Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Rizal dan Nesya


__ADS_3

POV Author.


"Sebenarnya kamu sibuk apa belakangan ini?" Tanya bu Murni pada Rizal siang itu.


"Maksud Budhe apa? Apalagi kesibukanku selain kuliah dan di redaksi majalah?" Rizal balik bertanya.


"Kamu tidak usah bohong, Zal. Bude tahu belakangan ini kamu selalu pamit berangkat ke kampus nyatanya kamu tidak pernah masuk kuliah."


"Bu-Bu-Budhe tahu dari mana?"


"Kenapa kamu harus bohong pada teman-teman kuliahmu jika kamu sakit. Bahkan Zura dan Fina susah-susah membuat kue hanya untuk menjengukmu."


"Ja-ja-di Fina yang memberitahu Budhe?"


"Ya, begitulah. Sebenarnya kamu kemana? Apa ini ada hubungannya dengan seseorang yang sering kamu telepon itu?"


"Ehm … itu-itu, …"


"Itu-itu apa?"


"Orang yang belakangan ini sering kutelepon adalah mantan pacarku, Nesya."


"Bukankah kalian sudah lama putus? Atau jangan-jangan selama ini kalian masih sering berkomunikasi."


"Bukan begitu, Budhe. Hubungan kami memang sudah lama putus."

__ADS_1


"Lantas?"


"Kami baru kembali dipertemukan belum lama ini. Aku juga tidak menyangka jika Nesya juga berada di kota ini."


"Rizal … Rizal. Kamu sudah tahu 'bukan? Kedua orangtuamu tidak merestui hubunganmu dengan gadis itu? Kenapa kamu masih saja keras kepala?"


"Budhe tahu 'kan, Nesya itu cinta pertamaku? Aku tidak bisa melupakannya begitu saja," ujar Rizal.


"Jadi, demi cinta butamu itu kamu mau melawan kedua orangtuamu? Kamu tinggal di rumah budhe, artinya kamu menjadi tanggung jawab pakdhe dan budhe."


"Memangnya apa yang salah dengan Nesya yang hanya anak pemilik warung kelontong? Aku ini laki-laki. Aku lah yang kelak akan menghidupinya."


"Bukan hanya karena itu alasannya. Tapi, ayahnya juga seorang narapidana yang terlibat kasus penyuapan di instansi pemerintahan tempatnya bekerja."


"Itu kesalahan ayahnya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Nesya."


"Sudahlah, Budhe. Aku sedang malas berdebat."


"Budhe ingin kamu jauhi gadis itu atau budhe adukan kamu pada kedua orangtuamu!" tegas bu Murni.


"Maaf, Budhe. Aku begitu mencintai Nesya. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkannya, apalagi dia tengah terpuruk karena kehilangan pekerjaannya."


"Memangnya apa pekerjaannya?"


"Dia bekerja sebagai admin di sebuah konveksi. Kalau aku tidak salah nama konveksinya … ehm … konveksi Fabian."

__ADS_1


"Konveksi Fabian?"


"Ya, Budhe. Nesya bekerja di konveksi itu. Memangnya kenapa, Budhe? Apa Budhe mengenal pemilik konveksi itu?"


"Fabian adalah mantan suami Azzura."


"Apa?!"


"Kenapa kamu kaget begitu?"


"Ehm …ti-ti-tidak , Budhe. Aku hanya tudak menyangka jika pak Fabian adalah mantan suami bu Azzura. Konveksi tempat Nesya bekerja menjadi salah satu korban penipuan berkedok pengirim barang ke luar negeri. Akibatnya konveksi itu merugi hingga milyaran rupiah dan gaji karyawan tidak dibayarkan."


"Budhe tidak mau tahu dan tidak mau peduli dengan apa yang dialami gadis itu. Budhe ingin kamu segera menjauhinya."


"Harus berapa kaki kubilang, aku begitu mencintai Nesya. Aku tidak akan pernah meninggalkannya!" tegas Rizal. Dia lantas berlalu dari hadapan sang bibi.


"Aww! Perutku sakit!" pekik bu Murni.


"Budhe tidak usah pura-pura begitu. Aku tahu budhe mengatakan begini agar aku merubah keputusanku," ucap Rizal.


"Sakit … Rizal. Tolong budhe," rintihnya.


Rizal yang tadinya acuh itu pun sontak menoleh ke ruag tamu. Raut wajahnya berubah panik saat mendapati sang bibi terduduk di lantai sambil memekik kesakitan.


"Astaga. Budhe kenapa?" tanya Rizal.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2