
(POV Author)
"Nggak tahu, Mas. Perutku rasanya mual banget."
"Kamu sakit?" tanya Fabian lagi.
"Aku baru ingat jika bulan ini aku sudah terlambat datang bulan."
"Jangan-jangan kamu hamil."
"Kenapa Mas panik begitu? Apa Mas nggak seneng kalau aku hamil? Kita sudah seringkali melakukan hubungan suami istri. Jadi wajar kalau aku hamil."
"Bukan begitu. Tapi saat ini keadaannya kurang tepat jika kamu hamil. Kamu tahu 'kan? Ibu dan Zura sakit. Belum lagi rumahku yang terbakar. Sekarang ditambah lagi kamu hamil. Arggh! Mau pecah rasanya kepalaku!"
"Jadi, Mas mau bilang kalau Mas tidak siap memiliki anak lagi? Kalau begitu mau Mas, aku habisi saja janin yang berada di dalam perut ini!" ancam Mila. Dia lantas membuka salah satu laci lemari dan mengambil gunting dari dalam sana.
"Mila! Jangan nekad kamu!" Fabian merebut paksa gunting itu lalu melemparnya di atas lantai.
"Kenapa Mas melarangku menghabisi janin ini?"
"Kami istriku, aku tidak akan membiarkanmu melakukan perbuatan dosa."
"Mas mau menerima bayi ini 'kan?" tanya Mila dengan suara yang terdengar sedikit pelan.
"Ya. Bagaimana pun dia adalah darah dagingku," ujar Fabian.
Mila lantas menghambur ke dalam pelukannya.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan Lyra. Fabian pun lantas melonggarkan pelukannya dan bergegas menuju kamar Mila.
__ADS_1
"Belum apa-apa saja sudah mengganggu. Bagaimana jika bayi itu jadi tinggal di rumah ini?" gerutu Mila sebal.
"Astaghfirullah! Badan kamu panas sekali, Nak!" teriak Fabian.
"Anak kamu kenapa?" tanya Mila.
"Badannya panas sekali! Sepertinya dia demam."
"Dari kemarin Lyra sama Bu Murni 'kan? Kalau dia kenapa-napa Bu Murni lah orang yang harus bertanggung jawab."
"Kamu jangan suudzon begitu. Mungkin Lyra demam karena dari kemarin tidak mendapatkan ASI dari ibunya."
"Ya sudah. Antarkan saja Lyra ke rumah sakit biar disusui ibunya. Sekalian saja biar dia menginap di sana."
"Kamu bilang apa barusan?"
"Aku nggak bilang apa-apa. Aku hanya bilang mungkin Lyra kangen dengan ibunya."
Fabian mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor Azzura.
[Assalamu'alaikum. Ya, ada apa, Mas?]
[Lyra rewel. Badannya panas. Pasti karena kekurangan ASI.]
[Dokter baru mengizinkanku pulang besok.]
[Jadi, kamu mau membiarkan Lyra sakit?]
[Bukan begitu, Mas. Mana ada ibu yang tega jika anaknya sakit? Begini saja, aku akan memerah ASI ku dan mengirimnya ke rumah.]
__ADS_1
[Kami tidak tinggal lagi di rumah.]
[Maksud Mas apa?]
[Rumah kita habis terbakar dan tidak bisa ditempati lagi.]
[Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un. Jadi sekarang Mas dan Lyra di mana?]
[Kami ada di rumah Mila.]
[Apa?!]
[Kamu pikir selain rumah Mila, kita mau tinggal di mana lagi?]
[Aku tidak sudi tinggal bersama istri mudamu!]
[Berpikir lah logis, jangan egois.]
[Maaf, Mas. Aku tidak peduli Mas mau bilang apa. Sejauh ini aku sudah cukup tersakiti. Aku masih punya harga diri, dan aku tidak selemah yang kalian pikirkan. Sekarang juga aku akan minta pada dokter untuk keluar dari rumah sakit! Assalamu'alaikum.]
"Halo! Zura! Halo!" teriak Fabian. Namun Azzura sudah memutuskan sambungan telepon.
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
🙏🙏