
POV Author.
Herdian terlihat memarkir mobilnya di depan sebuah cafe. Di pun lantas menuju sebuah meja.
"Sudah lama menunggu, Tuan Ken? Maaf, Saya terlambat. Saya baru saja dari rumah sakit," ucapnya.
"Apa ada keluarga anda yang sakit?" tanya pria yang dipanggil Ken itu.
"Bukan keluarga saya yang sakit, tapi salah satu kenalan saya."
"Memangnya di mana keluarganya?"
"Ehm … begini. Siang tadi saya mendatangi sebuah SPBU untuk mengisi bahan bakar untuk mobil saya. Akan tetapi saya mendapati keanehan pada sebuah taksi yang berada tidak jauh dari pintu keluar SPBU tersebut."
"Keanehan?"
"Ya. Saya melihat asap keluar dari taksi itu. Saya menggedor kaca jendela mobil untuk memastikan apakah ada orang di dalam taksi itu. Karena tidak ada jawaban, saya pun akhirnya memecahkan salah satu kaca jendela taksi. Ternyata dugaan saya benar. Bu Azzura salah satu kenalan saya berada di dalam taksi dalam keadaan tidak sadarkan diri," papar Herdian.
"Tunggu. Azzura?"
"Benar, Tuan. Nama penumpang taksi itu adalah Azzura. Dia juga ibu dari salah satu kawan sekolah anak saya. Ly … Ly … ya, nama anak itu Lyra."
"Astaghfirullahaldzim!"
"Kenapa Tuan Keenan kaget begitu? Apa Tuan mengenal perempuan itu?" tanya Herdian.
"Ya, saya mengenalnya. Perempuan bernama Azzura itu adalah kawan saya. Dia-dia nyaris saja menjadi kakak ipar saya."
"Apa?!"
Keenan membuang nafas.
"Ya, Azzura adalah calon istri kakak laki-laki saya. Namun, sepertinya Allah tidak menghendaki mereka berjodoh. Kakak saya meninggal dunia satu hari menjelang hari pernikahan mereka."
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Malang benar nasib bu Azzura," ujar Herdian.
"Oh ya, bagaimana keadaan Zura sekarang?"
"Meski sempat tak sadarkan diri di dalam taksi, Alhamdulillah, keadaannya membaik. Saat saya meninggalkan rumah sakit tadi dia sudah sadar dan bertemu dengan keluarganya."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu."
"Baiklah, kita mulai saja pembicaraan tentang rencana kerjasama kita membuka mall. Rencananya supermarket akan saya bangun terdiri dari tiga lantai. Lantai dasar untuk kebutuhan sehari-hari, lantai dua untuk toko buku dan mainan anak, dan lantai tiga untuk area bermain," ucap Herdian.
"Ehm … bagaimana jika area bermain dibuat menyatu saja dengan toko mainan saja. Untuk lantai tiga kita isi dengan toko pakaian muslim," usul Keenan.
"Ide anda menarik juga. Kalau boleh saya tahu, kenapa anda menginginkan ada toko baju muslim di supermarket kita?"
"Memiliki toko pakaian muslim adalah salah satu impian mendiang kakak laki-laki saya. Tapi, tidak lama setelah impiannya terwujud, Allah memanggilnya. Jadi, saya ingin melanjutkan kembali toko baju miliknya," ungkap Keenan.
"Baiklah, saya setuju. Minggu ini juga kita mulai proyek kerjasama kita," ucap Herdian. Keenan mengangguk setuju.
"Oh ya, apa Tuan tidak ingin memesan sesuatu di cafe ini? Minuman, mungkin," ucap Keenan.
"Ehm … mungkin saya akan memesan beberapa potong ayam goreng untuk putera semata wayang saya. Dia pasti senang jika saya bisa makan malam bersamanya. Selama ini sudah begitu banyak waktu saya yang terbuang untuknya. Dia seringkali makan malam hanya ditemani bibi."
"Maaf, kalau boleh saya tahu, di mana istri Tuan?" tanya Keenan.
"Saya dan ibunya Haikal sudah cukup lama berpisah. Bibi lah yang mengurus segala keperluannya juga mengantar jemput dia sekolah."
"Oh, maaf, saya tidak tahu."
"Tidak apa."
****
Menjelang petang Keenan tiba di rumahnya. Ia heran mendapati raut wajah sang ibu yang terlihat kesal.
"Ibu kenapa? Sepertinya sedang kesal sekali."
"Bagaimana ibu tidak kesal. Kue pesanan untuk acara arisan ibu tidak datang. Padahal dia sendiri yang mengatakan ingin mengantarkan kue itu ke rumah ini. Ibu coba menelponnya berkali-kali tapi dia tidak menjawabnya. Sepertinya dia hanya ingin mengerjai ibu."
"Memangnya di mana Ibu memesan kue itu?"
"Di toko kue LYRA."
"Maksud Ibu toko kue milik Azzura 'bukan?" tanya Keenan. Sang ibu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Zura tidak bisa mengantarkan kue pesanan Ibu karena dia sedang mengalami musibah."
__ADS_1
"A-a-pa? Musibah apa yang kamu maksud, dan darimana kamu tahu?"
"Beberapa saat yang lalu aku baru saja bertemu dengan salah satu klien bisnisku. Dia memang datang sedikit terlambat dan ternyata alasannya adalah mengantarkan Zura ke rumah sakit."
"Astaga! Memangnya apa yang terjadi dengan Zura?"
"Tuan Herdian mengatakan jika Zura ditemukan tidak sadarkan diri di dalam taksi yang ditumpanginya."
"Lantas, bagaimana keadaan Zura sekarang? Dia baik-baik saja 'bukan?"
"Tuan Herdian mengatakan jika Zura sudah sadar dan keadaannya sudah mulai membaik."
Tiba-tiba Anita beranjak dari tempat duduknya dan menarik lengan Keenan.
"Ayo antar ibu ke rumah sakit sekarang. Ibu harus segera menjenguk Zura. Ibu juga harus minta maaf karena sudah berprasangka buruk padanya."
"Sebentar, Bu. Aku ganti baju dulu," ucap Keenan.
"Tidak usah ganti baju. Nanti jam besuknya keburu selesai."
"T-t-tapi, Bu, …"
"Kalian mau kemana?" tanya Yudha yang baru saja masuk di ruang tamu."
"Kami mau ke rumah sakit menjenguk Zura."
"Kenapa dengan Zura?"
"Dia sedang sakit. Ya sudah, kami pergi dulu. Kami akan kembali saat makan malam," ucap Anita.
"Hati-hati."
Keenan dan Anita pun berlalu dari hadapannya.
Bersambung …
Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya baruku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰