Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Pertemuan terakhir


__ADS_3

"Lepaskan mas Darren!" 


"Bagus, kalau anda datang ke sini. Anda akan melihat drama paling manis yang mungkin belum pernah anda lihat seumur hidup anda," ucap Widya sementara pisau lipat itu masih tak berpindah dari bagian samping perutnya.


"Kamu sudah gila, Widya!"


"Ya, saya gila karena suami anda, Ibu Fatimah.


"Jadi, apa maumu sekarang?" tanya Fatimah.


"Berikan suami anda untuk saya, maka saya tidak akan mengganggu putri kalian lagi."


"Saya tidak akan akan memenuhi permintaanmu yang tidak masuk akal itu!" tegas Darren.


"Bapak tinggal pilih, nikahi saya atau kita mati bersama," ucap Darren.


"Sampai kapanpun saya tidak akan mau menikahimu!"


"Maaf, Pak. Bapak memaksa saya untuk melakukan ini." Widya mengangkat pisau lipat itu dan bersiap menancapkannya di bagian perut Darren.


"Mas, Awas!" pekik Fatimah sembari berlari mendekati suaminya itu. Ia pun lantas mendorong tubuh Widya hingga membuat pisau lipatnya terlempar ke tanah. 


"Pergi sekarang juga atau kupanggil polisi!" ancam Darren.


"Saya mencintai Pak Darren, menikah lah dengan saya, kita akan hidup bahagia," ucap Widya.


"Dasar keras kepala! Suami saya tidak akan pernah mau menikah denganmu!" seru Fatimah.


"Jika anda tahu apa yang pernah terjadi di antara kami di masa lalu, apa anda masih mau menerima suami anda ini?"


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Apa Anda belum paham juga dengan maksud ucapan saya? Memangnya apa yang dilakukan dua orang dewasa ketika berduaan? Suami anda ini adalah pria pertama yang menikmati keperawanan saya."


"Aku minta maaf, aku benar-benar khilaf," ujar Darren.


"Anda masih punya harga diri 'bukan? Apa anda masih mau menerima suami yang pernah "tidur" dengan perempuan lain di belakang anda?"


Fatimah mengulas senyum tipis.


"Saya sudah tahu kesalahan mas Darren di masa lalu, dan Insyaallah saya sudah memaafkannya," ujarnya.


"Sebelum saya memanggil polisi, cepat tinggalkan tempat ini!" Lagi-lagi Darren mengancam Widya.


"Saya bersumpah tidak akan membiarkan hidup kalian bertiga tenang dan bahagia!" ancam Widya. Dia lantas membalikkan badannya hendak meninggalkan tempat itu. Di saat itulah sebuah sepeda motor melaju kencang ke arahnya. Pengendara sepeda motor itu sempat menginjak rem, namun sia-sia. Jarak keduanya sudah terlalu dekat.


"Widya! Awas!" teriak Fatimah.


"Bruk!" 


"Ya Allah, Widya! Mas, kita bawa dia ke rumah sakit sekarang!" pekik Fatimah seraya mengangkat kepalanya lalu meletakkannya di atas pangkuannya. Ia sama sekali tak peduli pakaian gamis yang dikenakannya kini telah berlumuran darah.


"Astaghfirullahaldzim! Maaf, Bu. Saya benar-benar tidak sengaja. Tiba-tiba saja nona ini menyeberang. Saya sudah mencoba menghentikan laju sepeda motor saya tapi jarak kami sudah begitu dekat. Mari kita bawa nona ini ke rumah sakit, saya yang akan menanggung seluruh biaya pengobatannya," ungkap pengemudi sepeda motor.


Darren dengan dibantu pengemudi sepeda motor itu pun bergegas mengangkat tubuh Widya ke dalam mobilnya lalu membawanya ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit.


"Apa anda keluarga pasien?" tanya perawat sesaat setelah keluar dari ruang tindakan."


"Benar, Suster. Bagaimana keadaan pasien sekarang?"


Perawat itu menggeleng lemah.

__ADS_1


"Keadaan pasien tidak begitu baik. Luka di bagian belakang kepalanya begitu parah. Dia ingin berbicara dengan Bapak dan Ibu."


"Baik, Sus." Darreen menggandeng tangan Fatimah lalu mengajaknya masuk ke dalam ruang tindakan.


"Pak … Bu … sa-sa-ya minta ma-ma-af," lirih Widya. Suaranya terdengar begitu lemah.


"Kami sudah memaafkanmu, kamu pasti akan sembuh," ujar Fatimah.


"Saya su-dah- ja-hat, kenapa anda masih mau berbuat baik pada saya?" 


"Sama seperti halnya mas Darren yang pernah berbuat salah. Saya yakin kamu bisa berubah menjadi manusia yang lebih baik."


"Anda-perem-puan yang ba-ik. Pak Darren beruntung memiliki is-tri seperti an-da."


Tiba-tiba Widya menarik nafas panjang.


"Maafkan sa-sa-ya, Pak … Bu …"


Ia tak bergerak lagi.


"Ya Allah, Widya! Bangun!" pekik Fatimah.


"Maaf, Bu. Biar saya periksa," ucap perawat. Ia pun lantas memeriksa denyut nadi dan detak jantung Widya.


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un, pasien sudah tiada, Pak … Bu."


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un."


Fatimah membungkam mulutnya.


"Selamat jalan, Widya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu," batin Darren.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2