Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Hanya dimanfaatkan?


__ADS_3

Masih di sambungan telepon.


[Ya, Sayang. Ada apa?]


[Kirimin aku uang dong. Barusan pemilik rumah sudah menagih uang sewa kamar]


[Memangnya uang yang aku kasih kemarin sudah habis?]


[Kamu ini gimana sih sama pacar saja perhitungan banget. Uang yang kemarin sudah kubelanjakan stok dapur dan untuk membeli skin care. Tapi ya sudahlah, kalau kamu tidak mau membantuku. Aku bisa cari uang dengan cara apapun sekalipun itu mengemis]


[Astaga, Nes. Jangan pernah lakukan itu. Aku tidak akan membiarkan kamu meminta belas kasihan orang. Selagi kamu belum memiliki pekerjaan baru, aku akan menanggung biaya hidupmu]


[Ya sudah, kamu nikahin aku saja, Zal. Aku tidak keberatan walaupun kuliah kamu belum lulus lagipula kamu kan juga sudah punya pekerjaan sampingan dengan penghasilan yang cukup besar]


[Untuk saat ini jangan membicarakan soal menikah. Kamu tahu 'bukan, kedua orang tuaku tidak pernah menyetujui hubungan kita. Pakde ku dan budheku juga sudah tahu kalau aku kembali berhubungan denganmu]


[Astaga! Kenapa kamu harus mengatakan hal itu pada mereka?]


[Aku didesak budheku, Nes. Gara-gara aku ketahuan berbohong jika aku tidak berangkat ke kampus karena sakit]


[Dari mana budhemu bisa tahu jika kamu berbohong?]


[Salah satu teman sekelasku mendatangi rumahku. Dia bahkan membuat kue untukku karena mengira aku benar-benar sakit]


[Jadi gimana, kamu bisa nggak kirim uangnya sekarang? Aku harus membayar uang sewa kamar siang sekarang juga atau aku akan diusir dari rumah kontrakanku]


[Saat ini aku tidak memegang uang cash. Aku harus ke ATM dulu]


[Ya sudah aku tunggu kamu di depan mesin ATM sekarang]


[Mesin ATM yang mana?]


[Ish! Mesin ATM di dekat rumah kontrakanku lah. Masa mesin ATM dekat kampus mu]


[Ya sudah kamu tunggu di sana Aku berangkat dari rumah sakit sekarang]


[Ngapain kamu di rumah sakit?]


[Aku mengantar budheku. Tadi dia mengalami kram perut]


[Cuma kram perut saja kenapa harus dibawa ke rumah sakit]


[Budheku itu sedang hamil, Nes. Aku takut sesuatu terjadi padanya]

__ADS_1


[Ah! Bodo amat dengan budhemu. Yang bener sekarang kamu ke ATM, titik!]


Tiba-tiba panggilan terputus.


"Maaf, Budhe, sepertinya aku harus pergi sekarang," ucap Rizal pada Bu Murni.


"Pasti kamu mau menemui gadis


itu lagi 'kan?"


"Ehm … tidak kok Budhe. Aku mau ke kantor redaksi."


"Awas aja kalau kamu ketahuan masih bertemu dengan gadis itu lagi!"


"Tidak, Budheku Sayang. Ya sudah, aku pamit dulu, Assalamu'alaikum."


Rizal pun lantas meninggalkan ruang perawatan tersebut.


Sepuluh menit kemudian Rizal tiba di mesin Anjungan Tunai Mandiri. Namun ia heran lantaran tidak melihat keberadaan Nesya di tempat itu. Sementara di depan mesin ATM tersebut terlihat beberapa orang yang tengah mengantre.


Setelah beberapa menit tibalah gilirannya. Seseorang terlihat membuka pintu. Entah bagaimana kartu ATM yang dibawanya terjatuh tepat di hadapannya.


"Mbak, kartu ATM nya jatuh," ucap Rizal seraya menyodorkan kartu ATM tersebut pada pemiliknya.


"Tidak masalah. Sebagai sesama manusia kita memang harus saling membantu 'bukan?"


"Oh ya, kita belum kenalan. Nama saya Alya." Tangan gadis berhijab itu terulur.


"Rizal."


"Apa kamu sedang menunggu seseorang?" tanya Alya lantaran mendapati Rizal celingukan.


"Ah iya. Saya sedang menunggu seseorang. Dia tinggal di rumah kontrakan tidak jauh dari tempat ini."


"Kalau boleh saya tahu siapa orang yang Mas tunggu? Laki-laki atau perempuan? Barangkali saya kenal. Saya juga tinggal di rumah kontrakan jauh dari tempat ini."


"Namanya Nesya."


"Oh, Nesya. Ya, Mas, saya kenal. Kami pernah bekerja di konveksi yang sama. Memangnya Mas ini siapanya Nesya? Saudaranya, atau, …"


"Saya kawan dekatnya. Saya ada janji bertemu dengannya karena dia mau meminjam uang dari saya untuk membayar sewa rumah."


"Pinjam? Memangnya Nisa punya uang untuk mengembalikannya? Dia saja pengangguran sekarang. Saya ajak bekerja di cafe aja dia menolak. Katanya sudah ada laki-laki yang mau menjamin hidupnya. Ternyata Mas ini toh orangnya."

__ADS_1


"Saya hanya kasihan saja dengannya."


"Mungkin Mas kasihan, tapi apa Mas tidak sadar kalau Nesya hanya memanfaatkan Mas? Ehm … Kalau boleh tahu sudah berapa lama hubungan Mas dengan Nesya?"


"Sebenarnya kami sudah begitu lama saling mengenal. Bahkan kami hampir bertunangan. Namun hubungan kamu terhalang restu orang tua. Kami pun lalu putus. Kami baru dipertemukan kembali belum lama ini."


Ayah menyeringai kecut.


"Jelas sekali sekarang kalau Nesya memanfaatkan Mas. Dulu 'kan dia pernah menjadi selingkuhan bos. Tapi semenjak konveksi bangkrut tentu saja dia tidak memiliki sumber penghasilan lagi. Apalagi Pak Bos sekarang menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Mas ini hanya dimanfaatkan saja sama Nesya. Dia kembali mendekati Mas hanya karena menginginkan Mas untuk menanggung biaya hidupnya."


"Heh, Alya! Ngomong apa kamu 'hah!"


sungut Nesya yang tiba-tiba saja berdiri di hadapan mereka.


"Nes? Kamu?"


"Kamu pasti menghasut Rizal."


"Aku tidak menghasutnya. Aku justru berkata apa adanya. Kamu ini mendekati Rizal hanya untuk memanfaatkannya 'bukan? Seperti yang kamu lakukan dulu pada Pak Fabian. Kamu mendekatinya hanya karena duitnya saja."


"Jaga mulutmu!" sentak Nesya.


"Sudahlah, Nes. Semua orang sudah tahu tabiat burukmu. Setiap laki-laki yang kamu dekati hanya kamu incar uangnya saja."


"Kamu, …!" Nasya mengangkat salah satu tangannya lalu mengarahkannya ke wajah Alya.


"Nesya, cukup! Jangan membuat keributan di tempat umum!" sentak Rizal seraya menepis tangannya.


"Kenapa kamu jadi belain dia sih!" protes Nesya.


"Aku tidak membela siapapun. Aku hanya tidak suka kita ribut di tempat umum!" tegas Rizal.


"Dasar gadis matere!" umpat Alya.


"Sialaan kamu!" Tiba-tiba Nesya mendorong tubuh Alya hingga membuatnya jatuh terjengkang.


"Astaga! Nesya! Cukup! Kita pergi sekarang!" Rizal menarik lengan Nesya lalu membawanya berlalu dari mesin ATM tersebut.


"Jadi, gimana dengan uang sewa rumahku?" tanya Nesya.


"Kita cari ATM lain!"


"Awas, kamu, Alya!" gumam Nesya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2