
"Semua orang yang menghadiri acara ini meminum minuman yang sama 'bukan? Kenapa hanya satu orang saja yang keracunan?" ucapku.
Gibran pun lalu mengajakku menuju kerumunan itu. Aku terkejut saat mendapati seorang laki-laki tengah terkapar di atas lantai dengan mulut dipenuhi busa.
"Bukankah dia laki-laki yang tadi kutemui?" batinku.
Semua orang hanya melihatnya saja. Tak ada seorang pun yang berani mendekat termasuk perempuan berkebaya modern yang menjadi pasangannya di pesta ini.
"Astaga! Aldo! Kamu kenapa?" tanya Gibran seraya mengangkat tubuhnya setengah duduk.
Laki-laki yang dipanggil Aldo itu hanya diam sambil sesekali memegangi perutnya.
"Mbak temannya 'kan? Kenapa dia bisa begini?" tanyaku pada perempuan berkebaya modern itu.
"Aku-aku tidak tahu. Kami hanya meminum minuman dari meja ini." Perempuan itu mengacungkan jari telunjuknya pada sebuah meja yang digunakan sebagai tempat menyajikan minuman bagi para tamu undangan.
"Jika boleh saya tahu, gelas mana yang dia minum?" tanyaku.
"Gelas berisi minuman rasa strawberry itu."
"Bukankah itu minuman yang tadi diberikan oleh pramusaji untukmu, namun kamu menolak untuk meminumnya?" tanya Gibran padaku.
"Benar."
"Gelas itu yang tadi saya kembalikan ke tempat asalnya. Saya masih ingat betul di mana saya meletakkan gelas itu," jelas Gibran.
"Pramusaji mana yang kamu maksud?" tanya si pengantin pria pada Gibran.
"Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas karena pramusaji itu mengenakan masker."
"Semua pramusaji diharap berkumpul!" seru si pengantin pria.
Beberapa saat kemudian pramusaji yang bertugas di acara pun berbaris, jumlahnya delapan orang.
"Pramusaji mana yang kamu maksud?" tanya si pengantin pria.
Aku dan Gibran pun lantas mengamati wajah ke delapan pramusaji itu. Aneh, aku tidak menemukan pramusaji yang tadi mengantar minuman pada kami.
"Pramusaji yang mana, Gib?" Si pengantin pria mengulangi pertanyaannya..
Diantara ke-8 pramusaji yang kini berdiri di hadapan kami, entah mengapa aku merasa curiga pada salah satu dari mereka. Dia terlihat gelisah sambil sesekali menundukkan wajahnya. Aku pun lantas mengamati sorot matanya. Bukan, bukan dia orangnya.
"Pelakunya tidak ada di sini," ucap Gibran.
"Bagaimana, Do? Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya si pengantin pria.
"Perutku mual, kepalaku pusing dan pandangan mataku berkunang-kunang."
"Ya sudah, aku akan menyuruh salah satu karyawanku untuk mengantarmu ke rumah sakit."
Tanpa menunggu perintah, dua orang pria datang menghampiri Aldo lalu memapahnya keluar dari ruangan tersebut diikuti sang perempuan berkebaya di belakangnya.
__ADS_1
"Tolong kamu masukkan bekas minuman itu ke dalam wadah, Aku mau membawanya ke rumah sakit agar diperiksa kandungannya," ucap si pengantin pria pada salah satu pramusaji.
"Saya mohon maaf untuk ketidaknyamanan ini. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya jangan minum-minuman dari meja ini. Saya akan menggantinya dengan air mineral," imbuhnya.
Setelah memberikan kado pada si pengantin pria, Gibran pun mengajakku meninggalkan ruangan itu.
Aku baru saja menarik handle mobil Gibran. Tiba-tiba saja aku merasa harus ke kamar kecil.
"Maaf, sepertinya aku harus ke kamar kecil."
"Mari kuantar," ucap Gibran.
"Jangan macam-macam kamu!"
"Siapa yang mau macam-macam, memangnya kamu tahu di mana toilet di gedung ini?" tanyanya.
Aku menggelengkan kepalaku.
Setelah mengelilingi gedung serbaguna itu, akhirnya aku menemukan sebuah toilet wanita.
"Kamu tunggu di sini saja nggak usah ikut masuk," ucapku.
"Memangnya aku laki-laki macam apa?" gerutunya yang justru membuatku tersenyum geli.
Dari beberapa toilet yang berada di tempat itu, hanya satu ruangan saja yang terlihat kosong. Aku pun lantas melangkahkan kakiku masuk ke dalam toilet tersebut.
Di saat aku mengunci ruangan itulah tiba-tiba terdengar obrolan yang berasal dari ruangan yang berada persis di sebelahku.
"Tapi … tapi … Mbak."
"Tapi kenapa?"
"Sepertinya Mbak salah sasaran?"
"Apa maksudmu?"
"Yang keracunan minuman itu bukan perempuan yang bersama laki-laki tampan itu."
"Apa?!"
"Saya melihat sendiri saat pria tampan itu mengembalikan gelas berisi sirup rasa strawberry itu ke meja. Saya sempat berniat untuk menyingkirkan minuman itu, namun saya kalah cepat. Gelas itu sudah terlanjur diambil oleh seorang pengunjung lainnya."
"Mati aku! Lantas, bagaimana dengan pengunjung yang meminum minuman itu?"
"Tadi aku sempat melihat mulutnya mengeluarkan busa, dia juga mengatakan merasa mual pada perutnya. Laki-laki itu sekarang dibawa ke rumah sakit."
Entah mengapa obrolan itu membuat keinginanku untuk membuang air kecil tiba-tiba saja hilang. Aku cepat-cepat keluar dari ruangan itu dan menghampiri Gibran yang menungguku di tempat parkir
"Ayo ikut aku!" seruku seraya menarik salah satu tangannya.
"Aku mau dibawa ke mana? Tunggu! Kenapa aku dibawa ke toilet wanita? Astaga!"
__ADS_1
"Ssssst!!" Kutempelkan jari telunjukku di bibir.
"Sebenarnya ada apa?" tanyanya.
"Diam dan dengarkan obrolan dari dalam ruangan ini!" titahku.
Rupanya kedua perempuan itu masih belum beranjak dari dalam sana.
"Kamu tidak bicara pada siapapun 'kan? tentang aku yang meminjam baju seragam mu?"
"Tidak, Mbak."
"Pokoknya kamu harus janji, ini rahasia di antara kita berdua."
Beberapa saat kemudian pintu toilet terbuka. Aku terkejut saat memandang wajah salah satu perempuan itu, tak terkecuali Gibran.
"Luna? Jadi kamu orang yang sudah memasukkan racun ke dalam minuman itu?" cecarku.
"Kamu ini bicara apa? Jangan sembarangan menuduh!"
"Aku tahu sekarang. Kamu meminjam baju pramusaji ini lalu mengantarkan minuman untuk Zura yang sudah kamu campurkan racun ke dalamnya 'bukan?"
"Ti-ti-tidak. Itu tidak benar," bantah Luna.
"Kamu memilih mengaku di hadapan orang-orang atau lebih memilih memberi keterangan di kantor polisi?" tanya Gibran setengah mengancam.
"Aku-aku, …"
"Apa salahku, Luna? Kenapa kamu selalu mengganggu hidupku? Kemarin kamu berusaha mencelakai Lyra dengan mendorongnya ke kolam renang, sekarang kamu ingin mencelakaiku dengan memberi racun pada minumanku," ucapku.
"Kamu mau tahu apa salahmu? Kesalahanmu adalah kamu mendekati laki-laki yang masih sangat aku cintai. Selama kamu belum menjauhinya, aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang!"
"Baik, jika memang kamu ingin aku menjauhi Gibran, mulai sekarang aku akan menjauhinya."
Ada rasa perih yang teramat sangat saat kalimat itu meluncur dari mulutku.
"Tolong, mulai sekarang Jangan pernah lagi mengganggu hidupku dan hidup putriku," ucapan saya berlalu dari tempat itu.
"Zura! Tunggu! Zura?!"
Aku tak menghiraukan suara Gibran yang terus memanggilku.
"Taksi!" seruku pada sebuah taksi yang melintas di hadapanku. Aku pun lantas masuk ke dalamnya.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰