
Gibran mengejar perempuan yang ditunjuk Lyra sebagai pelaku yang mendorongnya ke kolam renang itu. Sementara aku yang menggendong Lyra turut mengikuti di belakangnya. Aku harus tahu siapa orang yang sudah berniat membuat puteriku celaka.
"Pencuri!" teriak Gibran yang sontak membuat penjaga kolam tergerak untuk ikut bertindak. Perempuan yang mengenakan jaket dan masker itu pun terpaksa menghentikan larinya saat sang penjaga kolam menghadangnya di pintu keluar.
"Minggir kamu! Jangan ikut campur!" sentak perempuan itu seraya berusaha mendorong tubuh si penjaga kolam. Namun rupanya keberuntungan masih berpihak pada Gibran. Dia berhasil meraih lengan perempuan itu.
"Siapa kamu 'hah! Kenapa mendorong anak sekecil itu ke dalam kolam. Bagaimana kalau dia tenggelam?!" cecar Gibran.
Perempuan itu terdiam dan menundukkan wajahnya. Gibran yang geram pun lalu membuka paksa masker yang menutupi wajah perempuan tersebut. Alangkah terkejutnya saat melihat wajah perempuan yang begitu dikenalnya itu.
"Luna? Kamu?"
"Siapa perempuan ini?" tanyaku.
"Dia adalah mantan kekasihku," jawab Gibran.
"Kenapa kamu mau mencelakai putri saya 'hah?!" cecarku.
"Kamu mau tahu alasannya? Dengar baik-baik. Aku masih begitu mencintai Gibran. Aku tidak rela dia dekat dengan perempuan manapun!"
"Apa kamu lupa? Dulu kamu sendiri yang mengkhianati hubungi kita."
"Aku mengaku salah, aku ingin kamu tinggalkan janda ini dan memulai semuanya dari awal."
"Maaf, tidak bisa! Aku sudah melupakanmu dan Zura lah yang sekarang mengisi hatiku."
"Perempuan penggoda! Harusnya kamu tuh sadar diri. Janda sepertimu sama sekali tidak pantas untuk laki-laki seperti Gibran!"
"Jaga mulutmu! Zura sama sekali bukan perempuan penggoda!"
"Maaf, Pak, Bu. Sebaiknya masalah pribadi jangan dibicarakan di tempat umum. Untuk Mbak ini, silahkan tinggalkan tempat ini," ucap penjaga kolam.
"Hidupmu tidak akan pernah bisa tenang! Ingat itu!" ancam Luna sebelum dia meninggalkan tempat tersebut.
"Bibi itu siapa, Bu? Kenapa dia dolong Lyla sampai jatuh di kolam?" tanya Lyra sesaat gadis itu berlalu.
"Ehm … dia … dia, …"
"Oh ya Lyra masih ingin berenang lagi?" Gibran mengalihkan pembicaraan.
Putri kecilku itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Paman. Lyla takut, mau pulang saja."
"Baiklah, kita pulang sekarang ya."
Kami bertiga pun lantas meninggalkan kolam renang.
"Aku minta maaf, gara-gara perbuatan Luna, Lyra hampir celaka," ucap Gibran dalam perjalanan pulang.
"Semoga setelah ini Lyra tidak trauma dengan kolam renang," ucapku sembari membelai rambutnya. Tampaknya ia kelelahan hingga tertidur di pangkuanku.
"Luna itu memang gadis tidak punya malu. Beberapa hari yang lalu tiba-tiba saja di muncul di depan rumahku memaksa agar aku mau menerimanya kembali. Padahal dulu dia sendiri yang bermain api dibelakangku," ungkap Gibran.
__ADS_1
"Menurutku Luna itu cantik, tubuh dan penampilannya menarik. Kenapa kamu tidak menerimanya kembali," godaku.
"Yang aku cari sekarang istri, bukan pacar. Kamu ini pura-pura tidak paham atau memang tidak paham?" gerutunya kesal.
"Memangnya perempuan seperti apa yang cocok untuk dijadikan istrimu?" godaku lagi.
"Yang jelas dia perempuan baik-baik, dan solehah."
"Cantik?"
"Cantik itu bonus dan itu semua kutemukan ada pada dirimu."
"Aku masih jauh dari kata solehah."
"Setidaknya kamu lebih baik dari perempuan yang pernah hadir dalam hidupku."
Obrolan kami terhenti lantaran ponsel Gibran tiba-tiba berdering.
"Ibu? Kenapa tiba-tiba ibu menelponku?" gumamnya.
[Halo, Assalamu'alaikum, Bu]
"Tepikan dulu mobilmu, baru terima teleponnya," ucapku.
"Maaf, aku panik."
Setelah menepikan mobilnya, dia pun lantas menjawab panggilan tersebut.
[Ada apa, Bu?]
[Ada apa, Mbok]
[Apa Mas Gibran bisa pulang sekarang?]
[Memangnya kenapa, Mbok?]
[Nyonya Anita … nyonya Anita]
[Kenapa dengan ibu?]
[Nyonya Anita daritadi kesakitan, Mas. Tapi mbok bingung harus bagaimana. Tuan Yudha dan mas Keenan belum pulang]
[Kebetulan aku sedang dalam perjalanan pulang. Sebentar lagi aku tiba di rumah]
[Ya sudah, jangan lama-lama ya, Mas. Kasihan nyonya. Mbok tutup dulu teleponnya. Assalamu'alaikum]
[Waalaikumsalam]
-Panggilan terputus-
"Kenapa dengan ibumu?" tanyaku.
"Sepertinya sakit perut ibu kambuh lagi."
__ADS_1
"Ya Allah. Memangnya sejak hari itu kamu belum juga mengajak beliau periksa ke rumah sakit?"
"Aku, ayah, dan Keenan sudah seringkali mengajaknya ke rumah sakit tapi ibu selalu menolak dengan seribu alasan. Antre nya lama lah, sakit nya bisa sembuh sendiri lah. Takut kena penyakit serius lah.
"Justru alasan terakhir itu yang kutakutkan jika ibumu terus menunda berobat."
Tidak lama kemudian mobil yang kutumpangi berhenti. Rupanya aku sudah tiba di rumah.
"Pokoknya kamu harus membawa ibumu berobat hari ini juga," ucapku.
"Ya. Aku akan langsung membawanya ke rumah sakit. Sampai bertemu lagi. Sampaikan salamku untuk bu Sabrina," ucap Gibran. Tidak berselang lama dia pun meninggalkan halaman rumahku.
Aku membopong Lyra yang masih tertidur lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
"Masih siang kok sudah pulang?" tanya ibu saat aku melintasi ruang tamu.
"Gibran harus buru-buru pulang karena Bu Anita sakit," ucapku seraya membaringkan Lyra di atas tempat tidurnya.
"Bagaimana kencan hari ini, pasti menyenangkan 'bukan?" goda ibu.
"Apanya yang menyenangkan? Lyra hampir saja celaka."
"Astaghfirullahaldzim! Memangnya apa yang terjadi dengannya?"
"Kami tidak sadar jika seseorang mengikuti kami."
"Siapa yang kamu maksud?"
"Namanya Luna. Dia adalah mantan kekasih Gibran."
"Apa yang dilakukan perempuan itu?" tanya ibu lagi.
"Luna mendorong Lyra ke dalam kolam renang hingga membuatnya nyaris tenggelam."
"Benar-benar perempuan tidak waras! Memangnya atas dasar apa dia berusaha mencelakai Lyra? Anak itu masih kecil, belum tahu apa-apa."
"Dari pembicaraan yang kudengar di antara mereka, sepertinya Luna masih menyimpan perasaan pada Gibran. Bahkan beberapa hari yang lalu dia sempat mendatangi rumah Gibran hanya untuk memaksanya agar Gibran mau menerimanya kembali. Kurasa dia tidak suka jika Gibran dekat perempuan manapun," ungkapku.
"Kamu harus hati-hati dengan perempuan itu. Orang yang sudah dibutakan cinta, bukan tidak mungkin akal pikirannya juga buta. Mungkin tadi dia berusaha mencelakai Lyra, bisa jadi besok giliranmu."
"Kenapa Ibu bilang begitu? Aku jadi takut."
"Ibu bukannya bermaksud menakut-nakuti, tapi ibu hanya berpesan agar lebih berhati-hati."
"Apa tidak sebaiknya aku menjauhi Gibran?"
"Kenapa kamu jadi mikir ke arah sana?"
"Jika kedekatanku dengan Gibran membuat hidupku dan Lyra tidak tenang, lebih baik aku menjauhinya."
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
__ADS_1
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.