Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Talak aku, Mas


__ADS_3

"Kenapa kamu liatin mas kaya gitu?" 


Rupanya mas Fabian merasa jika aku tengah mengamatinya.


"Tidak biasanya Mas mandi keramas subuh-subuh begini kecuali kita, …"


"Kamu jangan berpikir macam-macam. Apa salah jika sesekali mandi keramas di pagi hari? Itu bisa membuat pikiran lebih jernih." 


Mas Fabian menggantung handuk yang basah itu di balik pintu, dia lalu berjalan mendekati Lyra yang tengah asyik bermain sendiri. Pandangannya tak beralih dari mainan yang berputar tepat di atas tempat tidurnya.


"Mas mau sarapan apa pagi ini?" tanyaku sembari beranjak dari sisi Lyra.


"Apa saja."


Kenapa dengan suamiku? Kenapa nada bicaranya jadi datar begini? Biasanya setiap kutanya menu sarapan, dia selalu menyebutkan apa keinginannya. Dan aku pun akan dengan senang hati menyiapkan masakan yang dimintanya itu.


"Nasi goreng? Atau, …"


"Apa saja yang penting bisa dimakan."


Jujur, aku tak menyukai kalimat itu. Aku lebih suka mas Fabian menyebutkan makanan yang diinginkannya meskipun aku harus sedikit kerepotan untuk menyiapkannya.


"Ya sudah. Aku buatin nasi goreng saja."


Mas Fabian tak mengiyakan. Dia terlihat asyik menemaniku Lyra bermain.


Aku beranjak dari kamar dan berjalan menuju ruang makan.


"Selamat pagi, Mbak Zura," sapa Mila saat kami berpapasan di ruang tengah.


"Mbak punya hair dryer gak?" tanyanya.


"Hair dryer?" Kedua alis mataku bertaut.


"Iya. Itu loh, buat mengeringkan rambut."


Apa-apaan ini? Selain mas Fabian, Mila ternyata juga mandi keramas subuh-subuh begini.


"Biasa aja dong Mbak lihatnya. Dari semalam aku kepanasan, jadi rambutku lepek karena keringat. Makanya aku keramas pagi-pagi begini."


"Aku gak punya hair dryer," ucapku datar.


"Hari ini gak punya hair dryer? Kuno banget," ledeknya.


"Buat apa? Kurasa masih banyak benda yang lebih penting daripada pengering rambut itu."


"Tapi kalau pake handuk keringnya lama."


"Aku mau shalat subuh terus memasak untuk sarapan mas Fabian." Aku berlalu dari hadapan Mila dan berjalan menuju kamar mandi.


Entah mengapa aku merasa lebih tenang saat tetes demi tetes air wudhu mulai membasahi kulitku. Pikiran buruk tentang mas Fabian dan Karmila yang sempat melintas di kepalaku pun perlahan mencair.


Aku baru saja melipat kembali mukenaku ketika tiba-tiba harum masakan menyeruak di hidungku. 


Tidak! Aku tidak akan membiarkan Mila membuat sarapan untuk mas Fabian!


Dari musholla aku bergegas menuju dapur. Benar saja, Mila baru saja selesai memasak sepiring nasi goreng.


"Siapa yang menyuruhmu memasak?" tanyaku. Mila menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Mbak Zura kelamaan sholat nya. Mas Fabian keburu lapar," ucapnya sembari memindahkan nasi goreng dari panci penggorengan ke dalam piring.


"Tahu apa kamu tentang keseharian mas Fabian? Aku sudah sepuluh tahun hidup bersamanya. Jadi aku yang lebih tahu apa pun tentangnya."


"Jadi?"


"Mas Fabian hanya akan memakan sarapan buatanku." Aku mengambil piring yang beristri penuh nasi goreng panas itu dan berniat menyisihkannya. Tanpa kuduga Mila justru menarik piring itu.


"Pyar!" Piring beserta isinya pun tumpah dan berceceran di atas lantai.


"Astaghfirullah. Ada apa ini?"


Aku mengalihkan pandanganku ke arah pintu dapur. Mas Fabian sudah berdiri di sana. Tentu saja sambil menggendong Lyra.


"Aku berniat baik memasak sarapan untukmu. Tapi mbak Zura malah membanting piringnya," tuduh Mila.


"Bukan begitu, Mas. Aku hanya, …"


"Azzura! Tidak sepantasnya kamu berbuat begitu!" bentaknya.


Aku mengelus dada. Tentu saja rasanya sakit bukan main. Hanya karena si penjilat satu ini mas Fabian memanggil namaku saja. 


Aku mengambil alih Lyra dari gendongan mas Fabian dan mengajaknya kembali ke kamar. Aku merasa kedua mataku mulai menghangat, hingga akhirnya buliran bening itu menetes begitu saja dari sudut mataku. Aku memeluk Lyra sambil tergugu.


"Mas minta maaf, Dek," ucap mas Fabian sembari duduk di sisiku. Dia lantas mengusap lembut punggungku.


"Mas berubah sekarang."


"Mas gak pernah berubah. Mas masih begitu mencintaimu."


"Cinta macam apa? Belum apa-apa saja Mas sudah bersikap kasar padaku. Bagaimana jika nanti mas menikah dengannya?"


"Aku tidak membanting piringnya. Aku hanya ingin menyisihkan piring itu tapi dia malah merebutnya."


"Mulai sekarang kamu harus siap berbagi apapun dengan Karmila."


"Termasuk berbagi suami?" tanyaku dengan suara bergetar.


"Kamu harus ingat, Dek. Dosa hukumnya mengingkari amanat."


"Lantas?"


"Mas akan tetap menikahi Mila dengan atau tanpa persetujuanmu."


"Talak aku sekarang, Mas," ucapku.


"Kamu bicara apa? Apa kamu gak mikir gimana nasib Lyra? Kamu pikir gampang hidup menjanda?"


"Mas jangan mendahului ketentuan Allah. Allah sudah menjamin rezeki dari setiap makhluknya. Aku akan buktikan aku bisa hidup tanpa Mas."


"Hoek!" Rasa mual itu menyerangku lagi.


"Kamu sakit?" 


Mas Fabian mencoba mengusap lagi punggungku tapi aku menepisnya.


"Nduk…Nduk…"


Tiba-tiba kudengar suara ibu memanggilku dari kamar tamu.

__ADS_1


Aku membaringkan Lyra yang kembali terlelap di atas ranjang dan bergegas menuju kamar itu. Lekas kuseka air mataku. Aku tak ingin ibu tahu jika aku habis menangis.


"Ya, Bu."


"Bantu ibu ke kamar mandi. Ibu ingin mengambil air wudhu," ucapnya.


Aku tahu ibu tengah kesakitan di bagian punggungnya. Namun, hal ini tidak membuatnya melewatkan kewajibannya sebagai umat muslim.


Perlahan kubantu wanita yang telah melahirkan suamiku itu beranjak dari tempat tidurnya. Namun aku gagal melakukannya. Entah karena tenagaku yang tidak cukup kuat ataukah ibu yang memang kesulitan mengangkat tubuhnya sendiri. Mau tidak mau aku pun memanggil mas Fabian.


"Mas, tolong bantu aku," ucapku.


Tidak berselang lama mas Fabian masuk ke dalam kamar itu.


"Kenapa, Dek?" tanyanya.


"Ibu ingin mengambil air wudhu," jawabku.


Kami berdua pun mencoba mengangkat tubuh ibu dari atas ranjang. Namun, ibu justru menjerit kesakitan.


"Kenapa, Bu?" tanyaku.


"Punggung ibu terasa kaku. Ibu tidak bisa menggerakkannya."


"Astaghfirullah!" seru kami hampir bersamaan.


"Ya sudah. Ibu bisa shalat sambil tiduran."


"Bagaimana dengan wudhunya, Mas?" tanyaku.


"Ibu bisa melakukan tayamum pada tembok," jawab mas Fabian. Aku mengangguk paham.


Dengan bimbingan mas Fabian, ibu melakukan tayamum hingga akhirnya beliau selesai menunaikan dua rakaat subuhnya. Untuk perihal satu ini pengetahuan mas Fabian tidak perlu diragukan lagi.


"Apa tidak sebaiknya kita membawa ibu ke rumah sakit, Mas?" tanyaku.


"Mas akan memanggil mbok Jum pagi ini. Jika keadaan ibu belum membaik, kita baru membawanya ke rumah sakit."


Aku tak ingin berdebat di hadapan ibu. Akhirnya aku mengangguk setuju.


"Ibu mau minum teh hangat?" tanyaku.


Beliau menganggukkan kepalanya.


Aku pun beranjak dari kamar tamu dan berjalan menuju dapur.


"Hoek!" 


Untuk ke sekian kalinya rasa mual itu menyerangku. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?


Bersambung….


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏

__ADS_1


Happy reading….


__ADS_2