
Dua hari kemudian kondisiku dinyatakan membaik. aku pun diizinkan meninggalkan rumah sakit.
Pagi itu aku dibantu bi Ami tengah membuat kue di dapur. Kue ini rencananya akan kubawa sebagai oleh-oleh untuk keluarga kak Darren.
"Pagi-pagi begini sudah buat kue, apa ada yang ulang tahun, Bu?" tanya bi Ami sesaat setelah memasukkan adonan kue ke dalam oven.
"Tidak, Bi. Kue itu mau kubawa ke rumah kak Darren sebagai oleh-oleh."
"Menurut saya kue buatan Ibu enak, kenapa Ibu tidak membuka toko kue saja?"
Ada benarnya juga saran Bi Ami. Selain menyalurkan hobi, aku bisa mengembangkan sayap bisnisku sekaligus membuka lapangan kerja bagi orang lain.
"Terima kasih sarannya, Bi. Nanti saya pikirkan," ujarku.
"Kue bolu nya nanti dihias nggak Bu?" tanya bi Ami.
"Ya, rencananya mau saya hias. Ini saya bau mau beli krim nya."
"Biar saya saja yang pergi ke toko perlengkapan kue."
"Tidak apa, biar saya saja. Kebetulan saya juga mau sekalian ke supermarket."
"Oh ya sudah kalau begitu."
Sebelum keluar rumah, aku ke ruang produksi sebentar. Aku ingin memastikan Handoko bisa bekerja dengan nyaman walaupun dengan kondisi jari tangannya yang tidak utuh lagi lantaran mengalami kecelakaan kerja seminggu yang lalu.
"Kamu tidak keberatan 'bukan? Saya pindahkan ke bagian packing pakaian?" tanyaku.
"Tidak apa, Bu. Saya justru ingin berterima kasih pada Ibu, dengan kondisi saya sekarang, saya masih diizinkan bekerja di konveksi ini."
"Kamu salah satu karyawan yang bagus kinerja dan absensi nya, itulah sebabnya saya mempertahankan kamu."
"Terima kasih, Bu."
Dari Handoko, pandanganku beralih ke bagian penjahit. Aku berjalan mendekati Tutik, karyawan yang baru dua hari bekerja di konveksi milikku.
"Cepat juga menjahit kamu. Memangnya sebelum bekerja di sini kamu pernah bekerja sebagai penjahit juga?" tanyaku.
"Benar, Bu. Saya pernah bekerja di garmen selama dua tahun di kota S, tapi kemudian saya resign karena ayah saya sering sakit-sakitan. Jadi saya ingin mencari pekerjaan yang dekat saja agar saya tetap bisa merawat beliau. Saya sempat kecewa saat pak Gibran menolak lamaran saya di toko pakaian miliknya. Tapi saya tidak menyangka jika beliau kembali menghubungi saya dan menawarkan pekerjaan ini pada saya," ungkap Tutik.
"Ya, selagi kita masih punya orangtua, kita harus berusaha berbakti padanya. Ya sudah, silahkan kembali bekerja."
"Terima kasih, Bu."
Dari meja Tutik, aku bergeser ke meja Ayu. Karyawan yang beberapa waktu lalu sempat membuat kesalahan menjahit hampir seratus potong pakaian.
"Saya senang, kamu menepati janji untuk tidak mengulangi kesalahan lagi," ucapku.
Tiba-tiba gadis berusia dua puluh tahunan itu menghentikan aktivitasnya.
"Sebelumnya saya minta maaf, Bu. Sebenarnya … sebenarnya …"
"Kenapa, Yu?"
"Saya sengaja melakukan itu."
"Apa maksudmu?"
"Pak Fabian membayar saya agar saya membuat kekacauan di konveksi ini. Tapi kebaikan Ibu membuat saya sadar, apa yang saya lakukan adalah sebuah kebodohan. Saya pun mengembalikan uang itu pada Fabian."
"Lalu, bagaimana tanggapannya?"
__ADS_1
"Pak Fabian sempat marah pada saya, tapi saya justru menyampaikan padanya untuk bersaing secara sehat, jangan main kotor."
"Saya salut dengan keberanianmu," ujarku."
Benar rupanya, Fabian diam-diam berusaha menjatuhkanku meskipun melalui tangan orang lain.
"Aku keluar sebentar, Bu," ucapku pada ibu yang juga berada di dalam ruangan produksi.
"Kamu mau kemana?"
"Ke supermarket."
"Hati-hati."
Setelah mencium punggung tangan ibu, aku pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.
"Kita ke supermarket, Pak," ucapku pada pak Amin yang baru saja selesai membersihkan mobilku di halaman rumah.
Sesampainya di supermarket.
Aku baru saja mengambil trolly belanja, di saat bersamaan seseorang yang kukenal juga mengambilnya. Detik kemudian netra kami pun bertemu.
"Kak Maureen?"
"Zura?"
"Uangmu sudah banyak ya sekarang, belanja nya di supermarket ini," ketusnya.
"Siapapun bisa belanja di sini tanpa harus memiliki uang banyak," tukasku.
"Kakak sendirian saja?" tanyaku.
"Oh ya, tolong sampaikan pada suami kamu itu jika ingin bersaing jangan menggunakan cara yang kotor."
"Apa maksudmu bicara begitu? Kamu jangan menuduh yang macam-macam."
"Aku tidak bicara sembarangan, salah satu karyawanku sendiri dan mengatakan jika suamimu membayarnya untuk membuat kekacauan di konveksi milikku."
"Lantas, kamu percaya dengan ucapannya?"
"Ya, dari cara bicaranya aku tahu jika dia berkata jujur."
"Perlu kamu tahu ya, suamiku tidak pernah sekalipun melakukan hal yang kamu tuduhkan. Aku bisa saja melaporkanmu kepada pihak yang berwajib atas dasar fitnah dan hal yang tidak menyenangkan."
"Aku sama sekali tidak takut dengan ancaman Kakak, karena aku punya saksinya."
Kak Maureen hanya mendengus kesal sebelum akhirnya berlalu dari hadapanku.
"Ya Rabb, kenapa hubunganku dengan kakak perempuanku semakin memburuk begini?" gumamku.
Saat mengantre di depan meja kasir, aku berada persis di belakangnya. Entah karena ingin pamer saja atau memang kebutuhan belanja untuk tiga orang sebanyak itu. Kulihat trolly belanjanya berisi penuh dengan barang-barang yang kurasa tidak terlalu penting untuk dibeli.
"Total semuanya 3.500.000, Bu," ucap kasir setelah memasukkan semua barang-barangnya ke dalam kantong plastik berukuran besar.
"Cuma segitu?"
Kak Maureen lalu mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dalam dompetnya lalu memberikannya kepada kasir.
Kasir Itu pun lantas menggesek kartu tersebut pada mesin khusus.
"Maaf, Bu, kartu kredit ini sudah melewati limit," ucapnya.
__ADS_1
"Coba dicek lagi, kamu pasti salah."
"Tidak mungkin salah, Bu, saya sudah memeriksanya dan batas pemakaian kartu ini hanya tinggal satu juta rupiah saja," jelas kasir.
"Ya sudah, batalkan saja pembelian barang-barangnya, mudah 'bukan?"
"Maaf, Bu, peraturan di supermarket ini, barang sudah melewati mesin kasir tidak bisa dibatalkan ataupun dikembalikan. Untuk kekurangannya Ibu bisa membayarnya menggunakan uang tunai."
"Ehm … uang saya semuanya berada di dalam ATM. Saya tidak pernah membawa uang tunai dalam jumlah banyak."
"Di depan supermarket ini ada ATM. Ibu bisa mengambilnya sekarang, saya tunggu."
Kak Maureen pun lalu memeriksa dompetnya.
"Ehm … ATM saya tertinggal."
"Ya sudah saya terpaksa menahan barang belanjaan ini sampai Ibu membayar semuanya."
"Mana bisa begitu? Saya bawa pulang saja barang belanjaan saya yang harganya satu juta, sisanya saya bayarkan besok."
"Mohon maaf, Bu, tidak bisa."
"Astaga. Baru kali ini supermarket mempersulit pelanggannya."
"Saya rasa semua supermarket memberlakukan peraturan yang sama."
"Mbak, biar saya saja yang membayar kekurangan belanja ibu ini," ucapku.
"Kamu tidak usah sok baik, ya," sungut kak Maureen.
"Bukannya begitu, Kak. Lihat, antrean di belakang sangat panjang. Harus berapa lama lagi mereka menunggu jika menunggu Kakak dan kasir berdebat."
"Siapa suruh buat aturan kok ribet begini."
"Kalau nggak punya uang itu tidak usah belanja banyak-banyak!" celetuk salah satu pengunjung yang berada di barisan antrean.
"Cepetan dong! Saya ninggal anak kecil di rumah." Pengunjung lainnya menimpali.
Kak Maureen tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya memberikan jawaban.
"Ya sudah, aku hutang kamu dulu deh!"
"Dari tadi kek!" sungut salah satu pengunjung.
"Ya sudah, Mbak, hitung belanjaan saya sekalian dengan kekurangan belanjaan ibu ini," ucapku.
Dengan sigap kasir itu memeriksa satu persatu produk dengan mesin pemeriksa barcode.
"Total semuanya 3.250.000, Bu," ucap kasir setelah menghitung barang belanjaanku.
Aku pun mengambil kartu kredit dari dalam dompetku lalu memberikannya pada kasir tersebut. Setelah selesai melakukan pembayaran, aku pun meninggalkan meja kasir. Tak ada ucapan terima kasih ataupun basa-basi yang terlontar dari mulut kakak perempuanku itu. Ia justru melengang begitu saja dari hadapanku.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1