
Tiga hari kemudian.
Pak Daniel yang mengaku pengusaha ekspor pakaian terlihat kembali mendatangi konveksi Fabian.
"Produksi pakaian yang akan kita ekspor sudah siap, Pak," ucap Fabian.
"Bagus. Saya senang dengan totalitas kerja dari karyawan konveksi ini."
"Jadi, kapan pengiriman akan dilakukan, Pak?"
"Oh, tentu saja secepatnya. Setelah pembayaran selesai dilakukan, saya akan langsung menghubungi Bapak untuk mengirim sisa pembayarannya," ucap pak Daniel.
"Baik, saya percaya pada Bapak."
"Saya sudah menyiapkan cargo untuk membawa pakaian-pakaian itu ke pelabuhan. Nanti karyawan saya yang akan mengurusnya."
Sekitar satu jam kemudian persiapan pengiriman barang pun selesai.
"Saya akan menghubungi Bapak secepatnya. Senang bekerja sama dengan konveksi ini, selamat siang." Usai menjabat tangan Fabian, pak Daniel pun lantas meninggalkan tempat tersebut.
"Berapa perkiraan uang yang akan kita terima nanti?" tanya Fabian pada Nesya di dalam ruangannya.
"Tunggu sebentar."
Nesya terlihat mengambil kalkulator lalu menghitung angka-angka tertentu.
"Jika harga per pcs pakaian nya mencapai lima kali lipat dari harga negara kita, dan setelah dipotong pembagian keuntungan dengan pak Daniel, kurang lebih uang yang akan kita terima lebih dari 1 Milyar, Pak.
Fabian mengulas senyum tipis.
"Dengan uang itu aku bisa membuka konveksi cabang baru. Aku akan membuktikan jika aku bisa lebih suka dari kamu, Zura," ucapnya.
"Siapa Zura, Pak?" Nesya mengerutkan keningnya.
"Oh, bukan siapa-siapa."
"Oh ya, Pak. Sesekali ajak kami liburan dong. Kami 'kan juga jenuh setiap hari berkutat dengan pekerjaan di konveksi ini," rayu Nesya.
"Liburan ya? Ehm … boleh. Jika pembayaran sudah selesai dilakukan, kita semua akan liburan."
"Terima kasih, Pak. Bapak memang pengertian. Saya jadi makin sayang sama Bapak." Nesya hendak melingkarkan kedua tangannya di pinggang Fabian namun ia menahannya.
"Kalau mau peluk lihat-lihat tempat," ucapnya.
"Kemarin waktu saya sakit Bapak tidak memeluk saya sih," goda Nesya.
"Ya sudah, saya ke bagian produksi dulu."
Fabian berlalu dari hadapan Nesya lalu menuju ruang produksi.
Fabian mengumumkan rencana liburan pada seluruh karyawannya. Tentu saja kabar bahagia itu disambut suka cita oleh karyawan yang jumlahnya mencapai lima puluh orang. Namun, tidak dengan Benny.
"Kamu kenapa, Ben? Sepertinya kamu bersikap biasa saja dengan kabar yang barusan disampaikan pak Fabian," ucap Alya.
"Sebenarnya aku ragu dengan bisnis ini. Kamu tahu 'kan, banyak sekali kasus penipuan dengan modus kerjasama. Aku sudah mengingatkan pak Fabian agar berpikir ulang dengan bisnis ini. Tapi sepertinya beliau tergiur dengan keuntungan yang besar."
"Hmmmm … kamu benar juga sih, Ben. Di zaman sekarang kita harus lebih teliti dan berhati-hati dalam menjalin kerjasama dengan orang lain, apalagi jika kita belum mengenal betul siapa orang itu. Ya, kita berdo'a saja semoga orang yang mengajak kerjasama dengan konveksi ini benar-benar bisa dipercaya. Jika orang itu bermaksud tidak baik, kita juga yang akan terkena imbasnya," ungkap Alya.
"Semoga saja."
Jam istirahat tiba.
__ADS_1
"Bapak mau kemana?" tanya Nesya saat Fabian melintas di depan ruangannya.
"Mau makan siang di cafe."
"Loh, memangnya istri Bapak tidak menyiapkan bekal dari rumah?"
"Maureen sedang kesal sama saya."
"Kesal kenapa, Pak?"
"Dia meminta liburan ke pulau Dewata untuk merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke delapan, tapi saya menolak dengan alasan saya tidak bisa terlalu lama meninggalkan konveksi."
"Benar-benar istri yang egois. Lagipula liburan ke sana hanya menghabis-habiskan uang saja."
"Saya sudah mencoba memberi penjelasan, tapi dia justru marah dan mengacuhkan saya."
"Jadi istri kok keras kepala begitu. Kenapa nggak pisah saja sih, Pak? Sepertinya Bapak tertekan menjadi suaminya."
"Pisah? Siapa yang mau pisah?"
ucap seseorang yang tiba-tiba saja berdiri di belakang Fabian.
"I-I-bu?"
"Tadi ibu dengar karyawanmu ini menyebut kata pisah. Memangnya siapa yang mau pisah?"
"Oh, ti-ti-tidak kok, Bu. Mungkin Ibu salah dengar. Tumben sekali Ibu datang kesini."
"Ibu tahu Maureen sedang kesal sama kamu. Dia pasti malas menyiapkan bekal.
Jadi, Ibu datang ke sini membawa bekal untukmu," ucap bu Kinanti.
"Maaf, jadi merepotkan Ibu."
Tiba-tiba bu Kinanti mengamati wajah Nesya.
"Siapa namamu?" tanyanya.
"Nesya, Bu."
"Kamu sudah menikah?"
"Be-be-belum, Bu. Saya masih lajang."
"Kamu asli orang sini?"
"Bukan, Bu. Saya berasal dari Jawa tengah."
"Kamu cantik, badanmu bagus. Cocok sekali menjadi admin di sini."
"Terima kasih, Bu. Pak Fabian yang memilih saya untuk mengisi posisi ini."
"Oh ya? Pilihanmu tepat, Nak. Kamu tinggal di mana, Nes?"
"Di rumah kontrakan, Bu."
"Kamu sudah makan siang?"
"Be-be-belum, Bu. Tapi saya membawa bekal dari rumah."
Bu Kinanti yang mulai menyukai Nesya pun berjalan menghampiri mejanya.
__ADS_1
"Kamu bawa bekal apa?" tanyanya.
"Sederhana saja kok, Bu. Sayur tumis kacang dan perkedel kentang," jawab Nesya seraya membuka tutup kotak bekalnya.
"Sudah lama sekali saya tidak makan perkedel."
"Oh, jika Ibu mau, silahkan untuk Ibu saja."
Nesya menyodorkan kotak bekalnya pada bu Kinanti.
"Perkedel ini enak sekali. Kamu buat sendiri?"
"Ya, Bu. Saya selalu memasak sendiri bekal saya."
"Sudah cantik, pintar, pandai memasak pula. Seperti inilah seharusnya perempuan yang menjadi istri Bian. Tidak seperti si pembangkang dan keras kepala itu," gumam bu Kinanti.
"Kalau kamu tidak keberatan, hari Minggu nanti datang lah ke rumah saya. Kita masak bersama.
"Oh, ya, Bu. Tentu saja. Saya pasti datang," ucap gadis itu penuh semangat.
"Ya sudah, saya permisi dulu. Jangan lupa bekalnya dihabiskan, Nak," ucap bu Kinanti.
"Ya, Bu. Ibu hati-hati," ucap Fabian.
Sang ibu pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.
"Sepertinya ibunya Bapak juga kurang menyukai bu Maureen."
"Ya, begitu lah. Hampir setiap saat mereka berdebat."
"Mungkin beliau ingin mencari menantu baru." Nesya terkekeh.
"Ya sudah, saya ke ruangan saya dulu."
Beberapa saat kemudian Alya terlihat mendatangi ruangan Nesya.
"Yang barusan itu ibunya pak Fabian 'bukan?" tanyanya. Nesya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tumben sekali beliau ke sini."
"Istrinya pak Fabian lagi ngambek. Jadi malas nyiapin bekal makan siang. Bu Kinanti deh yang ngalah mengantar ke sini. Eh, kamu tahu nggak, Al? Bu Kinanti ngajak aku masak bareng di rumahnya loh, hari Minggu nanti."
"Kamu nggak mikir apa yang yang sudah aku katakan kemarin? Jangan bermain api kalau kamu takut terbakar."
"Bu Kinanti sendiri kok yang minta. Masa kutolak. Dengan memasak aku akan mengambil hatinya. Tidak lama lagi pak Fabian dan istrinya pasti berpisah."
"Kenapa kamu nggak paham juga sih, Nes. Apa yang kamu lakukan ini salah. Sebagai teman aku tidak ingin hal yang buruk menimpamu," ujar Alya.
"Lama-lama kamu ngeselin. Ini hidupku, kamu tidak usah ikut campur! Keluar dari ruanganku sekarang!" sentak Nesya.
"Keras kepala! Aku bicara begini karena aku peduli sama kamu, Nes."
"Keluar!" Nesya memaksa mendorong tubuh kawan baiknya itu lalu menutup pintu ruangannya.
"Aki tidak suka siapa pun ikut campur dalam hidupku!" gumamnya.
Bersambung …
Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰