Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Ungkapan perasaan


__ADS_3

"Fabian? Apa yang dilakukannya di sini?" Apa dia bekerja sebagai pelayan?" gumamku.


"Ka-ka-mu?" Fabian pun tak kalah terkejutnya melihatku.


"Kamu kerja di sini?" tanyaku.


Meski berat, Fabian menganggukkan kepalanya.


"Bukankah kamu sudah menikahi Silvia? Tapi, kenapa kamu, …"


"Tuan Anthony tidak menyetujui pernikahannya kami. Selain memecatku dari kantor, ia juga mengusir Silvia dari rumahnya. "


"Astaghfirullahaldzim."


Kami saling terdiam beberapa saat.


"Jika boleh kutahu, apa Mila tahu jika kamu dan Silvia sudah menikah?" tanyaku. Fabian menggelengkan kepalanya.


"Kemarin aku dan ibumu mengunjunginya di Lembaga pemasyarakatan."


"I-i-ibu? Bagaimana kabar ibu sekarang? Apa ibuku bersamamu? Aku merasa bersalah karena kurang peduli padanya. Ditambah keadaanku sekarang yang sedang terpuruk, aku hampir tidak memiliki keberanian untuk menemuinya," ungkap laki-laki yang pernah begitu kukagumi itu.


"Kabar ibumu baik-baik saja. Aku sudah mengajaknya keluar dari panti jompo dan sekarang beliau tinggal di rumahku bersama Lyra, ibu, juga Fina."


"Aku merasa begitu malu padamu. Setelah apa yang kulakukan, kamu masih saja peduli pada keluargaku."


"Aku menyayangi ibumu seperti ibu kandungku sendiri, dan sampai kapanpun perasaan itu tidak akan berubah," ujarku.


"Aku baru menyadari betapa bodohnya aku membuang perempuan berhati malaikat sepertimu."


"Sudahlah, mungkin Allah memang mempertemukan kita namun tidak selamanya berjodoh."


Tiba-tiba pandangan Fabian tertuju ke arah pak Amin yang sedari hanya diam mendengarkan obrolan kami.


"Beliau ini siapa?" tanyanya.


"Nama saya pak Amin. Saya supir pribadi bu Azzura."


"Supir pribadi?"


"Benar, Pak. Selain mengantar jemput Bu Zura, pekerjaan saya juga juga mengantar pesanan konveksi pada pelanggan."


Fabian lantas mengamati penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jujur, ini justru membuatku merasa kurang nyaman.


"Ternyata kamu bisa membuktikan ucapanmu. Dari seorang penjahit kecil, kini kamu bisa menjadi pemilik konveksi. Sedangkan aku? Hidupku kini begitu berantakan, jauh dari kata layak. Seandainya saja aku bisa memutar kembali waktu, aku memilih untuk tidak bertemu perempuan lain selain dirimu. Aku ingin selamanya bersamamu."


Aku tersenyum tipis.


"Tidak sepantasnya kamu menyalahkan takdir. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan apa yang terjadi di dunia ini adalah atas kehendak Allah? Bahkan sehelai daun sekalipun tidak akan gugur tanpa seizin Nya."


"Ehm … bagaimana kabar Lyra?" tanya Fabian.


"Alhamdulillah, dia sehat. Sekarang dia sudah bersekolah."


"Sungguh? Apa aku boleh menemuinya?"


tanya Fabian penuh semangat.


"Tentu saja. Bagaimana pun dia putri kandungmu. Aku tidak akan pernah sekalipun menghalangimu untuk bertemu dengannya."


Tiba-tiba saja Fabian menatapku lekat. Sorot matanya terlihat penuh harap.

__ADS_1


"Zura, ehm, … aku-aku, …"


"Kenapa?"


"Aku ingin kita, …"


"Maaf, aku terlambat. Tadi di tengah jalan mobilku kehabisan bahan bakar. Aku harus mengantre di SPBU lebih dari dua puluh menit," ucap seseorang yang baru saja menghampiri mejaku.


"Aku pikir kamu lupa dengan janji pertemuan kita."


"Mana mungkin aku lupa dengan janji yang kubuat sendiri."


"Kamu? Bukankah kamu yang waktu itu menemukan ponselku yang terjatuh di depan LP?" tanya Fabian.


"Sepertinya saya belum pernah menemukan ponsel di manapun."


"Wajahmu mirip sekali dengan laki-laki itu."


"Pasti laki-laki yang kamu maksud itu Keenan, saudara laki-laki saya. Kamu adalah orang ke 1002 yang salah mengenali saya. Mereka sering menyangka saya Keenan. Sebaliknya, Kenaan pun tidak jarang dipanggil dengan nama saya."


"Oh, maaf. Saya salah orang rupanya."


"Tidak apa, nama saya Gibran. Oh ya, sepertinya kalian akrab sekali mengobrolnya. Apa kalian sudah saling kenal?"


"Ehm, saya-saya Fabian. Kawan lama Azzurra."


"Saya pikir kamu mantan pacarnya."


"Bu-bu-bukan. Kamu sendiri siapa?"


"Saya berencana menjalin kerjasama dengan konveksi Azzura. Saya mengajaknya bertemu di cafe ini untuk membicarakan bisnis."


"Ehm … ehm …" Aku berdehem lantaran tenggorokanku terasa begitu kering.


"Kamu mau minum tiga gelas sekaligus?" tanyaku.


"Tentu saja aku memesan minuman itu untuk kita bertiga. Aku, kamu, dan bapak ini."


"Aku tidak suka jus alpukat. Pak Amin juga


lebih menyukai kopi. Bukan begitu, Pak?"


"I-i-iya, Bu. Saya kurang suka jus."


"Kalau mau memesan minuman itu tanya dulu sama orangnya," sindirku.


"Ya sudah, satu gelas jus alpukat, satu gelas jus mangga, dan secangkir kopi," ralat Gibran.


"Aku juga kurang menyukai jus mangga."


"Merepotkan sekali!"


"Mau bagaimana lagi? Aku memang paling suka jus jeruk."


"Ya sudah, buatkan pesanan kami tidak pakai lama," ucap Gibran.


"Saya permisi dulu," ucap Fabian sembari berlalu dari meja kami.


"Aku 'kan sudah bilang, kita bertemu berdua saja. Kenapa kamu mengajak bapak ini?" protes Gibran.


"Memangnya kenapa kalau aku mengajak pak Amin? Beliau ini sopir pribadiku. Tanpanya aku tidak bisa pergi kemanapun dengan aman dan nyaman. Lagipula yang akan kita bicarakan tentang rencana kerjasama 'bukan?"

__ADS_1


"Aku mengajakmu bertemu di tempat ini agar kita bisa berduaan."


"Apa kamu bilang?"


"Ehm … ti-ti-tidak, bukan begitu maksudku."


"Maaf, saya permisi ke toilet dulu," ucap pak Amin.


"Tunggu, Pak!"


Laki-laki paruh baya itu mengerutkan keningnya. "Saya mau ke toilet, Bu. Memangnya Ibu mau ikut?"


"I-i-iya. Jangan lama-lama, Pak."


"Tenang Zura … tenang … jangan salah tingkah begini. Malu-maluin aja," rutukku.


"Kamu kenapa? Kok jadi salah tingkah begitu?"


"Memangnya siapa yang salah tingkah?"


bantahku.


"Aku ini dikenal pandai membaca isi hati seseorang hanya dengan melihat gestur tubuhnya," ucap Gibran.


"Permisi."


Fabian menghampiri meja kami dengan membawa nampan berisi minuman pesanan kami. Demi menutupi rasa gugup yang tiba-tiba menyerang, aku pun lantas meraih salah satu gelas dari nampan lalu meneguknya.


"Kenapa jus jeruk rasanya begini?" gumamku sesaat setelah seteguk minuman itu membasahi kerongkonganku.


"Astaga. Kenapa kamu meminum jus alpukatku?"


"Hah?! Aku pun sontak mengamati gelas itu. Ternyata gelas yang kuambil itu bukanlah berisi jus jeruk, melainkan jus alpukat pesanan Gibran.


"Ma-ma-af, Ehm … bawa gelas bekas ini lalu buatkan jus alpukat yang baru," ucapku pada Fabian. Mantan suamiku itu mengangguk paham. Dia pun lantas meraih gelas tersebut dan membawanya masuk ke dalam dapur.


"Kamu ini kenapa? Apa kamu nervous berkencan dengan pria setampan aku?"


"Ah, sudahlah. Jangan bicara yang aneh-aneh. Kita mulai saja pembicaraan bisnis kita."


Saat membicarakan rencana kerjasama itu tak jarang netra kami bertemu hingga suatu ketika Gibran benar-benar menatapku lekat tak berkedip.


"Zura, …"


"Ya, kenapa?"


"Sudah lama aku ingin mengutarakan perasaan ini. Sebenarnya-sebenarnya … ehm …"


"Sebenarnya apa?"


"Aku-aku … ehm … aku tidak tahu pasti kapan perasaan itu datang dan muncul. Aku menemukan ketenangan saat menatap matamu, aku juga merasa begitu nyaman saat bersamamu. Aku mencintaimu, Azzura."


"Apa?!"


"Apa kamu memiliki perasaan yang sama denganku?" tanya Gibran. Tatapannya kini semakin dalam.


Bersambung …


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏


__ADS_2