Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Pintu hati sudah tertutup untukmu


__ADS_3

Keesokan paginya.


"Kami pergi ke makam dulu, Bu," pamitku pada mantan ibu mertuaku saat aku dan ibu kandungku tengah bersiap keluar rumah.


"Siapa yang nanti menjemput Lyra?"


"Bi Ami yang nanti menjemputnya."


"Baiklah, hati-hati."


"Assalamu'alaikum."


Aku dan ibu pun lantas meninggalkan ruang tamu dan menuju halaman rumah. Seperti pagi-pagi biasanya, saat aku hendak keluar rumah, si putih beroda empat itu sudah terlihat mengkilap.


"Kita ke makam, Pak," ucapku pada pak Amin yang telah membuka pintu mobil untukku.


"Maaf, kalau boleh saya tahu kota mau ke makam mana, Bu?"


"Tempat Pemakaman Umum Kamboja 2. Pak Amin tahu 'kan?"


"Saya dengar di TPU itu sedang dilakukan pemugaran. Pemakaman ditutup selama satu Minggu. Ini dikarenakan banyak makam yang rusak karena tertimpa pohon beringin tua yang berada di area pemakaman," jelas pak Amin.


"Oh, begitu ya."


"Ya, Bu. Saya mendapat informasi dari kawan saya. Kebetulan dia bekerja sebagai juru kunci di sana."


"Bagaimana, Bu?" tanyaku pada ibu.


"Ya, mau bagaimana lagi. Kita terpaksa menunda berziarah ke makam ayahmu sampai makam itu kembali dibuka."


"Ya sudah, sekarang Pak Amin antar saya ke cafe "Rainbow" saja."


"Apa Ibu mau bertemu dengan laki-laki itu lagi?" goda pak Amin.


"Nggak kok Pak. Saya ingin menemui kawan lama saya yang bekerja di sana."


"Oh, saya kira Ibu ingin bertemu dengan laki-laki itu lagi."


"Ayo kita berangkat sekarang." Aku menarik handle pintu lalu masuk ke dalam mobil.


Sesampainya di cafe.


"Bisa kita bicara sebentar?" ucapku pada Fabian yang tengah sibuk membersihkan meja cafe.


Fabian mengedarkan pandangannya di sekitar ruangan itu.

__ADS_1


"Di mana pacar barumu itu?" tanyanya.


"Pacar baru yang mana?" Aku balik bertanya.


"Tidak perlu berpura-pura. Sekarang kamu sudah menjadi pengusaha sukses. Tentu mudah bagimu mencari pacar ataupun pendamping baru."


"Tujuanku datang ke tempat ini bukan untuk membicarakan hal itu."


"Lantas?"


"Aku ingin membicarakan Rayyan."


"Kenapa kamu tiba-tiba membahas Rayyan?"


"Sekarang aku tahu alasannya kenapa kamu mudah sekali memberikan Rayyan pada orang lain untuk mengasuhnya. Rayyan bukan anak kandung kalian 'bukan?"


"Jangan bicara sembarangan."


"Kak Maureen sendiri yang membuat pengakuan jika dia membayar perawat untuk menukar bayi kalian dengan bayi lain yang lahir di hari yang sama. Apa kamu juga terlibat dalam peristiwa ini?"


"Tunggu. Siapa Maureen? Kenapa kamu tiba-tiba menyebut nama itu?"


"Perempuan yang selama ini kita kenal sebagai Karmila ternyata adalah kakak kandungku yang selama ini menghilang."


"Asal kamu tahu saja, pria yang kamu tabrak itu bukan lah suaminya. Dia hanya lah pria yang dibayar kak Maureen untuk menabrakkan dirinya pada mobilmu dan berpura-pura meninggal dunia. Pesan dari suami pura-pura nya itulah yang akhirnya dijadikan alasan agar kamu mau menikahinya."


"Benar-benar keterlaluan. Kita berdua sudah menjadi korban kebohongannya. Gara-gara dia rumah tangga kita hancur berantakan."


Aku menyeringai kecut.


"Hancurnya suatu rumah tangga bukan hanya kesalahan orang ke tiga, tapi juga karena salah satu pasangan yang tidak bisa menjaga hatinya."


"Jika saja aku bisa memutar waktu, aku memilih tidak bertemu dengan Karmila atau Maureen itu," ujar Fabian.


"Tidak ada gunanya menyalahkan waktu. Apa yang sudah terjadi tidak akan pernah bisa kembali."


"Nasi mungkin sudah menjadi bubur. Tapi hal itu bukan berarti tak bisa diperbaiki. Dengan menambahkan bahan lain, bubur bahkan bisa terasa lebih lezat dari nasi."


Tiba-tiba Fabian menatap lekat mataku.


Apa-apaan ini? Sekeras apapun usahanya merayuku, aku tidak akan pernah mau menerimanya kembali. Dia harus tahu harga yang harus ia bayar untuk sebuah pengkhianatan.


"Kembali ke masalah Rayyan."


Cepat-cepat kujauhkan tanganku sebelum dia meraihnya.

__ADS_1


"Zura, … aku ingin kita memperbaiki semuanya."


"Apa kamu tahu di mana rumah pengemudi taksi yang kamu minta untuk untuk mengasuh Rayyan?" Aku sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Zura, dengarkan aku dulu."


"Siapa nama pengemudi taksi itu?"


"Zura, … kumohon. Beri aku kesempatan."


"Siapa nama pengemudi taksi itu? Aku harus segera mencari Rayyan. Ibu kandungnya menuntutku agar segera menemukannya atau dia tidak akan pernah membiarkan Saddam kembali pada kalian."


"Saddam?"


"Ya. Ibu yang merawat anak kandung kalian memberinya nama Saddam."


"Bagaimana kamu bisa menemukan kebenaran anak kandungku dan ibu yang merawatnya?"


"Allah selalu mempermudah niat baik hamba Nya."


"Aku sungguh menyesali apa yang sudah terjadi di antara kita. Aku ingin, …"


"Fabian Yusuf! Sekali lagi kutanya. Siapa nama pengemudi taksi itu, dan di mana alamat nya!" Aku meninggikan suaraku hingga membuat beberapa pasang mata yang berada di ruangan itu menoleh ke arah kami.


"Namanya pak Sumarno. Rumahnya tidak jauh dari terminal."


"Baik, terima kasih. Assalamu'alaikum," ucapku seraya berlalu dari hadapannya.


"Zura! Tunggu! Aku belum selesai bicara!" teriak Fabian.


"Aku bersumpah pintu hati ini sudah tertutup untukmu," gumamku.


Bersambung ….


Masih bersambung ya …


Sambil jalan dengan novel baru yang judulnya


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Jangan lupa mampir juga ya Kak ….


Terus beri dukungan dengan memberi like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading ….🥰

__ADS_1


__ADS_2