Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Usaha baru


__ADS_3

"Ini kunci ruko nya, Bu. Semoga tempat ini cocok untuk usaha anda," ucap seorang pria pada seorang wanita seraya. menyodorkan sebuah anak kunci.


"Baik, ini uang sewa ruko selama satu tahun ke depan." Giliran wanita itu menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat pada si pria.


"Terima kasih, senang bekerja sama dengan anda, Bu, ehm …"


"Maureen."


"Oh ya, Bu Maureen. Kalau begitu saya permisi dulu, selamat siang."


Ya percakapan tersebut terjadi di antara Maureen dan sang pemilik ruko. Setelah konveksi milik Fabian jatuh bangkrut, Maureen memutuskan untuk pindah ke luar kota. Uang yang seharusnya digunakan untuk membayar gaji karyawan, justru ia gunakan untuk menyewa sebuah ruko yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya. Rencananya tempat itu akan digunakan sebagai tempat usaha dan kali ini pilihannya jatuh pada usaha salon kecantikan.


"Kamu yakin mau membuka usaha di ruko ini?" ucap seorang penyewa ruko persis di sebelahnya. Usahanya sendiri adalah sebuah toko pakaian.


"Laku atau tidak laku, memangnya apa pedulimu?" ketus Maureen.


"Aku beritahu ya, di tempat ini pun sebelumnya sudah pernah ada yang membuka usaha, tetapi akhirnya bangkrut."


"Jadi, maksudmu usahaku nanti juga akan mengalami nasib serupa?"

__ADS_1


"Banyak yang bilang ruko ini tidak membawa hoki, bahkan membawa kesialan. Perlu kamu tahu juga, dulu ruko ini juga pernah menjadi kios bakso. Tetapi ada peristiwa mengerikan yang terjadi di tempat ini."


"Peristiwa mengerikan?"


"Ya, anak pemilik kios yang masih berusia satu tahun ditemukan tewas di dalam kuali kuah bakso yang mendidih. Diduga kejadian itu karena ada campur tangan makhluk tak kasat mata. Sejak saat itu setiap kali ruko ini dijadikan tempat usaha, pada akhirnya akan bangkrut. Kamu mengalami hal yang sama Aku sarankan untuk menyewa ruko di tempat lain."


"Hari gini masih juga percaya dengan takhayul. Anak pemilik kios itu celaka karena kecerobohan orang tuanya sendiri. Kenapa jadi makhluk halus yang dibawa bawa."


"Jika kamu tidak percaya, lihat saja nanti. Tidak lama usahamu pasti bangkrut."


"Sayangnya apa yang kamu katakan tidak menyurutkan sedikit pun niatku untuk tetap membuka usaha di ruko ini. Aku lihat di daerah ini belum ada salon, jadi aku yakin salonku nanti pasti akan laku keras."


"Oh ya, ngomong-ngomong terima kasih atas sambutan kalian yang teramat menyenangkan ini," sindir Maureen.


"Dasar keras kepala!" umpat pemilik kios pakaian.


"Saya permisi dulu, mau berbelanja alat-alat salon," ucap Maureen seraya berlalu dari hadapan keduanya.


"Aku berani bertaruh, tidak sampai satu tahun usahanya akan bangkrut," pemilik toko pakaian.

__ADS_1


Maureen menaiki taksi menuju mall tempat ia berbelanja peralatan salon dan perlengkapannya. Sialnya di tempat itu dia juga bertemu dengan seorang pemuda yang pernah menjadi karyawannya. Pemuda itulah yang kini menjadi pelayan toko tempatnya berbelanja.


"Bu Maureen apa kabar? Saya dengar sekarang pak Fabian dirawat di rumah sakit jiwa ya?" tegurnya.


Maureen terdiam, ia enggan menanggapi pertanyaan menyebalkan itu.


"Itu pasti hukum karma baginya karena tidak membayarkan hak kami," ujarnya.


"Oh, jadi ini pengusaha dzolim yang kamu ceritakan itu." Salah satu kawannya menimpali.


"Maaf, saya tidak mengerti apa yang kamu bicarakan," bantah Maureen.


"Jadi, selain dzolim, Bu Maureen ini juga lupa ingatan?" sindir si pelayan toko.


"Saya batal berbelanja di toko ini!" seru Maureen. Dia lantas meninggalkan toko tersebut.


"Sial!" umpatnya.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2