Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Rencana pak Prayoga


__ADS_3

Pagi itu aku baru saja selesai memandikan Lyra. Aku bergegas keluar menuju halaman saat kudengar suara seruan penjual sayur keliling yang biasa melintas di depan tempat kost ku. Tidak butuh waktu lama, gerobak yang menjajakan sayuran segar dan bumbu dapur itu sudah menjadi serbuan kaum ibu-ibu.


"Selamat pagi, Mbak Zura," sapa salah satu ibu yang tinggal tidak jauh dari tempat kost ku.


"Selamat pagi, Bu."


"Sudah beberapa hari ini kok Bu Sabrina nggak kelihatan ya? Dia masih tinggal di sini 'kan, Mbak?" tanya ibu lainnya.


"I-i-iya, Bu. Ibu saya masih tinggal bersama saya."


"Oh, saya pikir kemana."


"Ibu saya ada di dalam kok Bu, sedang bersih-bersih."


Setelah memilih sayuran dan lauk yang akan kumasak hari ini, aku pun cepat-cepat membayarnya lalu kembali masuk ke dalam tempat kost. Baru saja melangkah masuk ke dalam kamar, kudengar suara deru mobil dari arah pintu gerbang. Dari tempatku berdiri aku bisa mengenali siapa mobil berwarna putih itu. Beberapa pasang mata yang masih belum beranjak dari tempat gerobak sayur itu terlihat melirik sinis ke arah pengemudi mobil itu. Sementara dua orang lainnya saling berbisik.


"Assalamu'alaikum," sapanya.


"Waalaikumsalam. Mari silahkan masuk, Pak."


Ya. Pria yang baru saja datang ke tempat tinggal kami adalah pak Prayoga.


"Selamat pagi, Cantik," sapa pria itu pada Lyra sembari mengusap lembut pipinya.


"Selamat pagi, Paman, eh, Pak…eh,... Lyra harus memanggil Bapak dengan sebutan apa ya?"


"Panggil saja kakek."


"Saya tidak enak kalau Lyra memanggil Bapak dengan sebutan kakek."


"Loh, memangnya kenapa? Pria seusia saya memang sudah pantas dipanggil kakek 'kan?" Pak Prayoga terkekeh.


"T-t-tapi, …"


"Tidak apa, panggil kakek saja."


Kutanggapi ucapan pak Prayoga dengan senyum simpul di bibir.


"Oh ya, di mana ibumu?"


"Ibu masih berada di dalam kamarnya."


"Bisa minta tolong kamu panggilkan? Ada hal penting yang harus saya bicarakan."


"Baik, Pak. Bapak silahkan tunggu di sini."


"Ada pak Prayoga di ruang tamu, Bu," ucapku pada ibu.


Semenjak kejadian malam itu entah mengapa ibu menjadi lebih sering mengurung diri di dalam kamar. Bahkan saat makan pun aku yang harus mengantarkan makanannya ke dalam kamar.


"Yoga? Tunggu sebentar!"

__ADS_1


Ibu lekas beranjak dari tempat tidurnya, ia lantas merapikan rambutnya yang sedikit berantakan serta memoles wajahnya dengan bedak.


Ada apa dengan ibu? Biasanya ia malas dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan pak Prayoga. Kenapa kali ini ia terlihat begitu bersemangat?


Setelah mengganti gaun tidurnya dengan blouse berlengan pendek, ia pun bergegas menuju ruang tamu. Senyum manis sengaja ia lemparkan untuk menyambut kedatangan pria yang kini menjadi kawan dekatnya itu. 


"Bagaimana kabarmu, Rina?" sapa pak Prayoga.


"Ehm, ba-ba-baik, Mas."


"Maaf, aku baru sempat mengunjungimu. Belakangan ini aku cukup sibuk dengan urusan pekerjaan."


"Tidak apa, Mas. Aku paham kok. Mas mau minum apa? Teh atau kopi?"


"Tidak perlu repot-repot. Tadi aku sudah sarapan di rumah."


Suasana hening sejenak.


"Oh ya. Malam itu kami pergi kemana? Kok Zura nelpon nyari kamu?"


"Ehm…ehm… malam itu aku ada acara makan malam bersama kawan lamaku. Kami lupa waktu karena terlalu asyik mengobrol. Ponselku juga kehabisan baterai. Itulah sebabnya Zura menelpon Mas untuk mencari keberadaanku."


Astaghfirullah. Ibu berbohong lagi. Ternyata benar, sekali berbohong, orang akan terus berbohong untuk menutupi kebohongannya.


"Nak Zura, duduk lah," ucap pak Prayoga.


Aku pun lantas duduk di atas sofa persis di samping ibu.


"Ada hal penting yang ingin saya bicarakan pada kalian."


"Saya bermaksud melamar kamu untuk menjadi istri saya, Sabrina."


"Me-me-la-mar?"


"Ya. Sebenarnya saya sudah cukup lama ingin mengutarakan niat saya ini. Tapi, saya terpaksa menunda niat saya lantaran peristiwa kecelakaan yang kamu alami waktu itu," ungkap pak Prayoga.


"Aku mau menikah denganmu, Mas," ucap ibu penuh semangat.


Keningku mengkerut, tentu saja aku heran kenapa ibu menerima begitu saja lamaran itu tanpa sedikitpun basa-basi.


"Maaf, Pak. Apa Widya sudah tahu rencana Bapak ini?" tanyaku.


Pria yang mengenakan kemeja lengan panjang itu menggeleng lemah.


"Bagaimana pun Widya adalah putri Bapak. Dia berhak tahu perihal penting ini."


"Widya itu keras kepala. Tidak hanya pada Sabrina, dia tidak pernah menyukai saya berhubungan dengan perempuan manapun," ujar pak Prayoga.


"Jadi, Bapak tetap akan menikahi ibu saya tanpa sepengetahuan Widya?"


"Benar, Nak. Bagaimana pun saya berhak menentukan jalan hidup saya sendiri. Saya yakin dengan keputusan saya."

__ADS_1


"Tapi, Pak. Ada baiknya Bapak membicarakan hal ini dengan Widya," ujarku.


"Kamu ini kenapa sih, Zura? Sepertinya tidak suka mas Yoga melamarku?" protes ibu.


"Bukan begitu, Bu. Aku hanya takut Widya salah paham jika pak Prayoga dan ibu menikah secara diam-diam tanpa sepengetahuannya."


"Nak Zura benar. Mungkin saya memang harus bicara pada Widya," tukas pak Prayoga.


"Mas tetap akan menikahiku walaupun tanpa persetujuan Widya 'bukan?"


"Semoga Widya bisa paham dengan rencana saya ini."


"Jangan lama-lama ya, Mas," ucap ibu.


Kali ini giliran pak Prayoga memandang ibu keheranan.


"Sabar, Rina. Semua butuh waktu," ucapnya.


"Baiklah, saya permisi dulu. Saya masih ada urusan," ucap pak Prayoga sembari beranjak dari tempat duduknya.


"Hati-hati, Pak," ucapku.


Pak Prayoga melangkah keluar dari rumah kami. Di saat itulah Rahma melintas. Tentu saja dia cukup kaget melihat keberadaan pamannya di tempat ini.


"Paman? Apa yang Paman lakukan di tempat ini?" tanyanya.


"Rahma? Kamu di tinggal di sini juga?" pak Prayoga balik bertanya.


"Iya, Paman. Apa Paman mengenal mbak Zura?" tanya Rahma lagi.


"Ya. Kami belum lama saling mengenal. Waktu itu kami bertemu secara tidak sengaja bertemu di rumah sakit saat ibunya Zura mengalami kecelakaan," jelas pak Prayoga.


Suasana berubah panik saat mbak Salma tiba-tiba keluar dari dalam kamarnya. 


"Perempuan bin*l itu yang sudah menjadi selingkuhan mas Roni 'kan, Paman?" tanyanya yang sontak membuat pak Prayoga kebingungan.


"Kenapa Salma jadi begini, Nak? Apa yang terjadi padanya? Dan kenapa perutnya sudah rata? Apa dia sudah melahirkan?" tanya pak Prayoga bertubi-tubi.


"Bayi Mbak Salma meninggal di dalam kandungan, Paman."


"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un."


"Sejak saat itu jiwanya terguncang. Mbak Salma seringkali menuduh bu Sabrina sebagai selingkuhan mas Roni," ungkap Rahma.


Tiba-tiba Rahma menatap lekat mata sang paman. 


"Apa Paman tahu sesuatu tentang mas Roni dan Bu Sabrina?" tanyanya penuh selidik.


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…


__ADS_2