Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Jatuh


__ADS_3

Fabian tiba di kantor polisi.


"Di mana penipu itu? Dia harus mengembalikan semua uangku!" serunya.


Kedatangannya yang tanpa mengucap salam atau permisi tentu saja membuat anggota kepolisian yang berada di ruangan itu geram.


"Maaf, Pak. Anda siapa, dan ada perlu apa? Anda sekarang berada di kantor polisi, jadi kami harap anda bisa menjaga ucapan dan tingkah laku anda," ucap salah satu polisi.


"Di mana penipu itu? Dia sudah menipu saya hingga konveksi saya merugi hingga milyaran rupiah!" seru Fabian sembari menggebrak meja.


"Jika sikap anda terus begini, lebih baik anda tinggalkan tempat ini!" Pria berseragam itu meninggikan suaranya.


Fabian mengatur nafasnya yang sempat tak beraturan.


"OK, saya minta maaf, saya terbawa emosi. Nama saya Fabian. Saya adalah salah satu dari korban penipuan manusia bernama Daniel itu. Dia menjanjikan keuntungan yang besar bagi konveksi saya, tapi dia menghindar dan saya kesulitan menghubunginya," papar Fabian.


"Baiklah. Tersangka berinisial D kini dalam proses penyidikan. Ia harus ditahan selama dua puluh hari ke depan sebelum menjalani proses persidangan."


"Apa saya boleh menemuinya, Pak?"


"Asalkan anda berjanji jangan membuat keributan."


"Baik, saya berjanji tidak akan membuat keributan."


"Mari ikut saya ke sel tahanan."


Polisi bernama Dirga itu pun lantas beranjak meninggalkan ruang depan dan menuju sel tahanan, Fabian di belakangnya mengekor.

__ADS_1


"Saudara Daniel, ada kunjungan untuk anda," ucap polisi.


Pria bernama Daniel itu pun beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Fabian yang kini berdiri di depan pintu jaruji besi.


"Keparaat! Bajingaan! Kembalikan uangku!" sentaknya.


Bukannya takut, pria yang kini mengenakan baju tahanan itu justru tertawa lepas.


"Kamu lihat sendiri 'bukan? Saya berada di dalam sel tahanan. Saya juga sama sekali tidak memegang uang. Bagaimana saya bisa mengembalikan uangmu," ucapnya enteng.


"Brengseeek!" Fabian menatap tajam mata Daniel itu lalu meletakkan salah satu tangannya di lehernya.


"Kembalikan uangku!"


"Uhuk! Uhuk!" Daniel mulai kesulitan bernafas lantaran Fabian yang tengah dikuasai amarah itu semakin erat mencengkeram leher Daniel.


"Ma-ma-af, Pak. Saya kesal dengan manusia penipu ini. Maaf, apakah uang saya yang jumlahnya milyaran rupiah itu bisa kembali?"


"Maaf, Pak. Saya tidak memiliki kapasitas untuk membicarakan hal tersebut. Perihal uang ataupun ganti rugi, anda akan mendapatkan jawabannya saat persidangan nanti."


"Saya harus menunggu dua puluh hari lagi, begitu?"


"Benar, Pak."


"Saya pastikan uangmu tidak akan pernah kembali. Ha ha ha ha!" Lagi-lagi Daniel tertawa lepas.


"Bangsaaaat! Penipu! Semoga kamu mati membusuk di dalam penjara!" seru Fabian.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Demi ketenangan tahanan lain, sebaiknya anda tinggalkan tempat ini sekarang," ucap polisi.


Fabian meninggalkan kantor polisi dengan langkah gontai.


"Seandainya aku mau mendengar kata-kata Benny, semua ini tidak akan terjadi," gumamnya.


"Astaga. Bapak baik-baik saja?" Tiba-tiba saja Nesya muncul. Setelah mendengar penjelasan Benny perihal peristiwa ini, ia yang baru tiba di konveksi pun bergegas menyusul Fabian ke kantor polisi.


"Semuanya hilang. Uangku Milyaran hilang! Aku jatuh miskin! Fabian pengusaha ternama jatuh miskin. Hu … hu …hu …Tidak! Aku tidak boleh miskin! Aku orang paling kaya! Aku lebih hebat dari Azzura! Ha … ha … ha!"


"Uang! Itu uangku 'bukan?" Tiba-tiba saja Fabian berlari mendekati tong sampah yang berisi penuh daun kering. Ia lantas meraupnya.


"Ini uangku! Ini uangku!"


Nesya hanya bisa terduduk lesu memandangi pria yang begitu dikaguminya itu tak berhenti memungut daun kering dari tong sampah sambil terus menyebut benda itu sebagai uang miliknya.


"Kenapa Bapak jadi begini?" ucapnya parau.


Bersambung …


Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2