Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Getaran aneh


__ADS_3

"Astaghfirullahaldzim! Kenapa aku ini?" Aku merutuki diri sendiri lantaran terpesona dengan senyum Gibran. Memang, di statusku sekarang aku bebas membuka pintu hatiku selebar-lebarnya bagi makhluk bernama laki-laki. Namun, bukan itu kini menjadi prioritasku. Aku hanya ingin fokus membesarkan dan mendidik Lyra agar kelak menjadi perempuan yang beruntung di dunia juga di akherat kelak.


Waktu menunjukkan pukul enam pagi.


Aku berpamitan pada pemilik rumah namun mbok Marni menahanku. 


"Sarapan dulu saja, Mbak. Saya sudah selesai memasak," ucapnya.


"Tidak usah, Mbok. Nanti merepotkan."


"Sama sekali tidak merepotkan kok Mbak. Ini memang sudah pekerjaan saya sehari-hari. Kata pak Yudha saya harus memperlakukan siapa pun yang bertamu di rumah ini dengan baik."


"Selamat pagi."


Pandanganku tertuju pada seorang pria paruh baya yang baru saja menuruni tangga. Jika dilihat dari wajahnya, mungkin beliau lah yang bernama pak Yudha.


"Ada tamu rupanya," ucapnya.


Aku mengangguk hormat pada pria yang masih mengenakan setelan piyama itu.


"Maaf, Pak. Saya sudah merepotkan seisi rumah ini," ucapku.


Pria itu tersenyum tipis, ia lantas berjalan menuju meja makan. Menarik sebuah kursi, lalu mendudukinya.


"Mau dibawa kemana makanan itu, Mbok?" tanya pak Yudha saat mendapati sang asisten rumah tangga tengah meletakkan sepotong sandwich dan segelas susu di atas nampan.


"Ke kamar mas Gibran, Tuan."


"Loh, kenapa harus diantar ke kamarnya? Dia bisa jalan kaki sendiri ke meja makan 'bukan?"


"Ehm … semalam mas Gibran mengalami kecelakaan. Mas Keenan sempat membawanya ke rumah sakit namun mas Gibran memaksa pulang. Akhirnya jam tiga dini hari tadi mas Gibran dibawa pulang," jelas mbok Marni.


"Mana Keenan?"


"Ada apa, Yah?" Keenan yang baru saja turun dari lantai dua itu pun menghampiri sang ayah. Dia lantas duduk di tempat biasanya.


"Mbok Marni bilang semalam kakakmu mengalami kecelakaan. Kenapa kamu tidak memberitahuku?" protesnya.


"Maaf, Yah. Aku begitu panik hingga tidak terfikir untuk menghubungi Ayah. Lagipula luka yang dialami Gibran tidak begitu parah. Hanya mobilnya saja yang harus masuk bengkel lantaran mengalami korsleting listrik. Kami tiba di rumah sekitar jam tiga dini hari. Kami hanya tidak ingin mengganggu istirahat Ayah," ungkap Keenan.


"Aku harus bicara pada anak itu."


Pak Yudha beranjak dari meja makan dan berjalan menuju kamar Gibran yang berada di lantai dua.


"Mari, Mbak. Sarapan dulu."

__ADS_1


Mbok Marni menarik sebuah kursi lalu mempersilahkanku duduk. Aku justru merasa kikuk diperlakukan begini.


Tak ada makanan lain di hadapanku selain roti isi sayuran dan susu segar. Apa perutku bisa menerima makanan ini? Sementara selama ini sarapan pagiku hanya nasi goreng ataupun nasi uduk yang kubeli di warung kecil di dekat tempat kost ku.


"Kenapa dilihatin saja? Kalau kamu tidak suka, biar mbok Marni buatkan menu lain," ucap Keenan yang duduk tepat di hadapanku.


"Ehm … ti-ti-tidak usah."


"Ya sudah, saya ke atas dulu mengantar sarapannya mas Gibran." Mbok Marni mengangkat nampan itu lalu meninggalkan meja makan. Kini hanya tinggal kami bertiga saja. Aku, Keenan dan Lyra.


"Demam Lyra sudah turun 'bukan?" tanya Keenan.


"Alhamdulillah."


"Ini buat kamu." Keenan mengambil selembar roti tawar lalu memberikannya pada Lyra. Putri kecilku itu menerimanya dengan senyum ceria.


"Te-li-ma kasih, A-yah."


"Panggil paman Kee-nan."


"Pa-man Nan."


"Maaf, Lyra memanggilmu ayah lagi," ucapku.


Aku mulai menyantap isi piring yang berada di depanku. Jujur, ini adalah pertama kali dalam hidupku memakan makanan itu.


Potongan pertama yang masuk ke dalam mulutku saja sudah membuatku merasa mual. Pun aku tetap berusaha menelannya. Namun, aku tidak tahan lagi saat potongan ke tiga. Aku lekas meneguk susu segar yang berada di hadapanku untuk mendorong makanan itu masuk kedalam kerongkonganku.


"Kenapa?" tanya Keenan saat aku meletakkan pisau dan garpuku.


"Ehm … aku sudah kenyang."


"Masa baru makan segitu saja sudah kenyang. Lyra saja lahap banget makan roti nya."


Obrolan kami terhenti saat pak Yudha kembali ke tempat duduknya.


"Kakakmu itu celaka karena sudah membantahku," ucapnya.


"Kecelakaan terjadi tanpa bisa kita duga. Mungkin mobil Gibran menabrak pagar besi itu dikarenakan ada kerusakan di bagian mesinnya," ujar Keenan.


"Kalau dia hati-hati tidak mungkin menabrak."


"Sudahlah, jangan terus menyalahkannya. Kita seharusnya bersyukur Allah masih memberinya keselamatan."


Suasana hening sejenak.

__ADS_1


"Oh ya, bagaimana pertemuan Ayah dan pak Leo semalam?" tanya Keenan.


"Pak Leo bersedia membantu menangani kasus ibu kalian meskipun dengan upah yang tidak kecil. Tapi itu bukan masalah bagi ayah. Yang terpenting ibumu bisa secepatnya keluar dari penjara, dan semoga kejadian ini bisa memberinya efek jera," ungkap pak Yudha.


"Ehm, saya mengucapkan terima kasih atas pertolongan Mas Keenan. Saya juga minta maaf sudah merepotkan di rumah ini. Saya pamit sekarang," ucapku sembari beranjak dari tempat dudukku.


"Biar saya antar," ucap Keenan.


"Tidak usah, saya bisa naik taksi."


"Tidak apa. Kebetulan hari ini aku mendapatkan undangan peresmian pembukaan perusahaan baru rekan bisnisku. Tempatnya searah dengan tempat tinggalmu."


"T-t-tapi, …"


"Sudahlah, daripada harus menunggu taksi, kamu ikut mobil Keenan saja." Pak Yudha menimpali.


Tidak berselang lama mbok Marni kembali ke ruang makan.


"Saya pamit dulu, Mbok. Terima kasih untuk semuanya. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam. Hati-hati, Mas … Mbak."


Aku berjalan meninggalkan ruangan itu sementara Keenan mengikuti di belakangku.


Aku baru saja hendak masuk ke dalam mobil sedan berwarna hitam itu. Entah mengapa aku merasa sepasang mata mengawasiku dari atas sana. Benar saja saat aku mendongakkan wajahku ke lantai dua, aku mendapati Gibran tengah mengintip dari jendela kamarnya dan memandang ke arahku.


"Assalamu'alaikum."


Meski tak mendengar suaraku, aku tahu Gibran paham dengan ucapanku barusan.


Detik kemudian Keenan mulai menghidupkan mesin mobilnya. Tidak lama kemudian mobil yang kami tumpangi pun meninggalkan rumah mewah itu.


"Aku bisa melihat dari sorot mata Gibran, sepertinya dia menyukaimu," ucap Keenan ketika kami di perjalanan pulang.


Apa? Kenapa tiba-tiba Keenan berbicara begitu?


Bersambung … 


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like, komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2