Because I Love You

Because I Love You
Manja


__ADS_3

"Abaaan sini deh." panggil Balen dari dalam toilet kamarnya, pagi-pagi sekali kamarnya sudah diketuk oleh C's , ia sudah di paksa ketiga jagoannya untuk segera gunakan testpack, padahal Balen lagi posisi nyaman tidur dalam pelukan Daniel. Setelah mereka selesai latihan berenang, kembali datangi Balen ke kamar.


"Sebentar." jawab Daniel yang asik bercengkrama dengan Chandra, Charlie dan Cadi.


"Abaaan..." rengek Balen lagi, karena Daniel tidak bergerak cepat.


"Mam tuh manja sekali." Cadi terkekeh.


"Seperti kamu." sahut Charlie.


"Aku kan masih kecil, kalau Mam tuh sudah besar, tapi selalu manja sama Pap." jawab Cadi, Daniel tertawa dibuatnya.


"Tapi kamu juga manja kok Cayi." kata Cadi tidak mau hanya dia yang dibilang manja seperti Mam. Charlie julurkan lidahnya pada Cadi, sedang Daniel sibuk bersama Chandra.


"Abaaan, cepat sini." teriak Balen lagi.


"Wait Mam, Sweater Pap tersangkut kancing baju Chandra." Cadi laporkan aktifitas Papanya.


"Huhu lama deh." Balen merengut dan keluar dari kamar mandi, lihat suaminya kasak-kusuk bersama Chandra, kedua kembar beda generasi itu tertawa bersama.


"Mana hasilnya Mam? berapa garis?" tanya Cadi semangat, ia sudah diberitahu Papanya kalau Mama positif hamil maka akan muncul dua garis pada testpack.


"Tidak tahu, makanya Mama mau tanya Papa." jawab Balen.


"Masa Mam tidak tahu, sini aku yang lihat." katanya sok tahu. Balen tertawa serahkan testpack pada Cadi.


"Yes Paaaaap, aku akan punya adik." katanya beritahukan Daniel setelah melihat testpack ditangannya sambil melompat-lompat kesenangan, Charlie langsung hampiri Cadi meminta alat ditangan adiknya itu, sementara Daniel dan Chandra tidak berdaya, masih sibuk dengan kancing baju.


"Sayang? apa iya?" tanya Daniel mulai tidak konsentrasi.


"Samar Aban, hasilnya ndak jelas." jawab Balen hampiri Daniel dan Chandra ikut membantu keduanya terlepas dari jeratan.


"Mam, itu garis dua loh." Charlie beritahukan Balen.


"Mana, coba Papa lihat." pinta Daniel pada Charlie. Ia segera hampiri Papanya lalu berikan testpack pada Daniel. Senyum Daniel langsung mengembang seketika.


"Apanya yang samar?" tanya Daniel tertawa senang.


"Pap looks happy, Mam." kata Chandra ikut tersenyum lebar.


"Yeay akhirnya aku jadi Abang." kata Cadi kembali melompat senang. Lalu memeluk Papanya.


"Yang hamil Mama, yang di peluk Papa." Balen gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Lemme hug you Mam." kata Chandra yang sudah terbebas kancing bajunya lalu memeluk Mamanya.


"Kamu mau tambah adik lagi sayang, kalau laki-laki lagi bagaimana?" tanya Balen pada si sulung yang paling kalem diantara dua adiknya.


"It's Oke Mam, it doesn't matter if they're male or female."


"They?" Daniel kerutkan alisnya.


"I hope they are twins." jawab Chandra. Daniel dan Balen tersenyum sambil pandang-pandangan.


"Harus di program ya Aban?" tanya Balen.


"Sepertinya sudah terlambat, seharusnya dari awal ya. Kita berdoa saja Chand." kata Daniel mengusap bahu Chandra dan ikut memeluk Balen sambil mengecup pucuk kepala istrinya berulang kali.


"Besok kita ke dokter kandungan ya, hari ini tutup kan?" Daniel memastikan.


"Iya, ada sih mantan pacarnya Om Micko." Balen terkekeh.


"Jangan cari masalah sayang, Mertua Kia nanti ribut gara-gara kamu." Daniel mengetuk dahi istrinya yang tertawa jahil.


"Paaap, aku tidak bisa bernafas." teriak Chandra yang rupanya terjepit diantar Balen dan Daniel, bikin semuanya tertawakan Chandra.


"Nanti kalau adiknya kembar, berarti keluar dua ya?" tanya Cadi.


"Iya." jawab Chandra mantap.


"Kenapa tidak kebagian?" tanya Daniel nyengir, ingin tahu apa yang ada dalam pikiran Cadi.


"Waktu Cayi lahir kan dia jadi adiknya Chandra, terus aku lahir jadi adiknya Cayi, nah kalau dapat dua lagi Chandra sama Cayi rela tidak aku punya dua adik? aku sih mau saja kasih satu, tapi kan tetap tidak adil." jawabnya bikin Chandra tertawa geli.


"Dasar anak kecil." Chandra masih tertawa.


"Chandra kamu tuh hanya sedikit lebih besar dari aku loh, bilang aku anak kecil lagi." sungutnya.


"Tetap saja kamu lahir kamu jadi adikku juga, adikku dua, Cayi adiknya satu, tidak masalah selama ini karena Cayi punya Abang dan juga adik." Chandra menjelaskan.


"Oh Begitu, jadi nanti aku yang menang loh, adikku dua abangku juga dua." kata Cadi sambil goyang-goyangkan kepalanya tengil.


"Iya tidak apa abangku satu adikku tiga nantinya." jawab Charlie tersenyum.


"Yah Chandra kamu tidak punya Abang dong, masa semuanya adik." kata Cadi bikin semua kembali tertawa.


"Abangnya Chandra banyak kok, tuh Abang Billian, Abang Bima, Abang Aca, ada Abang Shaka dan Abang Bari juga, malah kemarin main sama Abang Ben kan." kata Balen pada Cadi.

__ADS_1


"Oh itu juga dihitung? aku pikir yang dari perut Mam saja." jawab Cadi mulai tenang tidak khawatirkan Chandra yang tidak punya Abang.


"Boys ayo sarapan, Opon sama Oma Mita menunggu." kata Daniel yang teringat kalau Opa Baron sama Oma Mita menunggu untuk sarapan bersama. Mereka berlima pun keluar bersama menuju meja makan.


"Lama sekali, Opon jadi makan duluan deh." kata Opa Baron menyambut cucu dan cicitnya.


"Ah Opon tidak setia kawan." celutuk Cadi bikin Oma Mita terkikik geli.


"Kawannya siapa?" tanya Balen ikut terkikik geli.


"Oh iya bukan kawan, Opon tidak setia Opon nih." kata Cadi benarkan kalimatnya.


"Cadi tidak jelas." gerutu Charlie gelengkan kepalanya.


"Maaam, Cayi selalu saja begitu deh sama aku, padahal aku adiknya." mengadu pada Mama.


"Sudah jangan ribut, kita mau kabarkan berita penting pada Opon dan Oma kan?" kata Balen pada Cadi juga Charlie.


"Mam, aku yang sampaikan ya?" ijin Chandra pada Mamanya, kemudian memandang Papanya juga minta persetujuan.


"Boleh." jawab Daniel ambil posisi segera duduk di meja makan, yang lain mengikuti.


"Apa berita pentingnya?" tanya Opa Baron penasaran.


"Opon, sepertinya Opon dan Oma Mita harus tinggal lebih lama lagi di Jakarta." kata Cadi senyum lebar.


"Cadi, silent." ketus Charlie, Cadi monyongkan bibirnya lalu pandangi Chandra.


"Kenapa Opon dan Oma Mita harus lebih lama di Jakarta?" tanya Opa Baron pada Cadi yang tunjukkan tangannya pada Chandra, biarkan Chandra yang bicara.


"Karena Mam hamil." jawab Chandra tersenyum kalem.


"Wah tambah cicit lagi Opon?" Opa Baron langsung saja menarik Balen yang duduk agak jauh darinya, kursi yang Balen duduki untung saja terbuat dari hati jadi tidak ikut bergerak hanya badan Balen saja yang bergerak mendekati Opa Baron. Kemudia Opa mengecup dahi cucu kesayangannya itu.


"Tidak usah urus hotel, kamu tidak boleh capek." kata Opa Baron kemudian.


"Ih Opa, Baen sanggup kok." jawab Balen, baru juga berapa minggu menekuni hotel sudah disuruh berhenti saja sama Opa.


"Daniel, bilang istrimu supaya tidak setiap hari ke kantor, dia pasti akan alami morning sick." kata Opa Baron abaikan Balen.


"Iya Opa, biasanya sih gatal-gatalnya kumat kalau lagi hamil, semoga kali ini tidak." Daniel berharap istrinya bisa hamil dengan bahagia tanpa ada keluhan yang membuat istrinya susah.


"Opon, tenang deh, di hotel Baen santai kok, Aca sama Bari yang urus semuanya, Baen sama Kia ndak terlalu sibuk, banyakan ngobrolnya." jawab Balen tenangkan Opin.

__ADS_1


"Daniel..." Opon kerutkan keningnya samb gelengkan kepala, tidak mau berdebat dengan Balen tapi tidak ijinkan Balen kelelahan juga


"Nanti Daniel bantu awasi hotelnya Opon." jawab Daniel bikin Opa Baron tenang Dan anggukan kepalanya, biar saja Daniel yang urus hotel istrinya, begitu pikir Opa Baron.


__ADS_2