
Aku baru saja usai menunaikan shalat Maghrib. Di saat itulah aku merasakan aroma parfum yang begitu kuat menusuk hidungku. Rupanya aroma itu berasal dari kamar ibu.
"Ibu mau kemana malam-malam begini?" tanyaku.
"Ibu mau makan malam dengan Yoga."
Entah benar atau tidak, tapi aku merasa ibu berbohong padaku.
Kuamati penampilan ibu. Malam itu ia mengenakan gaun ketat berwarna merah maroon selutut dengan bagian dada terbuka hingga cukup menonjolkan isi di dalamnya.
"Ibu yakin ingin memakai baju itu?" tanyaku lagi.
"Memangnya kenapa? Walaupun usiaku sudah paruh baya, aku masih pantas berpakaian layaknya anak muda," ucap ibu. Ia lantas memoles lipstik berwarna merah menyala di bibirnya.
"Maaf, Bu. Apa Ibu belum terpikir untuk menutupi aurat Ibu? Aku yakin Ibu akan semakin cantik jika berhijab."
"Aku sudah mengeluarkan uang banyak untuk merawat rambutku. Percuma saja jika akhirnya harus kututup. Lagipula aku paling tidak tahan gerah," ujar ibu.
"Maaf, Bu. Baju yang Ibu pakai terlalu terbuka. Itu bisa mengundang niat jahat lawan jenis."
"Oh, jadi kamu nyumpahin ibu dijahati sama orang?"
"Bukan begitu, Bu. Aku hanya mengingatkan agar Ibu jangan berpakaian terlalu terbuka apalagi ini malam hari. Aku yakin pak Prayoga tidak terlalu suka jika Ibu berpakaian begini."
"Aku harus pergi sekarang. Nanti Yoga kelamaan menunggu."
"Kalau memang pak Prayoga yang mengajak Ibu pergi, kenapa beliau tidak menjemput Ibu kesini?"
__ADS_1
"Yoga itu sibuk. Dia tidak punya banyak waktu. Jadi aku yang mengalah datang langsung ke cafe."
"Kalau boleh kutahu, pak Prayoga mengajak Ibu makan malam di cafe mana?" tanyaku.
"Ehm, ehm…di cafe Rainbow."
"Ibu pakai ini, ya," ucapku sembari menyodorkan jaket ke arahnya.
"Kamu pikir aku anak kecil yang bisa masuk angin kalau kena angin malam?"
"Aku hanya khawatir pada Ibu."
"Tidak usah berlebihan," ucapnya sembari menepis jaket itu.
"Ibu pergi dulu. Pintunya nggak usah dikunci. Aku nggak mau tetangga sebelah mendengar aku mengetuk pintu."
Waktu menunjukkan pukul 22.30 malam. Aku tidak akan tidur sebelum memastikan ibu pulang ke rumah. Kuharap sebelum tengah malam beliau sudah kembali dengan diantarkan pak Prayoga.
Waktu terus berjalan, hingga jam menunjukkan pukul 00.30. Kalaupun ibu memang makan malam, tidak akan membutuhkan waktu lebih dari satu jam. Tapi kenapa ibu belum pulang juga?
Sempat terpikir untuk menghubungi nomor ibu, tapi bagaimana jika aku justru mengganggunya? Tapi ini sudah lewat tengah malam. Mana mungkin pria sebaik pak Prayoga mengajak ibu ke tempat lain?
Rasa panik sekaligus khawatir mulai menyerangku. Bahkan pikiran buruk sempat melintas di kepalaku. Apakah terjadi sesuatu pada ibu dan pak Prayoga?
Tidak! Aku tidak boleh diam saja. Aku harus tahu di mana keberadaan ibu sekarang.
Kuambil ponselku lalu kuhubungi nomor ibu. Nada sambung memang terdengar, Namun, panggilanku diabaikan. Tidak ada cara lain selain menghubungi nomor pak Prayoga.
__ADS_1
Perlu beberapa saat menunggu sebelum akhirnya ia menjawab panggilan telepon dariku.
[Assalamu'alaikum, Pak Prayoga]
[Waalaikumsalam. Ada apa Nak Zura menelpon saya malam-malam begini?]
[Maaf, Pak. Apa Bapak amsij bersama ibu saya?]
[Maksud Nak Zura bagaimana? Sudah beberapa hari ini saya tidak bertemu dengan Sabrina. Rencananya baru besok saya mau berkunjung ke tempat kost kalian. Saya minta maaf, belakangan ini saya memang cukup sibuk]
[Astaghfirullah]
[Kenapa, Nak?]
[Jadi, ibu tidak pergi makan malam dengan Bapak?]
[Tidak, Nak. Malam ini saya tidak keluar rumah]
Klik. Kuakhiri percakapan.
Jika ibu tidak bersama pak Prayoga, di mana ia sekarang?
Bersambung….
Hai, pembaca setia….
dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰