
"Maaf, Mbak ini siapa ya?" tanya mbok Marni.
"Ini saya mbok, Azzura."
"Azzura siapa ya?"
"Coba Mbok ingat-ingat. Dulu ada seorang perempuan dan seorang anak kecil yang pernah ditolong mas Keenan karena pingsan."
Mbok Marni pun lantas mengamati wajahku. Setelah beberapa saat akhirnya dia mengingatku.
"Oh iya. Saya ingat sekarang. Masyaallah. Saya tidak menyangka kita Allah kembali mempertemukan kita. Maaf saya lupa. Maklum lah Mbak, faktor u."
Aku tersenyum tipis menanggapi ucapan itu.
"Penampilan Mbak Zura sekarang juga sudah berbeda. Itu juga yang membuat saya pangling."
"Apanya yang beda, Mbok? Penampilan saya masih seperti yang dulu kok."
"Mbak Zura lebih cantik."
"Oh, jadi ini Azzura yang dimaksud suami dan kedua anak saya? Kamu baik sekali. Pantas saja salah satu anak laki-laki saya jatuh hati padamu."
"Deg! Deg! Deg!" Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang. Aku sama sekali tidak menyangka jika perempuan yang kutolong in ternyata ibu kandung dua kakak beradik Keenan dan Gibran.
"Oh ya. Bagaimana perasaanmu pada Gibran?" tanya bu Anita.
Ah! Kenapa beliau harus memberi pertanyaan yang sulit ini kujawab?
"Ehm, saya-saya … minta waktu untuk berpikir, Bu. Saya pernah sekali gagal berumah tangga. Itulah sebabnya saya harus lebih berhati-hati memilih pasangan. Tidak ada seorang pun yang mau jatuh di lubang yang sama."
Bu Anita mengulas senyum.
"Apapun itu, saya berterima kasih padamu. Berkat kamu, Gibran banyak berubah. Dia yang dulunya sulit diatur, kaku, dan tidak peduli dengan keluarga, kini menjadi pribadi yang lebih baik. Saya juga bisa melihat kesungguhannya untuk menjadikan kamu sebagai pendamping hidupnya. Memang, dulu dia suka berkawan dengan gadis-gadis yang kurang baik. Tapi saya yakin sekarang hanya kamu saja kawan terdekatnya."
"Mbak Azzura ini baik dan berhati tulus. Saya sangat senang jika Mbak bisa menjadi pendamping mas Gibran." Mbok Marni menimpali.
"Untuk sekarang saya belum bisa memberikan jawaban."
"Saya paham bagaimana perasaanmu. Jika kalian memang berjodoh, saya yakin Allah akan menyatukan kalian."
"Aamiin," ucap mbok Marni.
"Kenapa Mbok yang mengamini kata-kata saya?"
"Bukankah ucapan yang baik harus kita Amini, karena itu adalah do'a."
"Benar juga."
"Oh ya, apa kata dokter? Nyonya baik-baik saja 'bukan?" Tiba-tiba mbok Marni mengalihkan pembicaraan.
"Dokter mengatakan beliau harus berobat ke rum- …"
"Tidak apa kok Mbok," potong Bu Anita.
"Saya baik-baik saja. Saya sakit perut karena asam lambung saya naik. Sesudah minum obat pasti sembuh," imbuhnya.
"Syukurlah kalau Ibu tidak apa-apa."
Kenapa bu Anita harus berbohong pada mbok Marni? Apa hal itu dilakukannya agar tak membuatnya khawatir?
Obrolan kami terhenti ketika tiba-tiba ponselku berdering. Aku pun bergegas mengambil gawai pipih itu dari dalam tasku. Rupanya pelangganku yang menelpon.
[Halo, Assalamu'alaikum, Bu]
__ADS_1
[Waalaikumsalam. Maaf Bu Zura. Kenapa pesanan saya belum sampai? Bukankah saya sudah bilang, hari ini jam sembilan pagi pesanan sudah harus tiba di toko]
[Sebelumnya saya minta maaf. Saya sedang dalam perjalanan ke toko Ibu. Tapi ada sedikit masalah di jalan. Barang pesanan Ibu akan tiba dalam waktu satu jam ke depan]
[Begitu ya. Saya pikir pesanan saya belum siap]
[Alhamdulillah pesanan Ibu sudah siap. Mohon maaf atas keterlambatannya]
[Tidak apa, saya maklum. Kita memang tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi. Masalah terkadang datang tiba-tiba]
[Terima kasih atas pengertian Ibu. Saya akan kembali melanjutkan perjalanan]
[Ya sudah kalau begitu. Terima kasih. Assalamu'alaikum]
[Waalaikumsalam]
Panggilan terputus.
"Saya minta maaf. Gara-gara menolong saya, kamu jadi kena komplain pelanggan," ucap bu Anita.
"Tidak apa, Bu. Insyaallah semuanya aman terkendali. Para pelanggan saya Alhamdulillah baik dan pengertian."
"Saya akan merasa bersalah jika pelanggan tadi itu membatalkan pesanan gara-gara terlambat."
"Alhamdulillah pelanggan saya bukan tipe seperti itu. Saya minta maaf tidak bisa mengantar Ibu sampai di rumah."
"Tidak apa, saya bisa naik taksi. Sekali lagi terima kasih. Semoga Allah membalas kebaikanmu."
"Aamiin. Assalamu'alaikum." Kuraih tangan kedua perempuan itu lalu bergantian mengecup punggung tangannya. Entah mengapa rasa hangat itu tiba-tiba menjalar saat ibu Anita menyentuh puncak kepalaku.
"Hati-hati, calon menantu," goda mbok Marni yang sontak membuatku salah tingkah. Ini baru mbok Marni, bagaimana jika bu Anita yang bilang begitu?
"Hati-hati, Nak. Saya harap kamu bisa memberi jawaban yang diharapkan anak saya," ucap bu Anita.
Aku beranjak meninggalkan klinik lalu melanjutkan perjalanan menuju toko pelangganku.
"Duh … yang baru ketemu calon mertua. Pasti hatinya sekarang sedang berbunga-bunga," goda pak Amin.
"Pak Amin ini. Pasti Pak Amin tadi nguping ya?"
"Tidak menguping kok Bu. Pintu ruang perawatan tadi 'kan tidak ditutup. Jadi saya bisa mendengar obrolan kalian." Pak Amin terkekeh. "Sudah, jangan kelamaan mikir. Terima saja mas Gibran," imbuhnya.
"Saya masih butuh waktu untuk berpikir, Pak. Apalagi saya belum mengenal betul siapa Gibran. Tiba-tiba saja dia mengutarakan perasaannya dan mengajak saya menikah. Saya tidak ingin gagal untuk ke dua kalinya."
"Benar juga sih Bu. Tapi jangan kelamaan juga. Nanti mas Gibran nya diambil orang." Lagi-lagi pak Amin terkekeh.
"Bisa lebih cepat sedikit, Pak. Saya tidak ingin pelanggan saya menunggu lebih lama."
Pak Amin pun lantas menambah kecepatan mobilku.
"Sekali lagi saya minta maaf untuk keterlambatan pesanan Ibu," ucapku pada langgananku.
"Tidak apa kok Bu. Saya Maklum. Harga dan kualitas produk Bu Azzura ini bisa bersaing dengan tempat lain. Itu yang membuat saya enggan berpaling hati."
"Ibu bisa saja. Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih kepercayaan Ibu pada LYRA KONVEKSI."
"Sama-sama, Bu."
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
"Kita langsung pulang, Bu?" tanya pak Amin.
__ADS_1
Aku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tanganku. Pukul setengah sepuluh pagi.
"Ya, Pak. Kita langsung pulang, sekalian jemput Lyra."
"Baik, Bu."
Sesampainya di sekolah Lyra.
Aku sengaja meminta pak Amin memarkir mobilnya sedikit agak jauh dari sekolah Lyra. Bukan apa, tidak semua wali murid di sekolah itu memiliki mobil. Aku hanya tidak ingin mereka berpikir aku pamer. Jemput sekolah dekat saja harus pakai mobil.
"Assalamu'alaikum, Ibu-ibu," sapaku pada wali murid yang berada di tempat yang disediakan untuk menunggu.
"Waalaikumsalam, eh Bu Zura. Tumben Bu Zura datang menjemput Lyra."
"Iya, Bu. Kebetulan saya memiliki waktu luang."
"Bu Zura ini semakin sukses ya. Pasti konveksi nya nanti bisa jadi perusahaan tekstil," ucap salah satu ibu.
"Aamiin, ya Allah. Terima kasih untuk do'a nya, Bu. Semoga mendatangkan kebaikan untuk Ibu.
Bel panjang tanda sekolah berakhir berbunyi. Tidak lama kemudian para siswa berhamburan keluar kelas. Melihat keberadaanku di sekolahnya tentu saja membuat raut wajah putriku berseri.
"Ibu …" ucapnya seraya berlari ke arahku.
"Bagaimana sekolahmu hari ini, Sayang?"
Belum juga menjawab pertanyaanku. Tiba-tiba aku mendapati kotoran di baju seragam putriku. Sepertinya bekas permen karet. Aku berniat membersihkan kotoran itu dari pakaiannya namun ternyata benda itu menempel cukup kuat di kain.
"Ha ha ha! Rasain! Bajunya kena permen karet!" ledek seorang murid laki-laki.
"Apa ini perbuatan kamu, Sayang?"
"Rasain! Dia ini berisik! Jadi aku jahilin. Ha ha ha!"
Astaghfirullahaldzim. Siapa anak nakal ini? Dan mana orangtuanya?
"Sekarang minta maaf pada putri saya," ucapku.
"Nggak!" serunya sembari mendorong tubuh Lyra. Jika aku tak berdiri di sampingnya, putriku itu pasti sudah jatuh tersungkur.
"Anak itu namanya Alden, Bu. Murid baru tapi nakalnya bukan main," ucap salah satu ibu.
Aku semakin dibuat kesal saat anak laki-laki itu menjulurkan lidahnya ke arahku sebelum akhirnya ia masuk ke dalam sebuah mobil. Kupercepat langkahku menuju mobil itu.
"Permisi, bisa turun sebentar?" ucapku pada seorang wanita yang duduk di samping bangku kemudi.
"Kamu siapa? Saya sibuk!"
"Anak Ibu sudah berbuat nakal pada putri saya. Saya hanya ingin dia minta maaf," ucapku.
"Saya tidak punya banyak waktu! Ayo, Pak. Kita jalan sekarang."
Mobil itu pun berlalu dari hadapanku.
Tunggu! Sepertinya aku pernah melihat wanita itu. Tapi di mana?
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ke novel baruku yuk yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰