
POV Author
Gibran tiba di rumahnya.
"Ibu di mana, Mbok?" tanyanya pada mbok Marni.
"Di dalam kamarnya, Mas."
Gibran pun lantas menghampiri sang ibu di dalam kamarnya.
"Ibu kenapa?"
"Perut ibu sakit sekali, Nak," rintihnya.
"Ini akibatnya kalau Ibu selalu menolak kuajak periksa ke dokter."
"Sudah, Mas. Jangan marah-marah. Lebih baik sekarang Mas bawa nyonya Anita ke rumah sakit," ucap mbok Marni.
Gibran pun lantas mengajak sang ibu keluar dari kamarnya lalu memapahnya menuju mobil. Di saat bersamaan mobil Keenan juga memasuki halaman rumah.
"Ibu kenapa?" tanyanya.
"Daritadi ibu kesakitan. Aku akan membawanya ke rumah sakit."
"Aku ikut kalian." Keenan keluar dari dalam mobilnya, ia lantas memasuki mobil sang kakak.
Sesampainya di rumah sakit.
"Sejak kapan ibu kalian mengeluh sakit perut?" tanya dokter.
"Sebulan belakangan ini, Dok."
"Kenapa baru sekarang kalian membawanya berobat?"
"Ibu kami selalu menolak saat kami ajak berobat," ucap Keenan.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada ibu kami? Kenapa beliau sering mengalami sakit perut?" tanya Keenan.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan, ibu kalian mengalami batu empedu."
"Batu empedu?"
"Benar. Batu empedu muncul diduga akibat endapan kolesterol dan bilirubin di dalam kantong empedu. Endapan tersebut terjadi akibat cairan empedu tidak dapat melarutkan kolestrol dan bilirubin berlebih yang dihasilkan hati. Gejala penyakit ini adalah nyeri di bagian kanan atau tengah perut yang muncul secara tiba-tiba. Sakit perut juga dapat disertai rasa mual, muntah, hilang nafsu makan, urine berwarna gelap, maag, dan diare," jelas dokter.
"Pantas saja akhir-akhir ini porsi makan ibu berkurang," ucap Keenan.
"Apa penyakit ini berbahaya dan bisa merenggut nyawa saya, Dok? Kedua putera saya belum menikah. Bagaimana kalau saya tiba-tiba meninggal?"
"Astaga. Kenapa Ibu bertanya begitu?" protes Gibran.
"Apa penyakit ini bisa disembuhkan, Dok?" tanya Keenan.
"Insyaallah. Penyakit ibu kalian baru memasuki stadium awal. Saya sarankan ibu kalian agar mengkonsumsi kacang-kacangan, gandum, serta buah-buahan terutama buah apel."
"Alhamdulillah, padahal ibu sudah berpikiran penyakit ini mematikan," ujar Anita.
"Kalau Ibu belum merasakan sakit yang teramat sangat, Ibu pasti belum mau diajak ke sini," ucap Gibran.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan menyalahkan ibu. Yang terpenting sekarang kita membantu ibu agar ibu bisa lekas sembuh," tukas Keenan.
Tiba-tiba dokter itu mengamati wajah Keenan dan Gibran secara bergantian.
"Apa kalian ini kembar?" tanyanya.
Anita mengulas senyum.
"Mereka bukan kembar, Dok. Tapi kakak beradik. Usia Gibran hanya terpaut satu tahun dari Keenan.
"Saya pikir mereka saudara kembar, wajah kedua putera Ibu ini begitu mirip."
"Mana bisa kami dibilang mirip. Jelas saja aku lebih tampan daripada Keenan," protes Gibran yang ditanggapi saudara laki-lakinya itu dengan senyum tipis.
"Kalian berdua masih lajang ya?"
"I-i-iya, Dok. Cari istri ternyata susah." Gibran terkekeh.
"Saya memiliki seorang putri yang masih lajang juga. Entah mengapa semenjak kematian calon tunangannya beberapa tahun silam, puteri saya sepertinya merasa sulit membuka hati untuk laki-laki. Saya sudah berkali-kali mengenalkannya pada anak laki-laki dari kawan-kawan saya. Tapi tidak ada satu pun yang cocok."
"Apa yang dialami puteri Dokter mirip dengan yang dialami Keenan. Setelah kematian calon istrinya, dia tidak pernah dekat lagi dengan perempuan manapun," ucap Gibran.
"Tidak usah buka kartuku," protes Keenan.
"Aku berkata apa adanya kok."
"Ini putri saya, namanya Syifa." Dokter itu meraih sebuah bingkai foto yang berada di atas meja lalu memperlihatkannya pada Keenan.
"Cantik juga putri Dokter," ujar Gibran.
"Puteri dokter Zain ini memang cantik kok. Masa aku harus bilang jelek."
"Kalau boleh saya tahu puteri Dokter bekerja di mana?" tanya Anita.
"Syifa mengajar di TK CERIA. Sepertinya baru Minggu depan dia mulai mengajar di sana. Saya dengar dia dipindahkan dari sekolah lamanya untuk mengisi kekosongan tenaga pengajar akibat pengajar di sekolah itu tewas karena musibah kecelakaan saat sekolah itu mengadakan kegiatan rekreasi," ungkap dokter.
"Apa kamu mau mengenal Syifa lebih dekat, Nak?" tanya Anita pada Keenan.
Keenan menggeleng pelan.
"Maaf, untuk saat ini aku belum berpikir untuk menjalin hubungan dengan seorang perempuan."
"Sudah dua tahun lebih sejak kematian Asha. Kapan kamu akan membuka hati bagi perempuan lagi?" ucap Gibran.
"Mungkin perasaan itu yang kini dirasakan puteri saya."
Dokter Zain terlihat menulis sesuatu di selembar kertas lalu memberikannya pada Anita.
"Saya buatkan resep obat. Ibu bisa menebusnya di apotek," ucapnya.
Wanita dua anak itu mengangguk paham.
"Terima kasih, Dok. Kami permisi dulu, selamat sore."
"Selamat sore."
Ketiganya pun lantas meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
"Bukankah hari ini kamu pergi bersama Lyra? Kenapa kamu sudah di rumah?" tanya Keenan.
"Sebenarnya aku pergi dengan Zura juga."
"Asyik dong."
"Biasa saja, sikapnya masih saja kaku dan dingin padaku."
"Kamu 'kan sukanya perempuan yang agre*if dan berani seperti Luna itu."
"Jangan menyebut namanya lagi, membuatku semakin kesal saja."
"Apa gara-gara kejadian kemarin itu?" tanya Keenan.
"Ya. Tapi apa yang dilakukannya hari ini sudah melewati batas."
"Memangnya kamu bertemu dengan Luna? Di mana?"
"Sepertinya dia mengikutiku sejak dari rumah hingga kami sampai di kolam renang."
"Lantas, apa yang dilakukannya hingga membuatmu kesal begini?"
"Luna hampir mencelakai Lyra."
"Apa?!"
"Dia berusaha mencelakai Lyra dengan cara mendorongnya ke kolam renang khusus dewasa."
"Astaghfirullahaldzim! Apa mantan pacarmu itu sudah kehilangan akal?"
"Luna tidak suka aku dekat dengan perempuan manapun."
"Dasar wanita tidak tahu malu. Lantas, bagaimana keadaan Lyra? Dia baik-baik saja 'bukan?"
"Lyra nyaris tenggelam .Alhamdulillah, aku berhasil menyelamatkannya."
"Syukurlah."
"Kamu harus mengingatkan Zura agar lebih berhati-hati. Luna itu perempuan yang nekad. Bukan tidak mungkin dia kembali mencoba mencelakai Lyra, atau bahkan dirinya," ucap Keenan.
"Entah mengapa kejadian ini membuatku
takut," ucap Gibran.
"Takut?"
"Aku takut Zura menjauhiku," ucap Gibran.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1