wanita yang tidak terlalu sepuh tapi terlihat tidak muda lagi.
"Di Jakarta lah dokter, ndak bisa ke Ohio kan, padahal pengen lahiran disana." jawab Balen.
"Sudah ada rencana mau di rumah sakit mana? karena sepertinya Ibu sering pindah dokter." melihat rekam medis yang selalu ada di Mobil Daniel.
"Ih dokter tahu aja." Balen terkikik geli.
"Lahiran di sini saja dokter, bisa booking dari sekarang kah, supaya nanti jelas kami langsung kemari?" tanya Daniel.
"Bisa." Dokter segera membuat catatan untuk reservasi ruangan dan perkiraan lahir.
"Dokter, saya ndak harus kesini tiap hari kan?" tanya Balen polos.
"Kalau tidak sakit ya tidak usah, nanti kalau rasa-rasanya sudah dekat langsung kesini saja."
"Oke lah dokter, kalau begitu kita pamit. Ndak ada lagi yang mau dokter sampaikan kan?" begitulah Balen, seharusnya dokter yang tanya apa ada pertanyaan lain, dasar singkong rebusnya Nanta.
"Tidak, mungkin Ibu mau bertanya?" dokter tersenyum pada Balen.
"Panggil Baen aja dokter." Balen terkekeh.
"Ibu Balena ini seperti model iklan cilik dulu ya." katanya lagi pandangi Balen.
"Eh dokter suka nonton tv juga ya dulu, itu saya loh beneran." langsung bangga ada yang mengenali.
"Cantiknya tidak hilang." dokter memuji Balen, bikin istri Daniel kembang Kempis hidungnya, setiap dipuji selalu begitu.
"Dokter, Baen ndak biasa kasih tanda tangan loh." kata Balen ajak dokter bercanda.
"Hahaha nanti yang tanda tangan keluarga pasien biasanya." jawab dokter tertawa.
"Dokter namanya siapa sih?" tanya Balen mencari papan nama di dada atau di meja, tidak terlihat.
"Saya Imelda." dokter Imelda mengulurkan tangannya, Balen langsung menyambut senang.
"Dokter Imelda, terima kasih loh ingat Baen kecil." Balen ucapkan terima kasih.
__ADS_1
"Saya lihat namanya." jawab dokter Imelda.
"Memang cuma ada satu nama Balena ya?" tanya Balen pada suaminya.
"Pasti ada sih selain kamu." jawab Daniel.
"Balena Putri Kenan ya cuma satu yang saya tahu." jawab dokter Imelda.
"Ya ampun dokter kok tahu nama lengkap Baen?" tanya Balen polos.
"Itu kan tercatat dikertas sayang." Daniel tunjuk kertas di hadapan dokter Imelda.
"Baen sudah ge er aja." jawabnya sambil terbahak, dasar Balen Tim narsis juga dia.
Benar saja perkiraan dokter Imelda, minggu depannya Balen mulai merasakan kontraksi yang lebih sering, Daniel sudah tidak tidur semalaman karena istrinya kesakitan, seperti biasa kalau tidak ngeyel bukan Balen namanya. Sejak hamil tingkat kengeyelan Balen naik beberapa persen, diajak ke rumah sakit dari semalam tidak mau.
Jadilah dini hari di waktu tahajud, mereka menuju rumah sakit, dari semalam Daniel yang sudah mencatat nomor telepon dokter Imelda sudah sampaikan keadaan istrinya.
"Sakit Abaaan..." Balen rusuh berteriak kesakitan sepanjang jalan.
"Please Calm Mam, I'm here." Chandra ikut temani Papanya, sekarang sedang menggenggam tangan Mama, sementara Daniel kendarai mobilnya.
"Mama ndak kuat Chandra, aaah." Balen berteriak menahan sakitnya.
"Oh my god Mam, zikir please." Chandra ingatkan Balen.
"Allahu Akbar!!!" Balen berteriak. Daniel tambah panik saja tapi berusaha setenang mungkin.
"Good Mam, zikir lagi..." bisik Chandra, untung saja Chandra yang ikut, ia lebih tenang dibanding kedua adiknya.
"Astaghfirullah, sakit Chandra." Balen meremas jari sulungnya.
"Mau minum Mam?" Chandra tawarkan Balen.
"Air hangat ndak?" tanya Balen.
"Aku bawakan air madu, enak." Chandra alihkan rasa sakit Mamanya dengan ajak ngobrol.
"Mau..." Balen anggukan kepalanya sambil menarik nafas dan menghembuskan ya pelan. Chandra segera mengambil tumbler dan arahkan kemulut Mamanya.
"Madu apa nih, kok enak?" tanya Balen, beneran lupa sama sakitnya.
"Ini kemarin ada yang antar ke rumah Papon, madu Jambi katanya." jawab Chandra.
"Banyak ndak Chandra, nanti suruh bawa ke rumah sakit." pinta Balen.
"Ok Mam." Chandra tersenyum.
"Kamu ndak sekolah dong karena antar Mama?" tanya Balen.
"Boleh libur kok, nanti Papon yang lapor ke sekolah." jawab Chandra.
"Charlie sama Cadi suruh sekolah saja ya." kembali bawel, sakitnya hilang.
"Iya Mam."
"Harusnya Mama lahiran di Ohio nih." masih ingat mau melahirkan di Ohio.
"Kalau di Ohio aku liburnya lama, tidak bisa temani Mam."
"Iya sih." Daniel menarik nafas lega istrinya sudah ngobrol santai dengan Chandra.
__ADS_1
"Nanti adiknya kasih nama siapa?" tanya Balen pada Chandra.
"B's or C's Pap?" tanya Chandra.
"B's saja ya?" Daniel minta persetujuan.
"What ever, B's or C's good." jawab Chandra. "But why B's?"
"Supaya bisa temani Balena perhatikan C's and D." jawab Daniel.
"Pap itu egois."
"No, C's and D also." jawab Daniel.
"Ok, B's good." jawab Chandra setuju.
"B's jadi siapa?" tanya Balen pada Daniel.
"Nanti saja dipikirkan kalau sudah lahir." jawab Daniel terkekeh.
"Aku boleh kasih nama?" tanya Chandra.
"Boleh." jawab Daniel.
"Bunga Putri Daniel, like Mam Putri Kenan." jawab Chandra.
"Why bunga?" tanya Daniel.
"Romantic." jawabnya, Daniel terkekeh, Chandra tahu-tahunya romantic.
"Satu lagi siapa?" tanya Balen.
"Pap saja yang pikir." jawab Chandra. "Pap satu lagi D saja jangan B." pinta Chandra.
"Kenapa?"
"Supaya D ada yang temani." jawab Chandra.
"Oke." Daniel setuju.
"Apa keduanya perempuan?" tanya Chandra.
"Iya." jawab Balen yakin, semua sudah dia siapkan warna pink.
"Bagaimana kalau laki-laki?" tanya Chandra.
"Sama saja, tetap kita sayang." jawab Daniel yang mulai masuki parkiran rumah sakit, ia langsung menuju lobby dimana dua perawat sudah bersiap menyambut Balen.
"D siapa?" tanya Balen.
"Delvin." jawab Chandra, padahal tadi minta Papanya yang berpikir.
"Perempuan Chandra." Balen bersiap turun dari Mobil.
"Delvina." jawab Daniel.
"Oke." Balen tersenyum manis lalu berjalan santai seperti tidak terjadi apa-apa, padahal Daniel paniknya minta ampun.
"Duduk di kursi roda Mam." Chandra ingatkan Balen karena perawat sudah membawa kursi roda.
"Mama bukan jompo Chandra." kembali ngeyel, apa nanti ngeyelnya Bunga, Delvin atau Delvina seperti ini, pikir Chandra sambil menarik nafas panjang.
__ADS_1