
POV Author.
Petang itu Fabian baru saja pulang bekerja. Dia kesal lantaran mendapati teras rumahnya begitu kotor. Bukan hanya bagian depan rumah saja, ternyata ruang tamu pun terlihat berantakan. Dari ruang tamu ia pun lantas melangkahkan kakinya menuju meja makan. Dia semakin meradang saat membuka tutup saji yang berada di meja itu. Tak ada makanan yang tersaji di sana.
Fabian hendak menuangkan air minum dari teko ke dalam gelas. Namun, wadah air minum itu pun kosong.
"Apa saja yang kamu lakukan seharian di rumah?" tanyanya pada Karmila yang tengah berada di dalam kamar.
"Eh, Mas sudah pulang?" tanyanya. Pandangannya tak sedikit pun beralih dari layar ponselnya.
"Rumah kotor, tidak ada makanan di meja makan. Apa saja yang kamu lakukan seharian ini?"
"Perempuan manapun yang sedang hamil muda akan merasa malas melakukan apapun. Aku juga sudah lelah mengurus ibu."
"Aku lapar, buatkan makanan untukku," ucap Fabian sembari melonggarkan dasinya lalu meletakkan tas kerjanya di atas meja rias.
"Mas buat mi instan saja. Aku sudah stock banyak di lemari dapur," ucap Karmila. Dia masih asyik dengan ponselnya.
Fabian beranjak dari kamar lalu berjalan menuju dapur. Ruangan yang berada di bagian belakang itu pun nyatanya terlihat sama dengan ruang tamu. Kotor dan berantakan. Bahkan bekas peralatan makan kemarin malam juga terlihat masih memenuhi wastafel. Tak terkecuali panci untuk merebus air. Entah habis digunakan merebus apa, perabot dapur itu terlihat begitu kotor dan berminyak.
"Zura begitu pandai mengurus rumah. Saat aku pulang bekerja, rumah selalu dalam keadaan rapi. Meja makan pun tak pernah kosong. Ah! Kenapa aku jadi membandingkannya dengan Karmila?"
Fabian tak punya pilihan selain mencuci perabot dapur yang memenuhi wastafel itu. Dia pun lantas memasak mie instan untuk mengganjal perutnya yang terasa lapar. Belum juga sendok pertama masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba terdengar seruan Mila dari dalam kamar.
"Mas, buatin aku teh hangat dong."
"Zura mana pernah menyuruhku melayaninya? Saat hamil dia nyaris tak pernah mengeluh apalagi bersikap manja begini," gumam Fabian.
"Ya. Tunggu sebentar."
Fabian meninggalkan mi instannya dan bergegas menyeduh teh hangat untuk istrinya itu.
"Bagaimana keadaan ibu?" tanyanya saat kembali memasuki kamar.
"Apanya yang bagaimana? Ibu masih begitu-begitu saja. Nggak ada perubahan."
"Kamu merawat ibu dengan baik 'kan? Walaupun aku tidak berada di rumah."
"Kenapa Mas tiba-tiba nanya begitu?"
"Soalnya aku sempat mendengar selentingan dari warga penghuni kompleks perumahan ini, mereka sering mendengar kamu bentak-bentak ibu."
__ADS_1
"Ah! Mas nggak usah dengerin mereka. Mas tahu sendiri lah yang namanya tetangga. Kadang hal kecil aja dibesar-besarkan."
"Aku harap kamu merawat ibu dengan baik," ucap Fabian.
"Oh ya, Mas. Bagaimana kalau kita menggunakan jasa asisten rumah tangga di rumah kita? Akhir-akhir ini aku sering merasa kerepotan mengurus rumah. Belum lagi mengurus ibu."
"Tidak perlu. Daripada dipakai untuk membayar asisten rumah tangga, sebaiknya uangnya kita tabung untuk biaya persalinan nanti. Kamu kan juga tahu, setiap bulan aku harus membayarnya cicilan mobil dan rumah ini? Dulu Azzura tak pernah sekalipun berniat menggunakan jasa asisten rumah tangga. Baginya mengurus rumah adalah salah satu ibadah seorang istri."
"Loh. Mas kok jadi membandingkan aku dengan Azzura?" protes Mila.
"Bukannya begitu. Aku hanya bilang kalau Zura bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga tanpa bantuan orang lain. Kamu juga seharusnya bisa sepertinya."
"Bela saja terus Azzura!"
Karmila meletakkannya ponselnya, ia lantas memalingkan wajahnya menghadap ke arah dinding.
"Sebentar lagi kamu jadi seorang ibu. Bersikaplah lebih dewasa. Jangan sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit kesal."
"Mas bisa 'kan, nggak menyebut nama perempuan itu di depanku? Tolong hargai aku sebagai istrimu."
"Aku ingin kamu belajar banyak darinya. Dia perempuan mandiri dan tidak mudah mengeluh."
"Malam ini Mas tidur di sofa!"
"T-t-tapi, …"
Karmila tak menghiraukan ucapan Fabian. Dia justru menmatikan lampu kamar lalu menarik selimutnya. Fabian pun tidak punya pilihan selain meninggalkan kamarnya. Detik kemudian dia sudah berada di ruang makan. Mi instan yang tadi sudah diseduhnya tentu saja sudah menjadi dingin.
"Ah! Aku tidak berselera lagi."
Fabian beranjak meninggalkan meja makan lalu melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Baru saja merebahkan tubuhnya di atas sofa, tiba-tiba ponselnya berdering. Setelah tahu nama kontak si penelpon, ia pun bergegas keluar dari ruangan itu. Meskipun sudah berusaha tidak membuat suara, tetap saja Karmila mendengar saat Fabian menutup pintu depan rumah mereka.
"Mau kemana mas Fabian?" gumamnya.
Karmila bisa mendengar jika Fabian mengobrol dengan seseorang melalui sambungan telepon di samping rumahnya.
"Siapa yang menelepon malam-malam begini? Kenapa pula mas Fabian harus keluar rumah untuk menjawab telepon itu?" gumamnya.
Demi menjawab rasa penasarannya, Mila pun keluar dari dalam kamarnya lalu menguping obrolan Fabian dari jendela yang berada di ruang makan. Sialnya, dia tidak bisa mendengar cukup jelas isi pembicaraan mereka lantaran Fabian bersuara pelan.
"Siapa yang menelpon mas Fabian? Jangan-jangan dia menyembunyikan sesuatu dariku," gumamnya.
__ADS_1
Dari tempatnya berdiri ia lantas bergeser ke ruang tamu. Perlahan ia memutar gagang pintu kemudian mendorongnya. Dari tempat itu dia bisa sedikit lebih jelas mendengar obrolan suaminya dengan si penelpon itu. Sayangnya, Fabian sudah mengakhiri percakapannya. Namun, satu hal yang membuat hatinya panas adalah satu kalimat terakhir yang diucapkan suaminya itu yakni "Mimpi indah, ya. Jangan lupa mimpiin aku."
"Siapa yang menelpon?"
Fabian nyaris menjatuhkan ponselnya saat mendapati Karmila tiba-tiba berdiri di belakangnya sambil berkacak pinggang.
"Ehm, bukan siapa-siapa. Hanya teman," jawab Fabian dengan raut wajah panik.
"Begitu ya. Teman macam apa yang menutup telepon dengan ucapan manis?"
"Kamu-kamu salah dengar. Sudahlah, ayo masuk."
Fabian menggandeng tangan Mila lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah. Namun, Mila menepisnya dengan kasar. Dia justru merebut paksa ponsel Fabian demi memeriksa nomor di daftar panggilan terakhir. Ia semakin penasaran saat mendapati kontak bernama S di panggilan masuk.
"Siapa nomor ini?" tanyanya.
"Dia-dia bukan siapa-siapa."
"Apa Mas bermain api di belakangku?"
"Maksudnya kamu apa? Kamu jangan asal menuduh."
"Kalau memang dia temanmu, sekarang juga telepon dia dengan pengeras suara," ucap Mila yang sontak membuat Fabian kebingungan.
"Kenapa Mas diam saja? Cepat telepon nomor ini di depanku!" Karmila meninggikan suaranya.
"Sssst. Jangan keras-keras. Tidak enak didengar tetangga."
"Cepat telepon nomor ini!" Kali ini Karmila benar-benar membentak Fabian.
"Baiklah, aku mengaku. Yang tadi menelponku adalah atasanku."
"Atasan perempuan 'bukan?"
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1