
Setelah membuat teh hangat untuk ibu mertuaku, aku pun bergegas membawanya menuju kamar tamu. Di sana kulihat Karmila tengah merapikan dirinya di depan meja rias.
"Kamu pulang pagi ini 'kan?" tanyaku.
"Mbak Zura ini ngusir apa gimana sih? Rumah ini milik mas Fabian. Mbak gak punya hak apapun untuk mengusirku," ucapnya . Pandangannya sama sekali tak beralih dari cermin. Sepintas aku melirik produk skincare yang baru saja dioleskan di wajahnya. Aku tahu, harga skincare itu cukup mahal di pasaran. Kalau Mila sekarang menjanda dan tidak memiliki pekerjaan, dari mana dia mendapatkan uang untuk membelinya? Apa jangan-jangan mas Fabian juga memberinya uang tanpa sepengetahuanku?
Semenjak aku memutuskan berhenti dari pekerjaanku, uang yang kumiliki sepenuhnya berasal dari mas Fabian. Meskipun kini gaji dari posisinya sebagai manager marketing cukup besar, tidak membuatku menjadi boros. Aku bahkan menabung tanpa sepengetahuannya.
"Bagus juga skincare kamu," sindirku yang sontak membuat Mila kebingungan. Dia pun lekas memasukkan krim wajah itu ke dalam tas miliknya.
"Ibu mau sarapan apa?" tanyaku pada ibu mertuaku.
"Bubur saja, Nduk," jawabnya. Aku mengangguk paham dan keluar dari kamar setelahnya.
Aku keluar dari kamar tamu dan berpapasan dengan mas Fabian yang baru keluar dari ruang makan.
"Mila pulang pagi ini 'kan?" tanyaku.
"Ya. Sekalian mas jemput mbok Jum di rumahnya. Kenapa? Kamu gak suka Mila berlama-lama di rumah kita?"
Tentu saja aku tidak suka. Jika boleh memilih, aku tidak ingin mas Fabian bertemu dengan Karmila jika akhirnya harus membuat hubungan kami memburuk.
"Mila kan bisa naik taksi. Mas nggak harus nganterin dia."
"Mana bisa begitu. Aku sudah dijemput, aku juga harus diantar," protes Mila yang tiba-tiba saja muncul di hadapan kami.
"Itu aturan yang kamu buat sendiri. Lagipula mas Fabian harus menjemput mbok Jum yang rumahnya cukup jauh. Kalau masih harus mengantar kamu, dia akan terlambat sampai di kantor," ujarku.
"Zura benar, kamu pulang naik taksi saja ya. Biar aku yang bayar ongkos taksi nya," ucap Mas Fabian.
Baru ongkos taksi yang jumlahnya mungkin tidak lebih dari 50 ribu saja aku merasa keberatan. Apalagi jika nanti aku hanya akan mendapatkan separuh dari nafkah yang selama ini diberikan mas Fabian padaku? Ya Allah. Apakah aku memang tidak siap untuk dimadu?
"Nggak usah! Aku masih punya uang untuk membayar taksi!"
Jangankan berpamitan ataupun mengucap salam, Karmila justru berlalu begitu saja dari hadapan kami.
"Mas jemput mbok Jum dulu," ucap mas Fabian sesaat setelah Mila meninggalkan rumah kami.
"Hati-hati, Mas," ucapku sembari mengecup punggung tangannya.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Mas Fabian melangkah keluar dari rumah dan menuju mobilnya yang berada di halaman. Dalam hati aku berharap mas Fabian hanya pergi untuk menjemput mbok Jum, bukan mengantar Mila ke rumahnya seperti yang permintaannya tadi.
Aku beranjak dari ruang tamu. Kulangkahkan kakiku menuju dapur untuk membuat bubur bagi ibu. Namun langkahku terhenti saat melintasi meja makan. Kulihat sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat masih utuh di sana.
Aku kecewa, mas Fabian tidak memakan sarapan buatanku.
__ADS_1
Akupun menutup makanan itu dengan tudung saji. Mungkin saja mas Fabian akan memakannya sepulang menjemput mbok Jum nanti.
Setelah membuat bubur untuk ibu dan menyuapi beliau, aku pun kembali ke dalam kamarku. Aku terperanjat saat mendapati Lyra sudah berada di tepi ranjang. Astaghfirullah! Putriku baru berusia dua bulan. Mana mungkin bayi seusianya bisa berpindah posisi begini kecuali ada seseorang yang dengan sengaja memindahkannya? Jangan-jangan…
Aku menepis sendiri pikiran buruk yang tiba-tiba melintas di kepalaku. Lagipula menuduh tanpa bukti sama dengan fitnah. Kalimat itu seringkali kudengar dari mas Fabian.
Kuusap lembut pipi kemerahan Lyra. Rupanya ini membuatnya terbangun.
Aku tersenyum saat tubuh kecil itu menggeliat hingga membuat wajahnya semakin terlihat memerah. Sungguh menggemaskan.
"Assalamu'alaikum, Solehah nya ibu," sapaku. Seperti biasanya, Lyra akan terkekeh saat disapa.
Aku memangku Lyra lantas menyusuinya.
Kuarahkan pandanganku pada jam dinding yang menempel di dinding kamarku. Hampir pukul setengah delapan. Tapi kenapa mas Fabian tak kunjung datang? Apa jangan-jangan mas Fabian tidak menjemput mbok Jum? Tapi malah mengantar Mila pulang ke rumahnya?
Mas Fabian, kenapa kamu membuatku selalu berpikiran buruk begini?
Setelah menyusui Lyra, aku pun berniat memandikannya.
"Ibu masak air panas dulu ya, Nak."
Aku membaringkan tubuh mungil itu di atas ranjang. Tak lupa kuletakkan dua bantal guling di kedua sisinya sebelum aku beranjak dari kamarku.
"Brukk!!"
Aku kaget bukan main saat kudengar suara mirip benda jatuh yang berasal dari kamar ibu mertuaku.
Aku bergegas meninggalkan kamarku dan menuju kamar tamu. Jantungku berdegup kencang saat kulihat ibu berada di lantai dengan posisi terlentang. Aku lekas menghampirinya dan mencoba membantunya berdiri lalu membaringkannya kembali di atas ranjang.
"Kenapa Ibu bisa jatuh? Jika Ibu memerlukan sesuatu, Ibu hanya perlu memanggilku," ucapku sembari memijit punggungnya.
Ibu tak menjawab.
"Ibu mau ke toilet?" tanyaku.
Lagi-lagi ibu hanya diam.
"Kenapa Ibu diam saja?"
Aku memandang wajah yang telah mulai keriput itu. Ibu terlihat ingin mengatakan sesuatu padaku namun tampaknya begitu sulit. Aku paham sekarang, ibu bukan tidak mau menanggapi ucapanku. Tapi beliau kesulitan berbicara.
Kutatap lekat mata teduh itu. Ada buliran yang mulai menetes dari sana. Ya, ini adalah tangisan pertama setelah kepergian ayah mertuaku sembilan tahun silam.
"Ibu jangan menangis, Zura akan selalu merawat Ibu," ucapku sembari meraih tangan kasar itu lalu menggenggamnya.
Meski tak bersuara, aku bisa menangkap ucapan terima kasih dari sorot matanya.
Aku pun merengkuh tubuh ibu mertuaku ke dalam pelukanku. Sungguh, meskipun hanya sebagai ibu mertuaku, aku menyayanginya seperti ibu kandungku sendiri.
__ADS_1
"Zura ke dapur dulu, Bu. Mau memasak air untuk memandikan Lyra," ucapku. Beliau mengangguk paham.
Setelah selesai memandikan Lyra, aku pun lantas memakaikannya dengan gaun cantik berwarna jingga.
"Putri ibu cantik sekali," ucapnya. Aku pun menciuminya dengan gemas hingga membuatnya terkekeh geli.
Entah mengapa tiba-tiba aku merasa kedinginan bahkan nyaris menggigil. Aku mematikan AC kamar dan menyelimuti tubuhku dengan selimut. Beruntung Lyra tak rewel. Dia begitu asyik dengan mainan yang sengaja kugantung di atas tempat tidurnya.
Apa yang terjadi denganku? Apa aku baik-baik saja? Saat ini aku benar-benar menggigil. Rasa mual dan ingin muntah itu pun lagi-lagi datang menyerangku.
"Tok! Tok! Tok!"
Meskipun sedang kurang enak badan, aku tak mungkin mengabaikan saat seseorang mengetuk pintu depan rumahku.
"Ibu keluar sebentar ya, Sayang."
Aku menyibakkan selimutku dan beranjak dari kamar. Lekas kuhampiri pintu depan itu. Aku cukup kaget dengan tamuku pagi itu.
"Assalamu'alaikum, Mbak Azzura," sapanya.
"Waalaikumsalam. Maaf Ibu siapa ya?" tanyaku.
"Perkenalkan, nama saya Darmi. Mbak bisa memanggil saya mbok Darmi."
Aku mengamati penampilan mbok Darmi. Dia mengenakan kebaya dan kai jarik. Jika dilihat dari wajahnya, usianya tidak terpaut jauh dari ibunya mas Fabian.
"Tadi nak Bian yang mendatangi rumah saya. Nak Bian meminta saya untuk memijit ibu Kinanti. Katanya kemarin terjatuh dan punggungnya sakit."
Seingatku tadi mas Fabian menyebut nama tukang pijit nya mbok Jum. Kenapa yang datang ke sini namanya mbok Darmi?
"Jadi, tadi mas Fabian ke rumah Mbok Darmi?" tanyaku.
"Benar, Mbak. Mas Fabian sempat bertanya di mana rumah mbok Jum. Tapi beliau sudah meninggal setahun yang lalu. Saya adiknya yang menggantikannya. Tadi nak Fabian yang memberikan alamat rumah ini pada saya," jelas mbok Darmi. Aku mengangguk paham.
"Perempuan yang tadi bersama nak Bian siapa ya Mbak? Apa dia adiknya? Kok kelihatannya dekat sekali.
Perempuan? Apa dia Karmila? Apa mas Fabian membohongiku lagi?
Bersambung….
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏
Happy reading….
__ADS_1