
"Kiaaa..." langsung berteriak begitu Kia angkat telepon dari Balen, sengaja Balen video call mau lihat wajah pengantin baru.
"Ante ih, berisik." Kia langsung menutup matanya.
"Kalau berisik tutup kuping tahu bukan mata." Balen terkekeh.
"Kenapa Anteku yang cantik?" tanya Kia tersenyum.
"Kia dimana sih?" tanya Balen.
"Dirumah Opa Micko, malam ini menginap di sini, besok baru ke Malang." jawab Kia.
"Ante hari ini ke Jakarta." Balen beritahukan Kia.
"Naik jet pribadi loh berdua Aban." pamer sambil senyum-senyum.
"Idih, mau sambil itu ya? yang diatas awan." Kia terkikik malu-malu bayangkan ucapan Richie.
"Nah itu tahu, Kia kalau mau bilang aja." katanya pada Kia sambil naikkan alisnya.
"Idih Ante." Kia kembali terkikik.
"Eh jet Achara ada kamarnya tahu, Kia bisa pinjam sebentar kalau kita berangkat bersama nanti ke Malang." senyum jahil sejuta arti.
"Bodo ah Kia tidak mau dengar "
"Kia enak tahu kalau jadi suami istri itu." sedikit berbisik takut didengar yang lain.
"Anteee, bodo tidak mau dengar." kembali menutup wajah karena benar-benar malu.
"Hayo Baen, kamu ajari Kia apa?" tanya Lucky yang tiba-tiba munculkan wajahnya di kamera.
"Aban, udah malam pertama belum?" tanya Balen spontan bikin Lucky dan Kia salah tingkah.
"Mau malam pertama diatas awan ndak? eh sudah terlambat ya." Balen terkikik geli, Kia tidak berani komentar karena ada Lucky.
"Diatas awan? tawaran yang menggiurkan, boleh dicoba tuh." Lucky langsung ambil kesempatan menggoda Kia, bikin Kia mencubit perutnya dengan keras, tentu saja Lucky meringis kesakitan.
"Aban mau, bisa ikut Baen ke Malang besok naik jet Achara." semua ditawarkan dasar Balen.
"Ya kali gue mau enak-enakan ada elu sama Daniel, ada Bang Nanta sekeluarga juga." langsung Lucky menolak karena tahu Balen akan bersama Nanta besok.
"Kan ada kamarnya." masih saja Balen menawarkan.
"No thanks Baen, mending gue sewa sendiri deh kalau mau." Lucky kembali terbahak dengan tawaran Balen yang menurutnya sangat memalukan.
"Ih ada yang gratis malah mau sewa." Balen monyongkan bibirnya.
"Terus pas keluar kamar gue sama Kia jadi bulan-bulanan kalian, terima kasih banyak Baen." Lucky mendengus gelengkan kepalanya. Daniel terbahak mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu kapan ke Jakarta?" tanya Lucky.
"Ini lagi tunggu taxi." jawab Balen sambil nyengir.
"Nanti bertemu Ben juga Ante." kata Kia pada Balen.
"Eh ndak tahu, Baen ndak tahu telepon Ben." jawab Balen.
"Tadi Ben chat aku, katanya mau survey lokasi sama Ante dan Panta." Kia beritahukan Balen.
"Iya betul kita janjian setelah makan siang, terus Kia kenapa ndak mau angkat telepon Aban Lemon?" tanya Balen langsung.
"Memang iya?" tanya Lucky yang baru tahu.
"Iya, lagi pura-pura ngambek karena peristiwa semalam." jawab Kia nyengir.
"Oh berarti selama ini kalau tidak angkat telepon aku juga pura-pura ngambek?" tanya Lucky terkekeh cubit pipi Kia gemas.
"Sakit Om." Kia meringis.
"Ih manja-manja sama Om suami." Balen terkekeh.
"Apaan Om suami." Lucky terbahak jadinya.
"Om yang jadi suami kan." jawab Balen.
"Ayo sayang." rupanya taxi sudah datang, tidak mau repotkan keluarganya, Daniel dan Balen memilih naik taxi.
"Eh soal apa nih?" tanya Daniel akhirnya ambil alih handphone Balen.
"Nanti ya aku telepon personal." Lucky terkekeh.
"Oke, telepon dua jam lagi ya." kata Daniel pada Lucky.
"Tunggu Balen tidak ada konsultasinya." jawab Lucky.
"Aban apaan deh,kok Baen ndak boleh tahu?" tanya Balen penasaran.
"Urusan laki-laki Baen." jawab Lucky terbahak.
"Idih, nanti juga Baen tahu. Bedewe Aban kasih tahu istrinya tuh, kalau ndak mau dikutuk jadi batu angkat telepon Papa dan Mama." Balen ingatkan Lucky.
"Lu kira istri gue malinkundang, Baen?" protes Lucky sambil tertawa.
"Iya kalau durhaka nanti kaya malinkundang." jawab Balen.
"Anteee jangan bicara sembarangan, Kia tidak durhaka." protes Kia.
"Jadi mau dibilang apa? sudah jelas anaknya dengan sengaja ndak mau angkat telephone Papanya?" Balen menjalankan perannya, ngomel.
__ADS_1
"Iya nanti Kia angkat teleponnya." takut dikutuk jadi batu.
"Ndak usah." kata Balen tegas, seperti merajuk.
"Ante Baen nanti gue minta Kia telepon Papanya." sahut Lucky membantu Kia, sengaja panggil Balen, Ante.
"Nah itu maksud Baen, ndak usah nunggu Papanya telepon, langsung telepon sekarang, Aban terimakasih ya." Balen kembali pasang wajah manisnya.
"Baen Daniel hati-hati, sampai bertemu di Jakarta, Bedewe cuaca disini sedang tidak bersahabat, semoga perjalanan menyenangkan, selamat sampai tujuan." Lucky mendoakan Balen dan Daniel.
"Aamiin." jawab Balen.
"Aamiin, thanks bro." ini jawab Daniel. Setelahnya mereka pamit pada keluarga dan segera menuju Taxi yang sudah menunggu terlalu lama.
Benar saja begitu sampai di jet pribadi Pilot mengatakan jika cuaca saat ini sedang tidak bersahabat, jadi selama perjalanan harus selalu kenakan sabuk pengaman.
"Aduh, gagal deh anak Baen dibesuk sambil lihat awan." gerutu Balen bikin Daniel terbahak.
"Bisa kok sambil duduk." bisik Daniel menggoda istrinya.
"Ndak mungkin lah Aban, nanti lagi enak-enak turbelensi lagi, repot deh." jawab Balen.
"Epot dong epot." Daniel mengulang bahasa repot Balen saat kecil dulu sambil jahili Balen tusuk-tusuk pipinya dengan jari, sementara Balen yang sedikit kecewa jadi tertawa.
"Aban sih mau yang gratisan aja." katanya salahkan Daniel.
"Enak saja, yang mau gratis kan kamu. Lagian kamu sih tidak ikuti waktu Abang bilang nanti saja kita sewa pesawat di Ohio, terus saat Mamon bilang kamu nanti capek kamu bilang apa hayo?" Daniel terkekeh ingatkan Balen.
"Ih Aban salahin Baen lagi." cemberut disalahkan dan keinginan tidak tercapai.
"Bukan salah kamu, bukan salah Abang juga." Daniel mengusap lengan istrinya lembut.
"Iya ini salah Ichie sih, kenapa juga kasih ide yang ndak-ndak, Baen juga ndak kepikiran cuaca bisa aja kaya gini." Daniel terbahak sekarang Ichie yang istrinya disalahkan.
"Yang penting kita selamat sampai tujuan, ngomel terus, tidak takut ini pesawatnya goyang-goyang?" tanya Daniel pada istrinya, ia sedikit khawatir dalam hati sudah berdoa terus minta keselamatan.
"Ya ampun, Baen ngomel juga biar ndak ketakutan Aban." jawabnya, Daniel baru perhatikan jika wajah istrinya tampak pucat.
"Yuk zikir sama-sama." Daniel tersenyum tenangkan istrinya sambil perhatikan lampu tanda sabuk pengaman yang masih terus menyala. Balen anggukan kepala ikuti zikir yang Daniel lantunkan.
"Aban, berarti nanti ya waktu mau bikin anak kedua kita ehem-ehemnya di atas awan." sudah berani bicara lagi saat cuaca buruk sudah terlewati, sekarang sudah bisa lepas sabuk pengaman.
"Sekarang saja." Daniel menyeringai.
"Ndak Aban, Baen udah ndak mood, keramasnya juga repot, ah Ichie nih idenya ndak brilian." jawabnya mendesah masih salahkan Richie, Daniel kembali terbahak. Beruntung ya Balen dapat suami yang tidak permasalahkan istrinya suka ngomel, bahkan seringnya merasa omelan istrinya itu lucu.
"Lemme kiss you, darling." Daniel menangkupkan kedua tangannya pada pipi Balen, lalu ******* bibirnya dengan lembut. Balen nikmati sambil pejamkan mata dan membalasnya.
"Kiss sambil lihat awan." Daniel tertawa setelahnya.
__ADS_1
"Aban tadi Baen merem, ulang Aban." hahaha minta diulang karena tadi tidak melihat awan, tentu saja Daniel ikuti kemauan Balen dengan senang hati.