
Aku berjalan perlahan meninggalkan kamar perawatan ibu. Berat memang, harus meninggalkan beliau yang kukasihi layaknya ibu kandungku sendiri. Namun, benar kata Mayra. Aku tidak boleh membiarkan diriku terus diinjak-injak oleh mas Fabian dan istri mudanya.
Aku menaiki taksi menuju rumahku demi ingin tahu bagaimana keadaan tempat tinggalku itu. Aku tak kuasa membendung air mataku saat melihat pemandangan yang tersaji di hadapanku. Istana yang dulu kokoh berdiri itu kini telah berubah menjadi puing-puing. Hancur, dan tak berbentuk lagi.
Kulangkahkan kakiku menuju ruang tamu. Sofa, buffet, dan seisinya benar-benar habis terbakar. Tak jauh berbeda dengan ruang tamu, Semua barang-barang yang berada di dalam kamarku pun musnah dilalap api. Namun, tiba-tiba netraku menangkap sebuah benda berwarna cokelat kehitaman di antara puing-puing yang berserakan di dalam kamarku.
Benda itu rupanya mesin jahit. Masih kuingat cukup jelas, beberapa tahun yang lalu aku membelinya dari seorang kakek tua. Beliau menjual mesin jahit ini seharga seratus ribu rupiah untuk ongkos pulang ke kampung halamannya. Aku sudah memberi kakek itu uang lebih dan mengambil kembali mesin jahit tersebut. Namun beliau menolaknya. Beliau justru berkata jika suatu hari ini mesin jahit yang ini akan berguna bagiku.
Allah memang pembuat skenario terhebat. Di saat aku nyaris putus asa menghadapi cobaan yang bertubi-tubi ini, Allah memberikan jalan keluar yang sama sekali tak terduga. Mungkin dengan mesin jahit inilah aku bisa kembali melanjutkan hidup tanpa bergantung pada mas Fabian.
Aku pun lantas mengambil benda itu dan memasukkannya ke dalam tas pakaianku. Tak ada sesuatu yang kebetulan. Sebelum aku jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit, aku memang sudah berniat pergi meninggalkan rumah ini. Tentu saja aku sudah mengemasi sebagian besar pakaianku juga pakaian putriku, Lyra.
Aku beranjak dari teras rumahku hingga aku sampai di depan rumah bu Murni. Tetangga baik hati yang seringkali membantuku saat aku kerepotan ataupun menghadapi kesulitan. Aku harus berpamitan padanya, juga pada suaminya, pak Hasan. Tanpa kebaikan beliau mungkin ibu belum dioperasi.
Aku heran, pintu rumah yang selalu terbuka lebar itu siang ini tertutup rapat. Suasana rumah itu pun tampak begitu sepi.
"Assalamu'alaikum," sapaku.
Tak ada sahutan.
"Assalamu'alaikum, Bu Murni. Ini saya, Azzura."
Masih tak ada sahutan.
__ADS_1
"Bu Murni dan pak Hasan sedang keluar kota, Mbak."
Aku menoleh ke arah suara itu. Rupanya pak Burhan.
"Begitu, ya."
"Mbak, ini ada sumbangan dari warga perumahan ini. Semoga bermanfaat bagi keluarga Mbak," ucap pak Burhan sembari menyodorkan sebuah amplop berwarna putih ke arahku.
Mataku berkaca-kaca. Aku tak menduga jika warga di lingkungan tempat tinggalku ternyata begitu peduli pada kami.
"Terima kasih, Pak. Semoga Allah membalas kebaikan kalian," ucapku.
"Mbak mau kemana? Lantas, di mana Lyra?" tanyanya.
"Ehm-ehm Lyra dan mas Fabian berada di rumah salah satu kerabat kami. Ibu masih berada di rumah sakit," jawabku.
"Aamiin, terima kasih, Pak."
"Saya permisi dulu, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Pak Burhan pun lantas berlalu dari hadapanku.
__ADS_1
Aku mengambil ponselku hendak meminta alamat rumah Mila pada mas Fabian. Siang ini juga aku akan menjemput Lyra dan mengajaknya pergi meninggalkan mas Fabian sekaligus menjauh dari kehidupannya.
[Assalamu'alaikum, Mas. Aku minta alamat rumah Mila. Aku kesana sekarang.]
[Sudahlah, kalau Mbak mau pergi, pergi saja. Nggak usah bawa Lyra.]
[Kamu jangan macam-macam, Mila. Lyra adalah putriku. Kamu tidak berhak apapun tentangnya!]
[Mbak lupa ya? Di sini 'kan ada mas Fabian yang juga berhak atas Lyra]
[Mana mas Fabian? Aku ingin bicara]
Tiba-tiba panggilan terputus.
[Halo! Mila! Halo!]
Apa lagi ini? Setelah menikah diam-diam dengan Mila, apakah mas Fabian juga berniat mengambil Lyra dariku?
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏