Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Pahlawan?


__ADS_3

"Tolong! Tolong!" jeritku sekencang mungkin. Berharap siapapun datang dan memberiku pertolongan.


"Woi! Lepaskan bu Azzura!" seru pak Amin.


"Jangan khawatir begitu, Pak tua. Kami hanya ingin mengajak majikanmu ini bersenang-senang sebentar," ucap pria yang mencengkeram lenganku.


"Demi Allah! Aku tidak akan sudi ikut dengan kalian!" Sekuat mungkin aku berpegangan pada salah satu spion mobil itu sementara pria itu terus memaksaku masuk ke dalam mobilnya.


"Itu anaknya cakep juga bro! Pasti laku mahal kalau dijual," ucap salah satu pria itu.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan cucuku ikut bersama kalian!" Ibu menyuruh Lyra agar bersembunyi di balik badannya.


Rupanya pria itu semakin nekat. Dia mendorong tubuh ibu hingga membuatnya jatuh tersungkur di tanah beraspal.


"Nenek!" jerit Lyra saat pria itu mengangkat paksa tubuhnya lalu membawanya masuk ke dalam mobil.


"Ayo masuk!" Pria itu terus memaksaku agar masuk ke dalam mobilnya. Sementara Lyra yang sudah berada di dalam sana tak berhenti memanggilku


"Ibu! Lyra takut! Hu … hu … hu …"


Aku harus mengaku kalah saat pria itu berhasil mendorongku masuk ke dalam mobil Jeep itu. Lekas kudekap tubuh putriku yang terlihat begitu ketakutan.


"Ayo kita pergi sebelum ada yang melihat kita!" serunya.


Tak ada yang bisa kulakukan selain pasrah. Entah kemana kedua pria ini akan membawa kami pergi. Namun yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan. Mobil Jeep mereka tiba-tiba saja macet. Salah satu pria mencoba menghidupkannya berkali-kali namun mesin mobil itu mati.


"Brengseeek! Kenapa mobilnya tidak mau jalan?!"


"Se-se-pertinya kita kehabisan bensin, Bos."


"Dasar bodoh!"


Aku memanfaatkan kelengahan mereka untuk kabur. Sambil menggendong Lyra, aku mendorong pintu mobil lalu bergegas turun dari dalam mobil tersebut. Sial, bagian belakang pakaianku justru tersangkut bangku mobil. Akibatnya aku dan Lyra jatuh tersungkur.


Meskipun aku telah berhasil keluar dari dalam mobil itu, kedua pria itu belum menyerah. Kini sasaran mereka adalah Lyra. Keduanya berusaha menarik paksa gadis kecilku itu dari dekapanku.


"Tolong! Tolong! Penculik!" teriakku.


Atas izin Allah di saat itulah pertolongan datang. Sebuah mobil sedan berwarna silver berhenti tidak jauh dari mobilku.


"Ada apa, Bu?" tanyanya.


"Kedua pria ini ingin menculik putriku!"


"Lepaskan anak itu atau kupanggil polisi!" ancam pria itu. Di jalan yang minim penerangan aku belum bisa melihat dengan jelas wajahnya.


"Kamu jangan ikut campur!" sentak salah satu pria.


Tiba-tiba saja pria yang mengenakan setelan jas itu mengambil dongkrak yang berada tidak jauh dari mobilku lalu melemparkannya hingga tepat mengenai bagian kepala salah satu pria.


"Aduh!" pekiknya. Detik kemudian tubuhnya pun ambruk di atas tanah beraspal.


"Apa kamu mau nasibmu sama dengan kawanmu? Sebelum aku memanggil polisi cepat tinggalkan tempat ini!"


"Ampun … ampun … Tuan. Saya menyerah." Pria itu lari tunggang langgang tanpa mempedulikan lagi kawan ataupun mobilnya.

__ADS_1


"Ibu dan puteri Ibu baik-baik saja?" tanya pria itu.


Dari jarak dekat aku bisa melihat dengan jelas siapa wajah pria itu.


"Pak Herdian?"


"Loh, Bu Azzura?"


"Alhamdulillah Bapak datang di saat yang tepat. Kalau tidak kedua beda itu pasti sudah menculik puteri saya," ucapku.


"Memangnya malam-malam begini Ibu dan keluarga Ibu mau ke mana?"


"Saya berniat mendatangi rumah saudara saya di jalan Anyelir. Tapi tiba-tiba mobil saya mengalami pecah ban. Di saat itulah kedua pria itu datang mereka memaksa saya dan puteri saya ikut ke dalam mobil mereka," paparku.


"Di jalan yang minim penerangan seperti ini rawan sekali terjadinya tindakan kriminal, Bu," ucap ayahnya Haikal itu.


"Ibu, Lyra takut … Lyra mau pulang," ucap puteriku.


"Kita harus ke rumah paman Keenan, Sayang. Paman Keenan dan keluarganya berarti sudah menunggu kita," ucapku.


"Lyra mau pulang, hu … hu … hu…"


"Saran saya, lebih baik Ibu ajak Puteri Ibu pulang sekarang. Kejadian ini mungkin membuatnya sedikit mengalami trauma," ucap pak Herdian.


"Benar, Bu. Nanti kita bilang saja pada mas Keenan kalau kita tidak bisa datang karena kita mengalami kejadian seperti ini." Pak Amin menimpali.


"Oh ya, Ibu tidak apa-apa 'kan?" tanyaku pada ibu yang tadi sempat didorong oleh salah satu dari kedua pria jahat itu.


"Tangan Ibu lecet-lecet, Nak."


"Astaghfirullahaladzim. Ya sudah kita pulang saja sekarang," ucapku.


"Nanti biar aku bicara pada Keenan."


"Mari, Bu. Saya ikuti mobil kalian dari belakang," ucap pak Herdian.


"Maaf merepotkan."


"Tidak apa."


"Pak Amin, mari kita pulang."


"Baik, Bu."


"Pak Amin mengendarai mobilku ke arah jalan pulang, sementara mobil pak Herdian mengikuti di belakangnya.


"Terima kasih, Pak, sudah mengawal kami sampai di rumah," ucapku pada pak Herdi sesaat setelah aku turun dari mobilku."


"Sama-sama, Bu."


"Terima kasih, ayahnya Haikal. Besok di sekolah aku akan bercerita padanya kalau ayahnya sudah jadi pahlawan dan menolong kami," ucap Lyra yang ditanggapi pak Herdian dengan senyum simpul di bibir.


"Ya sudah, saya pulang dulu. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


Pak Herdian lalu masuk kembali ke dalam mobilnya. Tidak berselang lama ia pun meninggalkan halaman rumahku.


Aku baru saja mengajak Lyra masuk ke dalam kamarnya ketika tiba-tiba ponselku berdering. Rupanya Keenan yang menelpon.


[Halo, Assalamu'alaikum]


[Wa'alaikumsalam. Kalian di mana? Acara akan segera dimulai]


[Maaf, kami tidak bisa datang ke rumahmu]


[Loh, memangnya kenapa?]


[Sebenarnya tadi kami sudah berangkat. Tapi, …]


[Tapi kenapa?]


[Di tengah jalan mobilku mengalami pecah ban. Di saat pak Amin tengah memasang ban cadangan itulah tiba-tiba muncul dua orang pria yang tidak kamu dikenal. Mereka berusaha menculikku dan Lyra]


[Astaghfirullahaldzim! Lalu, bagaimana keadaan kalian sekarang? Apa penculik itu melukai kalian?]


[Penculik itu memang berhasil memaksa kami masuk ke dalam mobilnya. Tapi Alhamdulillah Allah memberi pertolongan pada kami. Mobil milik penculik itu tiba-tiba saja macet. Namun ternyata mereka belum menyerah. Sasaran mereka pun tertuju pada Lyra. Aku menjerit sekencang mungkin saat mereka merebut paksa Lyra dariku. Di saat itulah seseorang datang dan menolong kami. Dia melempar salah satu satu penculik dengan alat dongkrak ban mobilku hingga membuatnya terluka dan jatuh pingsan. Kawan penculik itu pun ketakutan dan akhirnya memilih pergi tanpa mobilnya]


[Alhamdulillah, kalau kalian selamat]


[Kejadian itu membuat Lyra ketakutan dan sedikit trauma. Ditambah lagi ibu mengalami lecet-lecet karena sempat didorong salah satu penculik itu. Itulah sebabnya aku memutuskan putar balik dan pulang ke rumahku. Sampaikan permintaan maafku pada ibumu, malam ini kami tidak bisa datang untuk menghadiri acara peringatan empat tahun Gibran di rumah kalian]


[Ya, nanti kusampaikan pada ibu. Assalamu'alaikum]


[Wa'alaikumsalam]


-panggilan terputus-


***


Keesokan paginya.


Aku mulai penasaran siapa sebenarnya orang yang sudah dua kali mengirim buket bunga untukku. Apakah itu hanya pekerjaan orang iseng ataukah benar kata pak Amin, ada seseorang yang diam-diam mengagumiku.


Pagi itu aku sengaja mengintai dari balik jendela ruang tamu. Kuharap aku bisa mengetahui siapa sebenarnya pengirim buket bunga itu.


Hampir setengah aku berdiri di balik jendela ruang tamu, namun tak ada seorang pun yang muncul. Di saat aku hendak mengakhiri pengintaianku itulah seorang pria berperawakan tinggi melangkah mengendap-ngendap menuju teras rumahku dengan sebuah buket bunga di tangannya. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu lantaran dia mengenakan topi dan masker.


"Tunggu! Siapa kamu!" teriakku.


Pria itu pun sontak menoleh ke arahku.


Lantaran terburu-buru, topi yang dipakai pria itu pun terjatuh hingga menampakkan potongan rambutnya.


"Sepertinya potongan rambut itu tidak asing bagiku," gumamku.


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"

__ADS_1


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2