Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Pergilah, masa lalu


__ADS_3

"Maaf, itu urusan rumah tanggaku. Aku tidak akan membaginya pada orang lain," ucapku.


"Kalau kamu punya masalah keuangan, kamu balik saja jadi anaknya mama. Walaupun sudah menikah dan punya anak, kamu masih terlihat OK kok. Badan kamu juga tidak berubah. Kamu masih bisa memakai kembali pakaian seksi itu," ucap mama Lucy.


"Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah aku pernah bekerja di tempat hiburan malam. Aku bersumpah demi apapun tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di tempat terkutuk itu!"


"Sudahlah, jangan sok suci begitu. Kalau kamu memang membutuhkan pekerjaan, temui saja mama di klub. Mama akan menerimamu dengan tangan terbuka."


"Maaf, sejak aku meninggalkan klub malam itu, aku menganggap hubungan kita sudah putus. Jangan lagi menyebut sebagai mama di hadapanku," ucapku.


"Suatu hari kamu akan menyesal telah mengatakan hal ini. Kamu akan mencari saya dan mengemis pekerjaan pada saya!"


"Terima kasih untuk do'a nya. Aku hanya bisa berdo'a semoga Allah membukakan pintu hati anda sebelum Allah memberikan azab yang pedih," ucapku.


"Plok! Plok!Plok!" Lucy bertepuk tangan sebanyak tiga kali.


"Ceramah mu bagus sekali. Berapa saya harus membayarnya? Satu juta? Dua juta?"


"Maaf, saya buru-buru. Permisi."


Aku berlalu dari hadapan Lucy lalu menuju toko perlengkapan bayi yang berada tidak jauh dari apotek tersebut.


Setelah membeli popok bayi dan minyak telon, aku pun bergegas meninggalkan supermarket tersebut dan kembali ke rumah sahabatku sekaligus kakak iparku, Fatimah.


"Maaf, menunggu lama. Antreannya panjang," ucapku pada Fatimah sesaat setelah memasuki kamarnya.


"Kamu kenapa? Sepertinya kamu kesal sekali."


"Mama Lucy."


"Kenapa dengannya?"


"Aku bertemu dengannya di supermarket."


"Astaghfirullah. Kamu tidak sedang bercanda 'kan Ra?"


"Tidak ada gunanya aku berbohong. Apa kamu mau tahu, barang apa yang ingin dibelinya di supermarket itu?"


"Memangnya dia membeli apa?"


"Alat kontrase*si."


"Jadi, dia masih belum tobat ya, dari pekerjaannya menjual tubuh para gadis pada pria hidung belang?"


"Sepertinya belum."


"Semoga Allah lekas membuka pintu hidayah untuknya," ucap Fatimah.


"Aamin."


"Oh ya. Bagaimana tempat tinggal baru kamu? Jika kamu tidak nyaman, aku akan mencari tempat kost ataupun rumah kontrakan yang lain."


"Alhamdulillah, kami nyaman tinggal di sana. Penghuninya baik dan ramah."

__ADS_1


"Syukurlah. Jangan sungkan berbagi kalau kamu punya masalah. Aku pasti akan membantu sebisaku," ucap Fatimah.


Aku mengangguk paham.


"Ya sudah, aku pulang dulu."


"Kenapa buru-buru? Sesekali menginap lah di rumahku."


"Insyaallah lain kali, tidak hari ini. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati, Ra."


Aku beranjak dari kamar Fatimah. Tidak berselang lama aku pun meninggalkan rumah tersebut.


*****


Hari beranjak senja ketika aku tiba di tempat kost ku. Kulihat Rahma baru saja pulang dari tempat kerjanya.


"Baru pulang, Ma," sapaku.


"Iya, Mbak. Aku terpaksa menolak tawaran lembur dari atasanku lantaran aku harus pulang ke rumah kakakku sore ini juga," ucap Rahma.


Aku tersenyum.


"Tidak apa. Allah pasti akan menggantinya dengan rezeki dari jalan lain."


"Aamiin. Ya sudah, Mbak. Aku harus bersiap sekarang sebelum bus keluar kota berhenti beroperasi." Rahma berlalu dari hadapanku, ia lantas masuk ke dalam kamarnya. Tidak berselang lama dia terlihat keluar dengan menggendong tas punggung di pundaknya.


"Aku pamit dulu, Mbak. Assalamu'alaikum." Rahma meraih tanganku lalu mencium bibirku tanganku.


Rahma pun lantas berlalu dari hadapanku dan meninggalkan tempat kost.


Malam seusai Isyak, hujan turun dengan begitu derasnya. Tiba-tiba terdengar suara tetesan air hujan dari arah belakang. Setelah kuperiksa, ternyata atap genting rumah ini yang bocor. Aku bergegas mengambil sebuah ember dari dalam kamar mandi untuk menampung tetesan air hujan itu. Aku bernafas lega, hanya satu sumber saja atap yang bocor.


Aku baru saja hendak merebahkan tubuhku di atas ranjang ketika tiba-tiba ponselku berdering singkat. Sebuah pesan masuk di aplikasi percakapan. Aku pun lekas meraih ponselku dan membaca isi pesan itu. Rupanya dari Fabian.


[From: Fabian]


[Hujan-hujan begini enaknya tidur dikeloni pasangan]


Ah! Aku tahu pasti Mila yang mengirim pesan ini.


[From: Fabian]


[Malam ini Mbak pasti kesepian ya? Dan merindukan belaian suami]


Aku enggan membalas pesan itu. Kuletakkan kembali ponselku di atas nakas. 


Beberapa saat kemudian ponselku kembali berdering. Aku memilih mengabaikan panggilan itu dan tidur.


Semakin kubiarkan, ponselku justru tidak berhenti berdering. Akhirnya aku menjawab panggilan itu. Tentu saja setelah aku keluar dalam kamarku.


[Kamu tuh maunya apa sih?]

__ADS_1


[Mbak ini kenapa marah-marah? Aku kan cuma nanya Mbak kesepian atau nggak. Kalau Mbak mau, Mbak boleh kok tinggal di rumahku]


[Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau tinggal satu atap denganmu!]


[Aku tahu, sekarang Mbak Zura juga lagi kebingungan mencari pinjaman uang untuk membayar tempat kost dan untuk makan. Sudah lah, jangan mempersulit diri sendiri. Gaji mas Fabian pasti cukup untuk kita berdua. Dia juga pasti bisa bersikap adil pada kita]


[Sudah kubilang, aku tidak akan pernah mau tinggal satu atap denganmu! Apa kamu tidak paham bahasa Indonesia 'hah?]


Klik! Aku mengakhiri percakapan tanpa salam. Karmila benar-benar keterlaluan! Sampai kapan dia akan menjadi racun dalam hidupku?


Aku baru saja meletakkan ponselku di atas nakas. Hanya selang beberapa menit ponselku kembali berdering. Tanpa memandang layar ponsel, aku menjawab panggilan itu.


[Apalagi 'hah? Apa kamu sengaja ingin membuatku marah-marah?]


[Selamat malam, Ibu Azzura.]


Aku memandang layar ponselku. Rupanya bukan Karmila ataupun Fabian yang menghubungiku, melainkan rumah sakit.


[Astaghfirullah. Maaf, Suster. Saya pikir orang lain yang menelpon. Ada apa Suster menghubungi saya malam-malam begini?]


[Ini berkaitan dengan pasien atas nama Sabrina]


[Kenapa dengan ibu saya, Suster?]


[Ibu anda sekarang berada di ruang ICU]


[Loh. Memangnya ibu saya kenapa? Dokter mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan ibu saya.]


[Benar, Bu. Tapi, sejak Maghrib tadi pasien terus berteriak histeris sambil menyebutkan nama Roni. Saat saya berusaha menenangkannya, pasien justru ketakutan hingga akhirnya terjatuh dari atas ranjang. Beliau sekarang tak sadarkan diri]


Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Tidak mungkin hujan deras begini membawa Lyra ke rumah sakit. Pak Prayoga. Ya, nama itulah yang seharusnya kuhubungi. 


[Baik, Suster. Terima kasih atas informasinya]


Panggilan terputus. Akupun bergegas menghubungi nomor telepon pak Prayoga.


[Halo, Assalamu'alaikum]


[Waalaikumsalam. Maaf, ini siapa ya?]


[Ini Azzura]


[Kemarin Sabrina, hari ini Azzura, besok siapa lagi?]


Aku terdiam sejenak. Kenapa perempuan yang menjawab telepon ini? Di mana pak pak Prayoga? Apa beliau salah memberikan nomor ponselnya?


[Hei! Kamu kok diam? Kamu Azzura siapa? Kamu pasti perempuan matre ya?]


Astaghfirullah. Siapa sebenarnya perempuan yang berbicara di telepon denganku ini?


Bersambung…


Hai, pembaca setia….

__ADS_1


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2