Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Lamaran dadakan


__ADS_3

Di rumah Gibran.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya sang ibu saat mendapati Gibran melamun di meja makan.


"Bukannya semalam kamu habis pergi dengan Zura? Kenapa pagi harinya malah murung begini?" Sang adik, Keenan menimpali.


"Aku tak paham lagi apa yang diinginkan Luna. Dia masih saja mengusik hubunganku dengan Zura."


"Maksud kamu apa?" Keenan mengerutkan keningnya.


"Semalam Luna berulah lagi. Dia berniat mencelakai Zura dengan memasukkan racun ke dalam minumannya."


"Astaga! Lalu bagaimana keadaan Zura? Dia baik-baik saja bukan?" Raut wajah sang ibu tiba-tiba berubah panik.


"Orang baik selalu dilindungi Allah. Minuman beracun itu tidak diminum Zura melainkan diminum oleh tamu undangan lain."


"Syukurlah. Ibu rasa kamu harus cepat-cepat menikahinya, Nak. Terlalu berbahaya jika Luna senekat Itu.


"Bagaimana aku menikahinya? Semalam saja dia sudah memutuskan untuk menjauhiku. Dia takut Luna akan terus mengganggu hidupnya juga puterinya Jika dia masih saja berhubungan denganku," ungkap Gibran.


"Apa yang dilakukan Luna sudah termasuk perbuatan kriminal. Kenapa kamu tidak melaporkannya saja pada polisi?" ucap Keenan.


"Aku malas berhubungan dengan gadis itu lagi."


"Jadi, kamu rela jika Zura menjauhimu?"


"Aku sangat mencintai perempuan itu. Aku tidak ingin kehilangannya."


"Kita datangi rumahnya malam ini, lalu kita lamar dia," ucap sang ayah. Sontak semua yang berada di dalam ruangan itu memandang ke arahnya.


"Melamar?" tanya ketiganya serempak.


"Ya. Ayah rasa jika kamu sudah melamar apalagi menikahi Zura, tidak ada alasan lagi bagi Luna untuk terus mengganggu hubungan kalian."


"Ucapan ayahmu benar juga," ujar sang ibu.


"Bagaimana jika Zura menolak lamaranku?"


"Kamu tenang saja, ayah pasti akan membantu meyakinkannya agar mau menerima lamaranmu."


"T-t-tapi, Yah, …"

__ADS_1


"Kecuali kamu mau dia benar-benar pergi meninggalkanmu dan menikah dengan pria lain. Zura itu perempuan luar biasa. Selain baik dan cerdas, dia juga pelaku bisnis yang hebat. Pasti tidak sulit baginya untuk mencari pendamping hidup," ucap sang ayah.


"Ayah jangan menakut-nakutiku begitu dong."


Sang ayah mengulas senyum.


"Siapa yang menakut-nakutimu ayah bicara fakta. Jika ayah masih muda saja Ayah pasti mau memperistrinya," ucapnya yang sontak ditanggapi Anita dengan memberi cubitan yang cukup keras di bagian perutnya.


"Aww! Sakit, Sayang. Aku hanya bercanda saja."


"Bercandamu itu tidak lucu!" sungutnya.


"Aku minta maaf. Begini saja sebagai permintaan maafku, bagaimana kalau sore ini aku ajak kamu nonton. Sepertinya sudah cukup lama kita tidak menonton film," ucap Yudha.


"Aku malas!"


"Ya sudah, kalau malas aku bisa menonton sendiri," ucap Yudha seraya beranjak dari tempat duduknya.


Tiba-tiba saja Anita merasa khawatir jika suaminya itu akan pergi menonton dengan gadis muda yang cantik dan bertubuh molek.


"Ok, baiklah, aku terima tawaranmu."


"Astaga. Kenapa Ayah dan Ibu malah pergi menonton? Bagaimana dengan rencana lamaranku malam nanti?"


"Kamu tenang saja, orang kepercayaan ayah akan mempersiapkan semuanya, kamu tinggal terima beres. Lagi pula ayah dan ibu hanya pergi 2 jam saja, sebelum makan malam pasti kami sudah kembali."


Tiba-tiba Gibran beranjak dari tempat duduknya.


"Mbok! Mbok Marni!" teriaknya.


Perempuan paruh baya yang tengah berada di dapur itu pun bergegas berlari ke arahnya.


"Ya Allah, Mas. Ada apa sih teriak-teriak begitu memanggil mbok? Mbok lagi nyuci piring sampai mau jatuh."


"Tolong Mbok cuci lalu setrika setelan jas berwarna abu-abu itu. Malam ini mau kupakai."


"Baju itu ada di lemari Mas Gibran kok. Sudah bersih, sudah disetrika juga. Terakhir kali Mas memakainya 'kan waktu acara pertunangan mas Keenan dan mbak Asha.


"Pokoknya aku mau baju itu wangi. Mbok harus mencucinya ulang."


"Memangnya Mas Gibran mau ke mana? Apa ada lagi kawan Mas Gibran yang menikah?"

__ADS_1


"Aku yang mau menikah."


"Hah?!"


"Kenapa mlongo begitu? Mbok nggak percaya kalau tuan muda yang tampan ini mau menikah?"


"Bukan begitu, Mas. Mbok hanya kaget Mas Gibran tiba-tiba mengatakan ingin menikah. Memangnya orang mana calon istri Mas Gibran?"


"Mbok mengenalnya kok."


"Siapa?"


"Perempuan yang dulu pernah menginap di rumah ini karena kami temukan pingsan di depan apotek."


"Siapa ya? Perempuan yang mana? Maaf, Mas. Sepertinya mbok sudah mulai pikun." Mbok Marni menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal.


"Itu, Mbok … Azzura."


"Oh, mbak Azzura. Kalau itu mbok kenal. Mbak Zura itu sudah cantik, baik, solehah lagi. Benar-benar istri idaman."


"Sudah, sekarang Mbok cuci setelan jas kesayanganku. Disetrika dan jangan lupa diberi pewangi."


"Baik, Mas."


Mbok Marni pun lantas meninggalkan ruangan itu.


"Tunggu aku malam nanti," Azzura," lirih Gibran.


Kira-kira Zura menerima atau menolak lamaran Gibran ya?


Ikuti terus kisahnya.


Bersambung ….


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2