
"Balena, where is Achara?" Berryl hubungi Balen setelah puluhan kali hubungi Achara tidak ada jawaban.
"Ini siapa?" tanya Balen pura-pura tidak tahu, padahal Achara sudah beritahukan Balen nomor telephone Berryl.
"Saya Berryl." jawabnya tegas.
"Oh, Berryl saya tidak tahu dimana Achara." jawab Balen.
"Jangan bohong Balena, tetangga kamu bilang kalian pergi bertiga ke Indonesia." suara Berryl terdengar sengit. Balen lupa sampaikan di group persatuan Ibu-ibu supaya tidak beritahukan aktifitas Balen pada siapapun yang bertanya.
"Oh ada yang bilang begitu ya?" dasar Balen tidak bisa bohong akhirnya serahkan handphonenya pada Achara yang menoyor kepala Balen karena persiapan matangnya mengungsi jadi ketahuan Berryl.
"Hai Berryl..." suara Achara dibuat seriang mungkin.
"Kenapa tidak bilang mau ke Indonesia? Berapa lama kamu disana, kenapa kamu sampai cuti kuliah?" tanya Berryl dengan banyak pertanyaan.
"Berryl sepertinya kita tidak bisa bertemu lagi, aku hamil." Achara terpaksa jujur.
"Bagaimana bisa? sudah pasti bukan anakku." Berryl menarik nafas panjang.
"Yah..." Achara bingung mau bilang apa.
"Jika tidak ada yang mengaku sebagai ayahnya, mari kita hidup bersama, kita besarkan bersama-sama." Berryl menawarkan pada Achara, tidak menawarkan pernikahan hanya hidup bersama.
"Berryl aku sudah tidak mau *** bebas lagi, kasihan anakku nanti kalau besar dan tahu kelakuan Ibunya."
"Anakmu akan mengerti nantinya."
"Thank you atas tawaran, Berryl. Kita akhiri saja sampai disini."
"Achara, tinggallah bersamaku, semua kebutuhan hidupmu akan kupenuhi."
"Ini bukan soal biaya untuk kebutuhan kami Berryl, ini soal moral, aku tidak mau anakku meniru kelakuan kita, cukup aku saja yang salah jalan." tolak Achara tegas, keluarganya tidak marah saja Achara sudah bersyukur.
"Hubungi aku jika kamu berubah pikiran." ucap Berryl sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.
"Nah selesai urusan Berryl, masih ada urusan Markus." Achara tertawa.
"Telepon saja." pinta Balen sambil tersenyum.
"No, nanti saja kalau dia hubungi aku." Achara gelengkan kepalanya.
"Ayo siap-siap, kita ke rumah orang tuaku." ajak Balen pada Achara.
"Maaf ya Balena, kenapa juga Papa minta orang suruhannya langsung ke Malang." Achara menarik nafas, tidak enak hati pada Balena karena seharusnya hari ini Achara sudah berada di Malang bersama orang suruhan Papanya. Tetapi yang ada malah tadi dapat laporan kalau mereka sudah berada disana lebih dulu. Mau tidak mau rencana berubah, Achara akan ke Malang bersama Richie dan istrinya.
"Santai, di Malang juga sepi, kamu belum punya teman, jadi disini dulu saja." Balena tersenyum.
"Nanti kamu juga ke Malang bersamaku?" tanya Achara.
"Kamu duluan aku masih banyak urusan di Jakarta, tapi nanti disana aku lama kok." jawab Balen tersenyum senang bayangkan akan honeymoon bersama suaminya di Malang. Pokoknya kemanapun mereka bersama akan Balen anggap mereka akan honeymoon.
"Balena, kamu beruntung, kehidupanmu sempurna." Achara tersenyum pada Balen.
"Alhamdulillah... tapi tidak ada yang sempurna loh." Balena terkekeh.
"Jauh lebih baik daripada aku dan Althea."
__ADS_1
"Dalam hal apa?"
"Kamu hamil tapi jelas ada suami, sedangkan aku?" Achara tersenyum miris.
"Itu kan resiko yang harus kamu tanggung." Balena tertawa.
"Achara kalau ternyata baby benar anaknya Markus, apa kamu akan minta Markus bertanggung jawab? menikah saja dengan Markus."
"Markus bukan orang yang mau terikat, Balena. Dia sama seperti aku, selalu punya pacar dimanapun. Tapi aku sudah tidak mau begitu lagi, kasihan anakku nanti, Papa dan Mamaku juga kasihan, pasti mereka sedih lihat kondisiku saat ini."
"Siapa tahu begita kamu hamil Markus berubah." Achara gelengkan kepalanya mendengar harapan Balen.
"Jangan berharap lah. Setidaknya aku hanya beritahukan kalau aku hamil dan tidak minta dia untuk bertanggung jawab, seandainya Markus ayahnya pun aku tidak akan minta Markus untuk menikah denganku. Terserah dia saja nanti bagaimana, kalau menjauh ya berarti anakku cukup punya aku dan Opa Oma." Achara tersenyum.
"Baeeen!!!" terdengar suara Redi yang rupanya baru saja tiba.
"Achara ayo keluar ada Redi adik Daniel." ajak Balen pada Achara.
"Aku dikamar saja ya?"
"Oh ya sudah aku keluar ya." Balena segera keluar kamar Achara hampiri Redi.
"Ledi Dei, mana Ulan?" langsung saja tanyakan Ulan.
"Sama Mama dibelakang." tunjuk Redi kearah taman belakang.
"Bagaimana?" Balen naikkan alisnya.
"Gitu deh." senyum-senyum tidak jelas.
"Sudah jadian?" tanya Balen.
"Ulannya mau?" tanya Balen.
"Tidak tahu ya nanti lihat saja saat Ulan kenalkan aku sama Papa dan Mamanya." jawab Redi.
"Mama Ai sepertinya belum sampai Jakarta deh."
"Sok tahu ah." Redi tertawa.
"Nanti aku mau antar Ulan kerumah adik Papanya." kata Redi lagi.
"Oh sudah sampai di Jakarta?" tanya Balen, Redi anggukan kepalanya.
"Ledi, Ulan bilang ndak dia mau nikah kapan?" tanya Balen Kepo.
"Ulan mau selesaikan kuliahnya dulu." jawab Redi.
"Ledi Dei nunggu dong."
"Gitu deh." kembali terkekeh.
"Keburu ponakan Ledi Dei dapat calon pasangan deh." celutuknya asal sambil mengusap perutnya.
"Belin?" tanya Redi.
"Ini." tunjuk Balen pada anak diperutnya.
__ADS_1
"Menghayal..." Redi tertawa sambil mengusap wajah Balen.
"Eh Ledi Dei, Baen ini kakak ipar kamu loh." mulai keluar gaya sok tuanya.
"Terus kenapa? kalau kakak Iparnya menghayal gue harus ikutan gitu?"
"Bodo ah Ledi Dei, Ulaaaan..." Balen segera tinggalkan Redi hampiri Mama dan Ulan, tetap saja tidak jaga image meskipun sedang dirumah mertuanya.
"Baen..." Daniel malah yang hampiri istrinya.
"Aban... Baen kira Aban di kamar." Balen langsung lupa sama Ulan dan hampiri suaminya yang sedang duduk di meja makan.
"Aban makan apa?" tanya Balen.
"Puding, mau?" tanya Daniel, Balen anggukan kepalanya, langsung duduk disebelah Daniel pasang gaya minta disuapi.
"Suapi?" tanya Daniel menyendoki Puding dipiring, Balen anggukan kepalanya. Daniel mulai suapi istrinya, beneran Balen lupa dengan niatnya yang ingin hampiri Ulan.
"Aban, Markus telepon Aban ndak?" tanya Balen.
"Setiap hari." jawab Daniel sambil suapi Balen.
"Tanya Achara ndak?" kepo deh Balen.
"Tidak." jawab Daniel gelengkan kepalanya.
"Ndak cinta ya dia sama Achara, masa sudah menghilang hampir seminggu ndak cari sih, kasihan tahu teman Baen hamil, Markus mau enaknya aja nih." Balen jadi kesal sendiri.
"Achara juga enak kan?" tanya Daniel konyol.
"Aban ih..." Balen menepuk bahu suaminya sambil tertawa.
"Eh, malah mampir disini, bukannya hampiri Ulan." tegur Redi yang tadi kekamarnya dulu.
"Oh iya, Aban sudah bertemu Ulan?" tanya Balen.
"Sudah." jawab Daniel kembali suapi Balen.
"Ledi Dei, nanti ya, Baen makan Puding dulu." katanya pada Redi yang tertawa lihat kelakuan Balen.
"Baen..." tidak perlu hampiri Ulan ke taman, Mama dan Ulan yang hampiri Balen dan Daniel.
"Ulan, ini Puding." Balen langsung saja tunjuk Puding yang dimakannya.
"Iya itu Ulan yang bawa kok dari pesawat." jawab Ulan terkikik geli.
"Aban ndak bilang-bilang nih." salahkan Daniel yang cengengesan.
"Mama ndak makan Puding?" tanya Balen pada Mama.
"Cuma sedikit." Mama pura-pura merajuk.
"Aban nih, bukannya kasih Mama." kembali salahkan Daniel.
"Tapi yang makan banyakan kamu loh." jawab Daniel tertawa geli.
"Masa sih?" tidak percaya.
__ADS_1
"Abang baru makan satu sendok, selebihnya kamu saja." jawab Daniel.
"Ya ampun, Ulan sih bawanya cuma dikit." sekarang salahkan Ulan semua jadi tertawa dibuatnya.