Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Siapa yang harus kupercaya?


__ADS_3

Tiba-tiba kudengar suara pintu berderit.


"Loh, Dek. Sejak kapan kamu di sini?" 


"Aku yang seharusnya bertanya pada Mas. Kenapa Mas meninggalkan ibu sendirian di ruangan ini? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada ibu?"


"Mas hanya keluar sebentar untuk mencari udara segar. Kamu pikir mas tidak bosan 24 jam berada di ruangan ini?"


"Yang lagi sakit ibu kandung Mas sendiri loh. Kenapa Mas harus bicara begitu? Jika saja bayi seusia Lyra diizinkan mendatangi rumah sakit ini, aku tidak akan keberatan merawat dan menjaga ibu selama 24 jam."


Tiba-tiba mas Fabian melirik ke arah pintu sebagai kode kecil untuk mengajakku keluar dari kamar perawatan ibu.


"Kita rawat ibu di rumah saja," ucap mas Fabian yang sontak membuatku keheranan.


"Aku tidak akan mengambil keputusan tanpa persetujuan dokter!" tegasku.


"Apa kamu gak mikir berapa biaya yang harus kukeluarkan jika ibu berlama-lama dirawat di rumah sakit ini?"


"Kenapa Mas? Uang tabungan Mas sudah habis untuk membayar uang muka pembelian rumah baru? Bukan begitu?"


"Maksud kamu apa? Rumah mana yang kamu maksud?"


"Sudahlah, Mas. Aku sudah tahu jika kamu membelikan rumah baru untuk Mila."


Aku dapat melihat raut wajah mas Fabian tiba-tiba berubah pucat. Dia tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.


"Aku menemukan kwitansi ini di dalam laci lemari di kamar kita," ucapku sembari menyodorkan selembar kwitansi pembayaran uang muka kredit rumah baru itu pada mas Fabian.


"Sudah berapa kali ku peringatkan, jangan pernah sekalipun mencoba membuka lemari itu. Berani kamu membantahku!"


"Apa yang sebenarnya Mas sembunyikan dariku? Apa Mas membelikan rumah itu untuk Mila? Atau jangan-jangan kalian sudah, …"


"Kamu jangan menuduh sembarangan. Kwitansi itu memang atas namaku, tapi, …"


"Tapi apa?"


"Rumah itu bukan rumah Mila."


"Lantas?"


"Atasanku yang menyuruhku untuk membeli rumah yang akan dijadikan kantor cabang baru. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa menanyakan langsung pada pak Anton. Beliau adalah direktur perusahaan."


Mas Fabian menyodorkan ponselnya ke arahku agar aku menghubungi pak Anton yang bahkan namanya baru kali ini kudengar.


Jika mas Fabian bohong, mana mungkin dis menyuruhku menghubungi Direktur perusahaannya? Baiklah, aku mencoba percaya padanya.


"Tidak perlu, Mas, aku percaya."


Mas Fabian pun lantas memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


"Oh ya. Kenapa makananku dibuang?" tanyaku.


"Semalam aku ketiduran jadi tidak sempat memakannya. Saat kubuka rantangnya pagi tadi makanannya sudah basi, jadi kubuang di tempat sampah," jelasnya.


"Aku dengar dari bu Murni, beliau melihat seorang perempuan di dalam ruangan ini. Apa Mas punya saudara sepupu bernama Melly?"


Sekali lagi aku menangkap raut kebingungan di wajah pria yang telah menikahiku lebih dari sepuluh tahun itu.


"I-i-iya. Mungkin mas belum pernah bercerita padamu. Melly adalah saudara jauh Mas yang tinggal di luar kota."


"Saudara jauh?"


"Ya. Dia adalah cucu dari adik almarhum kakekku."


"Apa sedekat itu hubungan kalian hingga dia mau jauh-jauh kesini untuk menjenguk ibu?" tanyaku penuh selidik.


"I-i-iya. Sejak kecil kami cukup dekat."


"Di mana Melly sekarang?" tanyaku.


"Ehm… pagi-pagi tadi Melly sudah pulang ke kota C."


Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba dokter yang menangani ibu menghampiri kami.

__ADS_1


"Selamat pagi, Dokter," sapaku.


"Selamat pagi, Bu, Pak."


"Maaf, Dokter. Bagaimana keadaan ibu saya? Apa beliau masih harus dirawat inap?" tanya mas Fabian.


"Kami tidak melarang jika memang Bapak dan Ibu ingin membawa pasien pulang. Akan tetapi pasien tetap harus rutin melakukan kontrol seminggu sekali," jelas dokter.


"Apa ibu saya bisa sembuh dan pulih seperti dulu, Dokter?" tanyaku.


"Kondisi pasien saat ini mengalami stroke dan kesulitan menggerakkan sebagian anggota tubuhnya bahkan kesulitan berbicara. Selain rutin mengkonsumsi obat, saran saya pasien juga harus menjalani terapi."


"Baik, Dokter," ucapku.


"Setelah menyelesaikan administrasi, pasien bisa meninggalkan rumah sakit," ucap dokter. Aku mengangguk paham.


Dokter itu pun lantas berlalu dari hadapan kami.


"Bagaimana ini, Dek?" tanya mas Fabian.


"Apanya yang bagaimana?"


"Ehm…aku-aku."


"Mas nggak usah khawatir. Aku punya uang tabungan yang insyaallah cukup untuk membayar biaya perawatan ibu. Aku juga sudah membayar biaya operasi ibu."


"Kamu punya uang sebanyak itu dari mana?" tanya mas Fabian dengan raut wajah heran.


"Aku menyisihkan uang belanja yang Mas berikan padaku setiap bulan untuk kebutuhan mendesak," jawabku.


"Tapi, Dek, …" 


"Maaf, Mas. Aku harus ke bagian administrasi." Kutepis pelan tangan mas Fabian dari lenganku.


Setelah membayar biaya perawatan ibu, aku pun kembali ke kamar perawatan ibu. Lekas kukemasi barang-barang milik ibu seperti pakaian ganti dan beberapa barang lainnya.


"Kita pulang sekarang ya Bu," ucapku pada wanita yang begitu kukasihi itu. Beliau mengangguk pelan.


Lagi-lagi rasa mual kembali menyerangku.


"Akhir-akhir ini kamu sering mual dan ingin muntah. Mumpung kita masih di rumah sakit, ada baiknya kamu memeriksakan diri ke dokter," ucap mas Fabian.


"Aku nggak apa-apa kok Mas. Perutku rasanya kembung, mungkin aku hanya masuk angin." 


Meski khawatir pada diriku sendiri, aku mencoba terlihat baik-baik saja di hadapan mas Fabian.


Beberapa saat kemudian seorang perawat muncul di kamar perawatan ibu.


"Selamat pagi, " sapanya.


"Selamat pagi, Suster."


"Hari ini bu Kinanti bisa meninggalkan rumah sakit," ucap perawat itu sembari melepas selang infus dari salah satu tangan ibu.


"Jaga pola makan ya Bu, jangan terlalu banyak makan-makanan berlemak," imbuhnya.


"Baik, Suster. Terima kasih."


"Saya permisi, selamat pagi."


"Selamat pagi."


Perawat itu pun lantas meninggalkan kamar perawatan ibu.


"Kita pulang sekarang?" tanya mas Fabian. Aku menganggukkan kepalaku.


Dengan bantuan mas Fabian aku memindahkan ibu dari ranjang pasien ke kursi roda. Aku juga membeli sebuah kursi roda bagi ibu untuk mempermudah aktifitasnya.


"Uang tabungan kamu pasti habis untuk biaya perawatan ibu dan juga untuk membeli kursi roda ini," ucap mas Fabian.


Aku tersenyum.


"Nggak apa-apa kok Mas. Demi ibu aku ikhlas," ujarku.

__ADS_1


Kulihat ibu mencoba menggerakkan tangannya dan berniat meraih tangan kananku. Aku yang paham maksud beliau pun lalu menggenggam tangannya.


"Ada apa, Bu?" tanyaku.


Ibu yang kini tak bisa bicara itu menatap mataku penuh ketulusan seolah ingin mengucapkan terima kasih padaku. Aku lekas menyeka buliran bening yang tiba-tiba mengalir dari sudut matanya. Sungguh, aku merasa ibu ingin mengatakan sesuatu meskipun aku tak tahu itu apa.


Aku mendorong kursi roda ibu sementara mas Fabian membawa barang-barang ibu.


Baru beberapa langkah meninggalkan kamar perawatan ibu, tiba-tiba kudengar langkah seseorang di belakang kami. Aku pun sontak menoleh ke arahnya.


"Mila, …"


"Ibu mau dibawa kemana?" tanyanya.


"Dokter mengizinkan ibu pulang hari ini," jawabku.


Dengan gerakan sedikit kasar Mila menggeser tubuhku dan mengambil alih posisiku yang tengah mendorong kursi roda ibu.


"Biar aku saja yang mendorong kursi roda ibu," ucapnya.


Aku membiarkan saja apa maunya. Lagipula aku enggan beradu mulut hanya karena hal sepele.


"Mbak duduk di belakang saja ya, jagain ibu. Aku suka mabuk kalau duduk di belakang." Kali ini Mila mendahuluiku membuka pintu mobil bagian depan.


Oke, aku memilih mengalah lagi. Terlalu kekanak-kanakan rasanya jika kami bertengkar hanya karena berebut tempat duduk. Aku pun lantas masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang bangku kemudi.


Sesampai di rumah.


"Aku boleh kan, ikut merawat ibu?" tanya Mila saat kami bertiga di kamar tamu.


"Tidak perlu. Aku bisa merawat ibu sendiri," tukasku.


"Mbak ini aneh banget ya. Dibantuin kok malah ketus begitu."


"Beliau ibu mertuaku. Aku yang akan merawatnya dengan tanganku sendiri."


"Mbak lupa ya? Sebentar lagi kan aku jadi istri mas Fabian. Ibu juga akan menjadi ibu mertuaku, ibu mertua kita. Lagipula Mbak harus mengurus Lyra yang masih bayi. Apa Mbak sanggup mengurus ibu juga?"


Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu. 


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam," jawabku sembari beranjak dari kamar tamu dan berjalan menuju pintu. 


"Bu Murni…"


"Lyra baru saja bangun tidur. Sepertinya dia haus. Susu yang di botol tadi sudah habis," jelasnya.


"Maaf ya Bu, merepotkan terus," ucapku sembari mengambil alih Lyra dari gendongannya.


"Nggak apa-apa kok Mbak. Saya senang bisa membantu," ujarnya. "Ibu Kinanti sudah diizinkan pulang, Mbak?" tanyanya kemudian.


"Alhamdulillah, Bu. Tapi seminggu sekali masih harus kontrol."


"Apa saya boleh menjenguk ibu Kinanti?" tanya bu Murni.


"Ya, Bu. Mari saya antar ke kamarnya."


Kulangkahkan kaki menuju kamar tamu sementara bu Murni mengikuti di belakangku.


"Ada Mbak Melly juga ternyata," ucap bu Murni saat memasuki ruangan itu.


Di ruangan itu tak ada orang lain selain ibu mertuaku dan Mila. Siapa Melly yang dimaksud bu Murni? Bukankah mas Fabian mengatakan jika Melly sudah pulang pagi tadi. Apakah Melly itu…


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2