
Semua tamu sudah pulang, tinggal Redi bersama keluarga istrinya saat ini. Hati Redi sudah ingin keluar saja dari rumah Eyang, tapi bingung bagaimana caranya. Tari, Bagus dan Krisna sudah bersiap untuk pulang.
"Kalian tidak ikut kami?" tanya Tari melihat tidak ada pergerakan dari Redi dan Ulan.
"Biarkan mereka menginap disini." sahut Eyang cepat.
"Pak, mereka besok mau ke Korea loh, Redi dan Ulan harus bersiap, terlalu jauh mengejar ke Bandara kalau menginap disini." Tari seperti tahu isi kepala Redi, berusaha keras agar anak dan menantunya tidak ditahan Eyang. Bagus tidak ikut bersuara, biarkan Tari yang bicara, bagaimanapun Eyang kalau sudah ngambek susah dibujuk.
"Habis dari Korea langsung kembali Ke Jepang toh, Bapak masih kangen Ulan, Tari." keluh Eyang pada Tari, Ulan diam saja, pasrah bagaimana endingnya.
"Iya, Ulan cuma ijin seminggu, disini saja sudah berapa hari Pak." kata Tari memberi pengertian.
"Ya sudah, mau bagaimana lagi. Bereskan pakaian kalian, ikut pulang sama Papa dan Mama." akhirnya Eyang mengalah, Redi langsung gerak cepat ambil kopernya di bilik tempatnya hampir menginap.
"Semangat sekali kamu Redi." teriak Eyang bikin semua terbahak.
"Eyang, kalau Ulan sudah kembali ke Indonesia, In Syaa Allah menginap disini sama Mas Redi." kata Ulan pada Eyangnya.
"Kamu janji loh ya, cucu Eyang yang sayang sama Eyang cuma kamu sama Krisna, Mas mu sudah seperti tamu saja, datang sebentar terus pulang. Mana pernah menginap." kembali kesal pada Nanta.
"Nanta kembali Ke Jakarta malam ini Pak, besok sudah harus ke kantor." Tari berikan pengertian pada Bapaknya.
"Nanti Tari sampaikan biar Nanta cari waktu supaya bisa menginap disini." kata Tari lagi.
"Ndak usah, harusnya dia inisiatif sendiri tanpa disuruh." gerutu Eyang.
"Sudah sih Pak, salahkan Nanta terus. Itu yang bikin cucu kita menjauh, setiap kesini ada saja yang Bapak protes." Eyang Putri ikut bersuara.
"Ya kalau memang salah harus dikasih tahu toh." Eyang mulai naik satu oktaf.
"Sudah Redi?" tanya Bagus saat melihat Redi sudah kembali bergabung.
"Sudah Pa." jawab Redi tersenyum pada mertuanya.
"Pak kami pamit, kapan Bapak sama Ibu menginap di rumah?" tanya Bagus pada mertuanya.
"Nanti Bapak atur waktu, banyak kegiatan warga yang harus Bapak hadiri." jawab Eyang.
"Kabari kalau ada waktu luang, biar dijemput Krisna." kata Bagus tersenyum manis, bikin mertuanya meleleh. Menantu kesayangannya yang tidak pernah ikut mendebat Eyang. Kenan pun tidak pernah, tapi dia bikin ulah sampai Tari minta pisah, untung dapat gantinya lebih baik, batin Eyang tersenyum bahagia.
"Redi, jaga Ulan ya. Jaga kelakuan kamu jangan seperti bapaknya Nanta dulu." Eyang ingatkan Redi.
"Bapak, ngomong apa sih? Dulu itu cuma Salah paham Pak, jangan diungkit lagi." protes Eyang Putri pada Eyang.
"Kamu ini bela Kenan terus." dengus Eyang kesal.
"Iya Eyang, in syaa Allah Redi akan jaga Ulan seperti yang Eyang minta." jawab Redi cepat supaya keributan tidak berlanjut.
"Maklumi Eyang ya Redi, tambah tua tambah overthinking." kata Tari setelah mereka sudah berada di Mobil.
"Iya Ma." Redi nyengir saja.
"Bapak tuh dulu bangga betul punya menantu Mas Kenan, eh ternyata jodohnya cuma sebentar sama kamu, sayang. Jadi dia kecewa." Kata Bagus yang fokus menyetir.
"Sama kamu juga bangga kok." kata Tari apa adanya.
__ADS_1
"Iya cuma dia seperti masih ada ganjalan ya."
"Iya, mungkin tidak terima aku sempat menjanda." Tari tertawa.
"Begitu lah Redi, namanya rumah tangga ya, kalau tidak ada yang mengalah pasti ujungnya pisah." kata Tari pada Redi.
"Paling enak sih yang seiring sejalan, tapi sepanjang perjalanan pasti ada saja godaan." kata Bagus disambut anggukan Tari.
"Mama dan Papa pernah tergoda?" tanya Krisna ingin tahu.
"Yang menggoda Papamu sih banyak." jawab Tari.
"Papa tidak tergoda kan?" tanya Krisna khawatir.
"Kalau tergoda bagaimana?" tanya Bagus tersenyum.
"Aku minta maaf sebelumnya, aku pasti hajar Papa kalau Papa kecewakan Mama." jawab Krisna bikin semua tertawa.
"Durhaka kamu." kata Bagus tertawa.
"Kan aku sudah minta maaf sebelumnya." jawab Krisna.
"Alhamdulillah Papamu setia." jawab Tari tersenyum.
"Bukan cuma kamu yang bakal hajar Papa, Kisna. Mas Nanta, Bima, Aca sudah pasti ikut hajar Papa kalau Papa nakal. Jangan sampai deh dimusuhi anak cucu." Bagus bergidik ngeri.
"Jadi Papa tidak tergoda karena jagoan Mama banyak ya?" tanya Ulan terkekeh.
"Karena Papa sayang Mama dan kalian semua." jawab Bagus bikin Tari yang duduk di penumpang depan mengusap pipi suaminya.
"Kalian mau di drop di hotel mana?" tanya Bagus melihat Ulan dan Redi Dari kaca spion.
"Wah aku belum tanya Lucky, Pa." Redi ternyata belum komunikasikan dengan Lucky.
"Baen dimana?" tanya Tari pada Ulan.
"Ndak tahu, Ulan juga belum telepon." Ulan terkekeh.
"Jadi bagaimana?" tanya Bagus.
"Turunkan di hotel yang paling mahal saja, Pa." celutuk Krisna bikin Redi tertawa.
"Memang dimana hotel paling mahal?" tanya Redi masih tertawa.
"Kalau belum ada hotelnya menginap di rumah saja." kata Tari.
"Papa turunkan di hotel A saja ya, kalian pesan kamar bisa on the spot." kata Bagus ikuti saran Krisna.
"Punya uang kan Mas Redi?" tanya Krisna polos.
"Buat apa?" tanya Redi.
"Buat bayar hotelnya." jawab Krisna, seiisi Mobil terbahak dibuatnya.
"Kamu saja yang bayari hotel deh." Bagus bercandai Krisna.
__ADS_1
"Boleh, hadiah pernikahan Kak Ulan ya. Aku bisa kok bayari kalau hanya satu malam." jawab Krisna tulus ingin bayari hotel untuk Kakaknya.
"Hahaha terima kasih Krisna, tapi tidak usah. Ini Lucky sudah pesankan kamar untuk kami, benar Pa mereka menginap di hotel A." kata Redi tunjukkan pesan yang dikirim Lucky.
"Wah Bagus betul kamarnya." Krisna terkagum-kagum lihat foto yang dikirim Lucky pada Redi.
"Kamu mau ikut menginap di hotel?" tanya Redi pada adik Iparnya.
"Tidak usah, lain kali saja." Krisna langsung gelengkan kepalanya.
"Jadi kapan kalian ke Korea?" tanya Bagus pada Redi dan Ulan, tadi asal bilang saja mereka berangkat besok.
"Nah belum tahu Ma, semua yang urus Baen." jawab Redi.
"Baen ada dihotel itu juga?" tanya Tari.
"Iya, Richie sama istrinya juga." jawab Redi.
"Sudah kumpul semua di hotel rupanya." Tari terkekeh.
"Nanti kalau sudah tahu kapan berangkat Ulan kabari Mama." Ulan buka suara.
"Tadi sih aku dengar berangkatnya besok tengah malam." kata Krisna.
"Ulan bolosnya kelamaan ini." Ulan langsung ingat kuliahnya.
"Koordinasikan sama pihak kampus, dek." kata Redi pada Ulan.
"Iya nanti Ulan coba Kirim email deh. Kita berapa hari sih di Korea?" tanya Ulan.
"Kamu dapat liburnya berapa hari? kalau cuma bisa dua hari di Korea ya segitu saja, biarkan yang lain lanjut, kita kembali Ke Jepang." kata Redi kasih solusi.
"Benar itu yang suami kamu bilang." kata Bagus tersenyum.
"Walah sudah punya suami ya Kak Ulan, seperti mimpi." celutuk Krisna bikin Redi cengar-cengir, niat awalnya minta restu malah langsung disuruh menikah.
"Alhamdulillah." jawab Redi tersenyum.
"Selamat honeymoon ya. Kalau berangkatnya besok malam, siang bisa bertemu kan kita. Makan siang bersama, Papa masih kangen kalian." kata Bagus pada anak menantunya. Pinggirkan kendaraannya di lobby hotel.
"Iya Papa nanti Ulan kabari." jawab Ulan sebelum turun dari Mobil.
"I'm gonna miss you Kak Ulan." Krisna mencium pipi Kakaknya.
"Nanti liburan ke Jepang ya, ditunggu." kata Redi pada Krisna.
"Iya aku nabung dulu." jawab Krisna.
"Kabari saja." Redi menepuk bahu Krisna.
"Sok nabung-nabung, biasanya juga minta Papa sama Masanta." Ulan tertawa.
"Sekarang nambah ya minta Kak Ulan." Krisna terkekeh.
"Ulan belum kerja." jawab Ulan nyengir.
__ADS_1
"Dari jatah suami kan bisa." bisik Krisna tapi terdengar, Redi jadi cengengesan.