
Hari kedua Redi di Jepang, kini ia bersiap ke Kyoto dengan gunakan kereta cepat. Coat untuk Ulan sudah Redi beli di Bandara, bahkan sudah Redi laundry saat di hotel, mirip dengan Coat yang Redi pakai saat ini, maksudnya agar bisa langsung Ulan pakai saat Redi tiba di apartment Ulan nanti.
"Sudah mau ke Kyoto?" tanya Balen yang selalu absen informasi dari Redi.
"Sudah sayang." jawab Redi seperti pacarnya Balen saja.
"Coatnya jangan sampai ketinggalan." pesan Balen.
"Iya Baweeen." jawabnya lagi.
"Ulan lagi kuliah, password Apartment Ulan sudah tahu belum?" tanya Balen pada Redi.
"Sudah, tadi Ulan sudah Kirim chat." jawab Redi.
"Dia pulang agak malam hari ini." kata Balen lagi.
"Iya nanti gue jemput." jawab Redi.
"Kamu gabut ya di California? telepon aku terus sih." dengus Redi.
"Ndak suka ya Baen telepon?" tanya Balen, Redi terbahak mendengarnya.
"Ledi, ingat ya. Ulan itu ndak suka didesak." Balen ingatkan Redi.
"Oke." Redi anggukan kepalanya.
"Ulan nurut sama Aban, kalau kesulitan minta Aban yang maju." pesan Balen lagi.
"Iya semalam sudah konsultasi sama Masanta." jawab Redi.
"Oh iya pempek yang dikulkas Ledi Dei Baen ambil lagi ya, Markus sama Achara ketagihan." pinta Balen pada Redi.
"Ih, gue sisakan sedikit." Redi setengah protes.
"Nanti biar mesra bikin pempek berdua Ulan, dia jago." kata Balen lagi terkikik geli.
"Dasar Baweeen. Sudah ya gue mau jalan nih."
"Semangat Ledi Dei, Baen doakan lancar."
"Baen... kalimat pertama bagaimana ya? Gue selama telepon Ulan tidak pernah rayu dia sih." Redi minta pendapat Balen, kelihatan nervous dia.
"Lah waktu itu bilang future wife bukannya rayuan?" Balen ingatkan Redi.
"Itu spontan, setelah itu kita tidak pernah bahas." jawab Redi jujur.
"Ledi Dei, Ledi Dei. Masa harus Baen ajari sih. Nanti kalau mau bahas aja mulai dari future wife itu, bilang Ledi ndak bercanda." Balen berikan saran.
"Oke." Redi ikuti saran Balen.
"Ya sudah sana jalan, take care Ledi Dei." Balen akhiri sambungan teleponnya dengan Redi.
"Sudah absennya?" tanya Daniel pada istrinya, ia sedang setir kendaraan menuju kantor, Balen akan bertemu Achara disana, selanjutnya seperti biasa, Balen dan Achara bikin kegiatan sendiri.
"Hehehe Ledi Dei bisa nervous juga Aban."
"Sudah terlihat jelas waktu dia peluk kamu dibandara." jawab Daniel.
__ADS_1
"Makanya Aban ndak marah ya?" tanya Balen pada suaminya.
"Yah, biasanya dia kalau nervous begitu peluk mama." jawab Daniel terkekeh.
"Kasihan Ledi Dei, Mamanya jauh."
"Makanya dia peluk Mama Baen." jawab Daniel bikin Balen terbahak.
"Aban senang ndak Baen hamilnya ndak rewel." Balen tersenyum pandangi suaminya.
"Senang tapi sedikit repot." jawab Daniel.
"Ih Aban repot apa sih?"
"Habiskan makanan yang kamu pesan selalu kebanyakan." jawab Daniel kesal tidak kesal.
"Bagaimana dong Aban, ini diluar kendali Baen." jawab Balen bingung.
"Nanti kita bisikkan sama baby supaya tidak bikin Mama lapar mata." jawab Daniel usap-usap perut Balen.
"Hari ini kamu mau kemana?" tanya Daniel.
"Temani Achara panjat tebing." jawab Balen.
"Tidak, kalian tidak boleh kesana. Kamu lagi hamil sayang." Daniel ingatkan Balen.
"Kasihan Achara, Aban." Balen membujuk suaminya.
"Kamu tahu Medan disana? belum pernah kesana kan? disana hanya untuk olah raga berat, nanti kalau sudah lahir anaknya Abang ajak kesana kamu." Daniel pasang wajah tidak ramah.
"Aban..." merengek minta diijinkan.
"Jadi Baen kemana dong?" tanyanya bingung.
"Ajak Achara ke San Francisco saja, banyak kuliner disana." Daniel naikkan alisnya, kalau tawarkan kuliner pasti istrinya tertarik.
"Banyak tempat disana yang bisa kamu kunjungi." kata Daniel lagi.
"Ih Aban nih, paling pintar." Balen menepuk bahu suaminya tergoda dengan destinasi yang Daniel tawarkan.
"Nanti Abang siapkan supir, kalian tidak usah menyetir." kata Daniel lagi.
"Iya." Balen senyum-senyum senang.
Tidak berapa lama Balen dan Daniel sudah tiba di kantor, di lobby sudah menunggu seorang pria yang langsung hampiri Daniel, saat Daniel keluar dari mobilnya.
"Nanti antarkan Istriku ke San Francisco, ajak ke tempat-tempat yang cocok untuk Ibu hamil, jangan lupa kuliner halal." pesan Daniel pada driver yang akan antar Balen dan Achara.
"Markus sudah datang?" tanya Daniel lagi. Pria itu anggukan kepalanya. Berarti Markus dan Achara ada di dalam. Daniel segera ajak Balen masuk ke kantornya.
"Kalian sudah sarapan?" sambut Achara pada Daniel dan Balen.
"Sudah dirumah." jawab Balen.
"Kami juga sudah di hotel." jawab Achara.
"Bertemu Adira?" tanya Balen. Achara gelengkan kepalanya, sudah beberapa hari di California tidak bertemu Adira, padahal mereka ada di hotel yang sama.
__ADS_1
"Achara, kalian jangan panjat tebing ya." pinta Daniel pada Achara.
"Kenapa? hanya aku yang panjat tebing kok, Balen tidak." Achara pandangi Daniel.
"Medan disana tidak cocok untuk orang hamil, aku khawatirkan keselamatan Istriku dan anakku." tegas Daniel pada Achara.
"Oh baiklah. Jadi kita kemana Balena?" tanya Achara pada Balen.
"San Francisco." jawab Balen nyengir.
"Shopping." langsung saja pikiran Achara shopping.
"Kuliner." jawab Markus cepat.
"Jangan pelit." Achara mendengus.
"Mau belanja apa?" tanya Daniel.
"Tidak tahu, siapa tahu disana banyak yang bisa dibeli." jawab Achara.
"Pasti banyak kalau tujuan kalian ke pusat perbelanjaan." jawab Markus terkekeh, keluarkan card Dari dompetnya serahkan pada Achara berikut berikan pin nya.
"Wow, perdana Markus berikan card pada wanita." Daniel terkekeh.
"Mulai jatuh cinta kah?" bisik Daniel pada Markus.
"Jangan ikut campur." tegas Markus pada sahabatnya. Sambil mesem-mesem Daniel merangkul sahabatnya.
"Achara, ayo." Balen tidak sabar.
"Kami pergi dulu." Achara mengecup mesra bibir Markus. Daniel malah lebih dulu memeluk istrinya dan ******* bibir Balen sesaat.
"Jangan capek-capek." bisik Daniel pada istrinya.
"Kalau capek Baen tidur." jawab Balen pada Daniel.
"Cepat pulang ya, jangan kebanyakan tempat yang dikunjungi. Ingat kami disini hanya sampai jam empat sore." Daniel ingatkan Balen.
"Iya Aban."
"Tidak mau kasih pesan untukku?" tanya Achara pada Markus.
"Jangan bertemu dengan pria lain." tegas Markus pada Achara.
"Wow Markus." Daniel tepukkan tangannya sambil terkekeh.
"Itu cemburu kan?" tanya Balen pada Daniel.
"Dia belum mengaku." jawab Daniel tertawa.
"Kapan mau mengaku?" tanya Balen.
"Kalian berdua ini benar-benar Kepo ya." desis Markus bikin Balen dan yang lainnya tertawa.
"Kalau cinta bilang cinta." Balen mencibir.
"Tidak ada cinta." tegas Markus.
__ADS_1
"Tidak cinta tapi tidak boleh ada pria lain." Balen terkekeh.
"Balena, memang tidak ada cinta." Achara terkekeh lalu lambaikan tangan pada Daniel dan Markus setelah menggandeng Balen keluar dari ruangan keduanya.