Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Pahit


__ADS_3

Aku memberanikan diri menatap wajah mas Fabian.


"Aku tidak bersalah. Kenapa aku harus meminta maaf?"


"Kamu sudah berbuat kasar pada Mila. Minta maaf sekarang. Atau, …"


"Atau apa? Mas mau membalas tamparanku? Atau Mas mau menjatuhkan talak padaku? Jika Mas berpikir aku takut bercerai, Mas salah."


"Kamu jangan main-main dengan kata itu. Sampai kapan pun Mas tidak akan pernah menceraikan kamu!"


"Baiklah. Aku akan secepatnya mengurus surat perpisahan kita," ucapku.


"Memangnya Mbak Zura punya uang untuk mengurus perceraian? Setahuku biaya perceraian tidak sedikit loh Mbak." Karmila menimpali.


"Bukan urusanmu!" seruku.


Aku mengambil alih Lyra dari gendongan mas Fabian. Kali ini kumantapkan hati untuk meninggalkan istana yang sudah sekian lama kutempati ini. 


"Kamu pasti bisa hidup tanpa Fabian," gumamku.


"Aku pergi. Assalamu'alaikum," ucapku. 


"Zura! Azzura! Kembali!" teriak mas Fabian.


Aku tak menghiraukannya apalagi menoleh ke belakang. Selamat tinggal Mas Fabian Yusuf dan segala kenangan yang pernah kita ukir bersama di rumah ini.


Aku berjalan keluar dari rumahku. Kulihat Bu Murni tengah membaca majalah di teras rumahnya.


"Mbak Zura mau kemana? Kok bawa tas besar?" tanyanya penasaran.


"Ehm, saya-saya, …"


Aku belum menyelesaikan ucapanku namun tiba-tiba aku merasakan nyeri hebat di kepalaku disusul rasa mual yang teramat sangat.


Menyadari aku yang berdiri sempoyongan, wanita berhijab lebar itu pun sontak menopang tubuhku.

__ADS_1


"Astaghfirullah. Mbak Zura kenapa?" tanyanya.


"Tidak apa-apa, Bu. Mungkin saya kecapekan ngurus rumah."


"Mbak Zura duduk dulu, biar saya buatkan teh hangat."


"Tidak usah, Bu. Saya tidak apa-apa kok."


"Wajah Mbak Zura pucat banget. Mbak harus secepatnya berobat."


"Iya, Bu. Terima kasih, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Aku beranjak dari teras rumah Bu Murni namun entah mengapa tubuhku tiba-tiba terasa begitu lemas. Aku bahkan tak sanggup menopang tubuhku sendiri. 


"Ya Allah. Mbak Zura!" teriaknya. Beliau lantas mengambil alih Lyra dari gendonganku.


"Mbak jangan pergi kemana-mana kalau sedang kurang sehat," ucapnya.


"Saya tidak apa-apa, Bu. Saya hanya, … "


*****


Kubuka mataku perlahan, lantas kuedarkan pandanganku di ruangan serba putih ini. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi hingga aku berada di ruangan ini.


"Ya Allah. Lyra! Di mana putriku?"


Aku mengumpulkan seluruh tenaga untuk beranjak dari tempat tidurku. Namun aku kesulitan lantaran tangan kiriku terhubung dengan selang infus.


"Syukurlah Ibu sudah sadar," ucap dokter yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


"Apa yang terjadi pada saya, Dokter? Apa saya harus dirawat inap?" tanyaku.


"Ini tadi pingsan dikarenakan kondisi fisik Ibu yang sudah terlalu lemah. Dan ehm, …"

__ADS_1


"Ada apa, Dokter?"


"Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, dengan berat hati saya harus menyampaikan jika Ibu mengalami usus buntu."


Perasaanku kini campur aduk. Ada rasa lega karena akhirnya aku tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Tapi, mengapa penyakit itu terdengar begitu menakutkan?


"Usus buntu, Dok?"


"Benar, Bu. Biasanya gejala awal yang timbul adalah rasa mual ingin muntah, meggigil, nafsu makan berkurang, dan susah buang air besar atau konstipasi," jelas dokter.


Semua yang disebutkan dokter memang belakangan ini seringkali kualami.


"Apa saya masih bisa sembuh, Dokter?" 


"Dengan pengobatan secara rutin, insyaallah Ibu bisa sembuh."


Tiba-tiba pintu berderit. Rupanya Mas Fabian dan Mila yang masuk ke dalam ruang perawatanku.


"Baru niat pergi dari rumah saja, Mbak justru sampai di rumah sakit. Mungkin Tuhan tidak mengizinkan Mbak pergi meninggalkan rumah. Mbak harus ingat, suami adalah imam yang harus Mbak ikuti."


"Di mana Lyra? tanyaku sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Lyra sama bu Murni di rumah," jawab mas Fabian.


"Aku pulang saja," ucapku sembari beranjak dari tempat tidur. Namun rupanya kondisiku masih terlalu lemah. Semua yang berada di hadapanku rasanya berputar. Aku pun akhirnya ambruk kembali.


"Mbak jangan lama-lama ya di rumah sakit ini. Sayang uangnya mas Fabian," bisik Mila.


Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mengurungkan niatku untuk pergi meninggalkan rumah dan bertahan dalam kepahitan ini? Ya Rabb, aku sungguh tak mengerti alur yang telah kau gariskan untukku…


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏


__ADS_2