
"Bi, tolong setrika baju ini, ya. Malam nanti mau kupakai," ucapku sembari menyodorkan sebuah gamis berwarna peach beserta hijabnya pada Bi Ami.
"Memangnya Ibu mau ke mana?"
"Saya-saya ehm …saya mau ke acara pesta pernikahan kawan saya."
"Cie … yang mau kondangan bareng kesayangan," goda Fina yang tiba-tiba saja muncul di hadapanku. Sontak aku pun menjadi salah tingkah dibuatnya.
"Kamu jadi pergi dengan Gibran malam ini kan 'Nak?" Ibu menimpali.
Aku tahu sekarang pasti ibu yang sudah membocorkan tentang acara malam nanti pada Fina.
"Ehm … aku tidak enak jika menolaknya, Bu."
"Kapan lagi jalan dengan laki-laki ganteng." Ibu terkekeh.
"Sudahlah, Bu. Terima saja lamarannya. Aku yakin mas Gibran itu laki-laki yang baik."
"Kamu ini bicara apa, Fin. Anak kecil belum waktunya bicara soal itu."
"Siapa bilang aku anak kecil? Sebentar lagi usiaku 17 tahun loh, Bu," bantahnya.
"Kalian ini kompak sekali kalau meledekku," gerutuku sebal.
Beberapa saat kemudian Lyra keluar dari dalam kamarnya. Gadis kecilku yang selalu penasaran itupun menanyakan kenapa tiba-tiba aku menyuruh bi Ami menyetrika baju yang menurutnya paling indah itu.
"Ibu mau pergi sama paman Giblan ya?" tanyanya.
"Kenapa tebakannya tepat sekali?" batinku.
"Ehm … i-i-iya, Nak. Ibu pergi sebentar saja kok."
"Kamu jangan ikut, Lyra. Kamu di rumah saja sama nenek sama mbak Fina. Nanti Mbak Fina dandanin kamu pakai alat make up baru mbak Fina deh," bujuk Fina.
"Benelan loh, Mbak."
"Benar. Memangnya kapan mbak Fina bohong."
"Tenang, Bu. Aku tidak akan membiarkan seorang pun mengganggu kebersamaan kalian," bisik Fina yang kutanggapi dengan memberinya sebuah cubitan kecil di bagian lengannya.
"Lyra ke kamar mbak Fina yuk. Mbak Fina punya video kartun baru." Fina menggandeng tangan Lyra, keduanya pun pantas masuk ke dalam kamarnya.
Pukul setengah tujuh malam.
Aku baru saja masuk ke dalam kamarku setelah menunaikan salat Maghrib berjamaah di mushola rumahku ketika tiba-tiba ponselku berdering singkat. Sebuah pesan masuk di aplikasi percakapan.
[From: Gibran]
[Setengah jam lagi kujemput, dandan yang cantik ya, Sayang]
Aduh, bagaimana ini? Selama ini aku nyaris tidak pernah berdandan. Apa pantas jika aku datang ke pesta pernikahan tanpa polesan sama sekali?
Harusnya aku kutolak saja ajakannya.
"Fina, Apa ibu boleh masuk, Nak?" ucapku dari depan pintu kamar Fina.
"Masuk saja, Bu. Pintunya tidak dikunci kok. Aku sedang mengerjakan PR."
"Oh, ya sudah, ibu tidak mau ganggu kamu."
"Sebenarnya ada apa, Bu?" tanya Fina yang tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapanku.
"Ehm … anu … itu … ibu mau minta tolong."
"Minta tolong?" Fina mengerutkan keningnya.
"Ehm … bantu ibu make up."
"Ya Allah, Bu… Bu. Aku pikir ibu mau minta tolong apa. Kalau masalah make up, Ibu tidak usah khawatir. Pokoknya malam ini aku akan membuat Mas Gibran terpesona dengan penampilan Ibu."
"Jangan berlebihan juga, Nak. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik."
"Tenang saja, yang pasti malam ini aku akan membuat ibu tampil beda dari biasanya." Fina menggandeng tanganku lalu mengajakku masuk ke dalam kamarku.
"Selama aku merias Ibu, Ibu jangan buka mata ya," ucapnya.
"Awas saja kalau kamu berlebihan merias ibu. Ibu hanya ingin terlihat sedikit lebih segar. Tidak mungkin 'bukan? ibu datang ke pesta pernikahan tanpa riasan wajah sedikitpun."
"Sekarang ibu tutup mata,ya."
__ADS_1
Aku mulai menutup mataku. Entah apa yang dilakukan Vina pada wajahku, yang jelas aku merasa wajahku lebih tebal dari hari-hari sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, tiba lah saatnya Fiina menyuruhku untuk membuka mataku.
"Sudah selesai!"
Perlahan aku membuka mata. Kutatap pantun wajahku di cermin. Wajah siapa ini kenapa aku hampir tak mengenalinya?
"Fin …"
"Ya, Bu."
"Kamu yakin, riasan ini tidak berlebihan?"
tanyaku.
"Nggak lah, Bu. Riasan ini cocok sekali untuk acara pesta."
Tidak berselang lama suara klakson terdengar dari halaman rumahku.
"Tuh, pangeran sudah datang untuk menjemput sang Putri," goda Fina.
Aduh, bagaimana ini? Setelah dirias, kenapa aku jadi merasa tidak percaya diri begini?
Dari dalam kamar kudengar suara ibu yang tengah mengobrol dengan Gibran fi ruang tamu.
"Zura pasti sedang dandan di dalam kamarnya."
"Dandan? Untuk apa berdandan. Tanpa memakai riasan pun, di mataku dia adalah wanita yang paling cantik."
"Yang benar saja, masa mau ke pesta tidak memakai riasan sama sekali. "
"Mas Gibran tidak usah khawatir, saya hanya merias wajah ibu tipis-tipis kok, tidak sampai seperti ondel-ondel," ucap Fina yang sontak membuat tawa Gibran meledak.
Kupandang sekali lagi pantulan wajahku di cermin. Aku merasa bibirku terlalu merah, alisku juga terlalu tebal. Jadi aku menghapusnya dengan tissue basah.
Ah! Apa-apaan si Fina ini? Katanya mau merias wajahku tipis-tipis, tapi apa ini? Aku jadi merasa seperti memakai topeng.
"Sepertinya lebih baik begini," gumamku setelah menghapus riasan di wajahku yang terasa seperti lapisan tebal ini.
"Ibu? Loh, kok …?"
Fina tercengang saat melihatku keluar dari dalam kamar. Dia pasti berpikir kemana riasan yang tadi sudah payah dibuatnya.
"Kamu cantik sekali malam ini," puji Gibran. Rasanya jantung ini mau melompat saja dari tempatnya.
"Ah, Ibu. Kenapa riasannya dihapus?" protes Fina.
"Memangnya kamu tadi merias Zura?" tanya ibu.
"Iya, Bu. Tadi aku merias ibu tipis-tipis saja kok."
"Tipis-tipis kamu bilang? Aku malah merasa asing dengan wajahku."
"Aku hanya ingin Ibu tampil cantik, itu saja," ucap Fina.
"Begini saja ibumu ini sudah sangat cantik, Fin. Karena bagiku yang terpenting adalah kecantikan hatinya."
Ah! Rayuan macam apa ini?
"Oh ya, di mana Lyra?" tanya Gibran.
"Setelah makan malam tadi dia bilang mengantuk, sekarang sudah tidur," jawabku.
"Sayang sekali, padahal aku ingin mengajaknya juga."
"Kenapa kamu ingin mengajak Lyra juga? Memangnya kamu tidak malu jalan sama janda beserta anaknya?" tanyaku penuh selidik.
Gibran mengulas senyum.
"Kenapa aku harus malu? Aku justru ingin memperkenalkan pada kawan-kawanku, inilah calon istri dan putri sambungku."
Gibran … setulus inikah hatimu? Sampai-sampai kamu ingin memperkenalkanku dan Lyra sebagai calon istri dan anak sambungmu?
Aku cepat-cepat menyeka buliran bening dari kelopak mataku sebelum sempat menetes.
"Kita berangkat sekarang, acaranya dimulai setengah jam lagi," ucap Gibran.
"Kami pergi dulu, Bu, Fin. Assalamu'alaikum." Kuraih tangan ibu lalu kukecup punggung tangannya. Hal yang sama dilakukan Fina padaku.
__ADS_1
****
"Kamu bawa kado apa untuk kawanmu yang menikah itu?" tanyaku pada Gibran saat aku mendapati sebuah kotak berwarna putih berhiaskan pita di bangku belakang.
"Sepasang piyama," jawabnya.
"Pilihan yang bagus."
Jarak dari rumahku menuju gedung pernikahan itu ternyata cukup jauh. Kami tiba di tempat itu tepat saat acara resepsi dimulai.
"Hai, Bro. Bagaimana kabarmu?" sapa seorang kawan Gibran yang sudah lebih dulu tiba. Di sampingnya berdiri seorang pemimpin bertubuh ramping mengenakan kebaya modern. Rambutnya disanggul dengan hiasan mahkota kecil di kepalanya. Namun aku sedikit menyayangkan bagian dadanya terlalu terbuka.
"Dia istrimu? Kapan kalian nikah, kok nggak kabar-kabar."
"Ehm … dia-dia calon istriku."
"Aku pikir kamu kalian sudah menikah."
"Tenang, nanti undangannya pasti sampai di rumahmu."
Laki-laki yang mengenakan setelan jas berwarna hitam itu tiba-tiba mengamati penampilanku. Dari ujung kaki naik ke kepala dan berakhir di bagian dadaku yang tertutup hijab lebar. Membuatku merasa tidak nyaman.
"Kamu pintar juga memilih istri. Sepertinya dia pintar bermain di atas ranjang," bisiknya.
"Bug! Jaga mulutmu!" Tiba-tiba saja Gibran menghantam perut pria yang belum kuketahui namanya itu.
"Sorry, Bro. Aku hanya bercanda."
"Ayo kita pindah dari sini," ucap Gibran.
"Kamu mau kemana, Bro? Aku masih ingin mengobrol denganmu."
Gibran tak menghiraukan ucapan kawannya itu, dia justru mengajakku menghampiri meja yang berada di bagian depan.
Tidak berselang lama seorang pramusaji menghampiri kami.
"Silahkan minuman nya, Pak … Bu," ucapnya seraya meletakkan dua gelas minuman pada kami. Aku sempat heran kenapa kami diberi minuman dengan warna yang berbeda. Satu gelas berwarna merah, gelas lainnya berwarna kuning. Kenapa kami diberi minuman dengan warna yang berbeda?
"Terima kasih," ucapku. Aku memandang sekilas wajah perempuan yang mengetahui masker itu. Sepertinya aku mengenal sorot mata ini. Tapi siapa? Ah! Buat apa juga aku mengingat hal-hal yang tidak penting.
"Nggak diminum?" tanya Gibran.
"Ehm … aku-aku kurang suka dengan minuman berwarna mencolok begini."
"Ya sudah, biar kuganti minumannya. Kamu suka minuman rasa apa?"
"Jika ada aku lebih memilih air putih."
Gibran meraih gelas berisi sirup strawberry lalu membawa berlalu dari hadapanku. Berapa saat kemudian dia kembali ke meja kami dengan membawa segelas air putih."
"Terima kasih," ucapku.
Sekitar satu jam kemudian acara resepsi pun selesai. Setelah menyalami kedua mempelai di pelaminan, kami pun diarahkan menuju meja prasmanan yang berada di balik ruangan itu.
"Kamu nggak makan?" tanya Gibran.
"Aku sudah makan malam tadi."
"Sudah tahu mau ke pesta, kenapa makan malam di rumah?"
"Aku terbiasa makan tepat waktu agar penya- …maksud ku aku tidak ingin terserang penyakit maag."
"Makanannya enak loh. Kamu pasti nyesel kalau nggak nyobain. Buka mulutmu, aaa
… " Gibran memintaku agar membuka mulutku. Namun aku menggelengkan kepalaku.
"Aduh … romantis sekali. Makan saja suap-suapan," sindir salah satu tamu undangan yang sontak membuatku salah tingkah.
"Ehm … tidak kok, Bu. Saya makan sendiri." Meski terpaksa, aku pun akhirnya mengambil makanan yang berada di meja itu.
Aku baru saja memasukkan sendok pertama makananku ketika tiba-tiba terjadi kegaduhan dari arah meja tempat minuman.
"Ada yang keracunan minuman!" seru seorang tamu undangan.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰