
Suasana hening sejenak.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Gibran.
"Aku-aku, …"
"Aku mencintaimu, Zura. Apa kamu mau menjadi pendamping hidupku?"
"Me-me-ni-kah?"
Apa Gibran sedang bercanda? Apa ini hanya lelucon dari laki-laki yang terkadang bersikap konyol itu?
Kuberanikan diri menatap sepasang netra sayu itu. Aku tak melihat gurauan atau lelucon. Hanya ketulusan yang kulihat di dalam sana.
"Jika aku boleh tahu, apa yang kamu sukai dariku? Kamu tahu 'bukan? Aku ini seorang janda dan sudah memiliki seorang putri. Sementara kamu laki-laki lajang. Di luar sana pasti tidak sedikit gadis yang lebih menarik atau lebih segalanya dariku."
"Kamu benar. Jauh sebelum mengenalmu, gadis-gadis yang dekat denganku hampir semuanya memiliki wajah cantik dan bertubuh seksi. Tapi, dari kamu lah aku menemukan yang selama ini aku cari.
Aku yakin kamu perempuan yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku," ungkap Gibran."
"Maaf, aku belum bisa memberikan jawaban," ucapku.
"Kalau memang kamu tidak memiliki perasaan lebih padaku, aku tidak akan memaksa. Atau jika kamu membutuhkan waktu untuk berpikir, aku akan menunggu hingga kamu memberikan jawaban itu."
"Toilet nya penuh."
Kami yang tadinya mengobrol serius sontak mengalihkan pandangan ke arah pak Amin yang baru saja kembali dari toilet. Aku tidak yakin dengan alasannya. Atau pak Amin tidak benar-benar ke toilet? Tapi dia sengaja menghindar sejenak agar aku dan Gibran bisa lebih leluasa mengobrol? Entahlah.
"Diminum dulu kopinya, Pak. Pak Amin kelamaan di toilet, kopinya jadi dingin," ucapku.
Pak Amin pun lantas meraih secangkir kopi yang mulai dingin itu kemudian meneguknya hingga habis.
"Lebih enak kopi buatan bi Mia," ujarnya.
"Tidak enak tapi dihabiskan juga," sindir Gibran yang sontak membuat sopir pribadiku itu salah tingkah.
"Ibu sudah selesai 'kan mengobrol nya?" tanya pak Amin.
"Loh, kok Pak Amin tahu?"
"Ehm … anu-anu saya hanya menebak saja. Saya cukup lama ke toilet, pasti kalian sudah selesai mengobrol."
"Ehm … iya, Pak. Kami sudah selesai mengobrol. Tapi kita tidak langsung pulang."
"Kita mau kemana lagi, Bu?"
"Kita ke toko baju muslim lalu ke lembaga pemasyarakatan."
"Baik, Bu."
"Maaf, aku harus pergi sekarang," ucapku pada Gibran.
"Hati-hati."
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Aku dan pak Amin beranjak meninggalkan cafe. Tidak sengaja sepasang netraku dan di netra Fabian bertemu. Namun, kali ini sorot matanya terlihat berbeda.
"Laki-laki kaya adalah pasangan yang tepat untuk perempuan sukses," ucapnya.
Apa maksud ucapan itu? Apakah Fabian masih menyimpan perasaan padaku? Atau itu hanya sebuah sindiran saja?
"Permisi, Assalamu'alaikum."
Fabian tak menjawab salamku.
Aku dan pak Amin pun lantas meninggalkan cafe.
****
"Mas Gibran cocok sama Ibu," ucap pak Amin sesaat sembari menyetir.
"Kenapa Pak Amin bicara begitu?"
"Ehm … anu-anu. Mas Gibran tampan, Bu Zura cantik. Kalian juga sama-sama baik. Cocok kalau jadi pasangan."
"Tidak usah bahas yang aneh-aneh, Pak. Fokus menyetir saja," tukasku.
"Semoga saja Bu Zura dan mas Gibran berjodoh."
"Pak Amin tadi kemana? Pak Amin tidak benar-benar ke toilet 'kan?"
"Yah, ketahuan."
"Pak Amin pasti menguping pembicaraan kami."
"Pak Amin ini, …" gregetku yang justru ditanggapi pria itu dengan senyum lebar.
Setelah membeli beberapa potong baju gamis beserta hijabnya di sebuah toko baju muslim, aku pun lantas mengajak pak Amin menuju Lembaga pemasyarakatan untuk menemui Karmila yang tak lain adalah kakak kandungku sendiri, Maureen.
"Aku bawakan baju gamis beserta hijabnya. Kuharap Kakak menyukainya," ucapku sembari menyodorkan sebuah paperbag berukuran cukup besar padanya.
"Masyaallah, bagus-bagus sekali gamis ini. Nanti pasti kupakai," ucap kakak perempuanku itu dengan sorot mata berbinar.
"Ehm … Kak. Ada satu hal yang ingin aku bicarakan."
"Tentang apa?"
"Tentang Fabian."
"Kenapa dengan mas Fabian?"
"Sekarang dia bekerja sebagai pelayan cafe."
"Mana mungkin. Pasti kamu salah lihat."
"Aku bahkan mengobrol panjang lebar dengannya."
"Mas Fabian menjabat sebagai Direktur perusahaan. Mana mungkin dia bekerja sebagai pelayan cafe?"
"Aku tidak berbohong, Kak. Sebenarnya ada satu rahasia yang belum Kakak ketahui tentangnya."
"Rahasia apa?"
__ADS_1
"Sebenarnya-sebenarnya … ehm, …"
"Ada apa sebenarnya? Jangan membuatku bingung," desak kak Maureen.
Meskipun yang akan kusampaikan pasti lah menyakitkan, tapi kurasa lebih baik kak Maureen tahu dari keluarganya dibandingkan mendengarnya dari orang lain.
"Fabian dan Silvia sudah menikah."
"Apa?!"
"Ya, Kak. Mereka berdua sudah menikah, lebih tepatnya dinikahkan secara paksa."
"Maksud kamu apa?"
"Fabian dan Silvia kepergok warga tengah berbuat me*um di dalam mobil Silvia. Menurut peraturan di lingkungan tempat tinggal Fabian, siapa pun yang ketahuan berbuat me*um dengan pasangan bukan muhrim, akan terkena sanksi moral. Mereka harus dinikahkan saat itu juga," ungkapku.
"Mereka sudah menikah 'bukan? Lantas, mengapa mas Fabian justru menjadi pelayan cafe?"
"Fabian mengatakan ayah Silvia tidak menyetujui pernikahan mereka. Beliau berpikir apa yang sudah mereka lakukan sudah merusak nama baik keluarga. Selain memecat Fabian dari pekerjaannya, tuan Anthony juga mengusir Silvia dari rumah. Silvia tidak lagi bergelimang harta seperti dulu. Itulah sebabnya kenapa Fabian kini bekerja sebagai pelayan cafe."
Kak Maureen menundukkan wajahnya dan mulai terisak.
"Aku minta maaf, Kak. Jika yang kusampaikan ini terdengar menyakitkan. Tapi, lebih baik Kakak tahu sekarang daripada nanti setelah keluar dari penjara."
"Astaghfirullahaldzim … Astaghfirullahaldzim…
Astaghfirullahaldzim …"
Kak Maureen berkali-kali mengucapkan kalimat istighfar. Aku paham betul bagaimana sakit dan hancur hatinya saat ini. Sama persis seperti yang pernah kurasakan saat aku mendengar jika Fabian dan dirinya telah menikah secara diam-diam tanpa sepengetahuanku.
"Begitu banyak dosa yang pernah kulakukan, dan kini aku baru percaya jika karma itu memang benar adanya," ucapnya dengan suara bergetar.
Kuraih tangan kak Maureen lalu kugenggam erat. Setidaknya ini bisa memberinya sedikit kekuatan.
"Mas Fabian sempat mengatakan niatannya menikahi Silvia hanya untuk menguasai harta tuan Anthony saja. Kami bahkan berencana menyingkirkan keduanya. Tapi, rencana hanya tinggal rencana. Allah benar-benar memporak-porandakan kehidupan mas Fabian. Ia kehilangan pekerjaannya, dan Silvia pun jatuh miskin. Apa ini karma setelah apa yang kami lakukan padamu? Kamu yang dulu menderita, kini justru menjadi sosok yang dipuji banyak orang."
"Sudahlah, yang lalu biarkan berlalu. Yang terpenting sekarang, Kakak sudah menyadari kesalahan Kakak. Aku pun sudah memaafkan Kakak jauh sebelum Kakak minta maaf," ujarku.
"Kamu memang perempuan luar biasa, Azzura." Kak Maureen merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Aku pun membiarkannya menangis di pundakku."
"Oh ya. Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan," ucapku sesaat setelah Kak Maureen melonggarkan pelukannya.
"Kamu mau bertanya apa?"
"Apakah Rayyan anak kandungmu dan Fabian?" tanyaku penuh selidik.
Bersambung …
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like, komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏
Happy reading…
__ADS_1