
"Ibu! Tunggu!" seru Keenan seraya berlari menuju teras rumah.
"Ada apa?" tanya sang ibu.
"Ponsel Ibu tertinggal."
"Ibu buru-buru tadi." Anita meraih ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Sebenarnya Ibu mau kemana?"
"Bukankah ibu sudah bilang tadi ingin menemui klien."
"Di mana? Di cafe, atau di hotel?" tanya Keenan yang sontak membuat raut wajah sang ibu berubah kebingungan.
"Ehm, di-di cafe."
"Ibu baru selesai makan siang 'bukan? Kenapa Ibu mau ke cafe?"
"Ehm … klien itu mengajak ibu minum teh saja."
"Aku harap Ibu tidak berkata bohong."
"Kenapa kamu bicara begitu?"
"Tidak apa. Aku harap Ibu benar-benar pergi untuk urusan pekerjaan."
"Memangnya apalagi yang ibu lakukan di luar sana selain urusan pekerjaan?" tukas Anita.
"Ibu pergi dulu. Sampai jumpa saat makan malam nanti."
"Apa perlu kuantar?" tanya Keenan.
"Ti-ti-tidak perlu, Nak. Ibu bisa pergi sendiri."
__ADS_1
Sang ibu lantas masuk ke dalam mobil. Tidak berselang lama mobil itu pun meninggalkan halaman rumah.
"Kenapa, Mas?" tanya mbok Darmi yang menangkap kegelisahan di raut wajah Keenan.
"Entahlah, Mbok. Aku merasa ibu menyembunyikan sesuatu."
"Ehm … sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada Mas Keenan."
"Ada apa, Mbok?"
"Beberapa waktu yang lalu saat membersihkan kamar nyonya, saya menemukan benda mencurigakan di bawah kolong tempat tidurnya."
"Benda mencurigakan?" Keenan mengerutkan keningnya.
"Benar, Mas."
"Lantas, di mana benda itu sekarang? Apa Mbok membuangnya?"
"Benda-benda ini yang saya temukan di bawah kolong tempat tidur nyonya Anita," ucapnya.
Keenan pun lantas memeriksa isi kantong plastik tersebut. Alangkah terkejutnya ia saat melihat benda-benda yang berada di dalam sana. Tampak beberapa plastik klip berukuran mini dan alat suntik.
"Benda apa ini, Mas? Saya sengaja menyimpannya karena saya penasaran ingin menanyakannya pada Mas Keenan."
Keenan mengambil sebuah plastik klip lalu memeriksanya. Meskipun hanya wadah bekas pakai, ia tahu jika sebelumnya plastik klip itu adalah wadah serbuk.
"Astaghfirullahaldzim! Mengapa ibu menyimpan benda-benda ini?"
"Memangnya ini benda apa, Mas?" tanya mbok Marni lagi.
"Benda ini saya ambil ya, Mbok," ucap Keenan.
"Mas mau apakan benda-benda ini?"
__ADS_1
Keenan hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan asisten rumah tangganya itu.
Keenan baru saja melintasi ruang tengah. Entah mengapa dia ingin sekali menonton televisi. Ia pun meraih remote dan menghidupkannya. Salah satu saluran kebetulan tengah menayangkan siaran berita.
"Pemirsa, beberapa saat yang lalu polisi menggrebek sebuah kamar hotel X yang diduga menjadi tempat terjadinya pesta narkoba."
"Astaghfirullahaldzim!" seru Keenan yang sontak membuat mbok Murni bergegas menghampirinya.
"Ada apa, Mas?"
"Tadi saya sempat membaca pesan di ponsel ibu yang isinya salah satu kawan ibu sudah menunggunya di kamar hotel. Saya khawatir kamar hotel yang digerebek polisi adalah kamar itu. Karena nama hotelnya pun sama," ungkap Keenan.
"Ya sudah. Mas Keenan coba hubungi nomor nyonya saja. Semoga tidak terjadi apa-apa," ucap mbok Murni.
Keenan yang tengah dilanda panik itu pun bergegas menghubungi nomor sang ibu.
[Halo, Assalamu'alaikum. Ibu di mana sekarang?]
[Selamat siang. Maaf, ini dari pihak kepolisian. Pemilik ponsel ini sedang ditahan]
[Astaghfirullahaldzim! Apa yang terjadi dengan ibu saya?]
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏
Happy reading…
__ADS_1