Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Sebuah alasan


__ADS_3

Aku tersadar ketika menjelang tengah hari. Kulihat Ibu tengah duduk di kursi yang berada di samping tempat tidurku.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar, Nak. Dokter bilang operasinya berjalan dengan lancar."


"Alhamdulillah. Apa aku sudah diperbolehkan pulang Bu?"


"Ngapain buru-buru pulang. Di sini saja dulu sampai kondisi kamu benar-benar pulih. Di konveksi sudah ada Seto yang ngurus. Tadi ibu juga sudah berbicara dengan Lyra. Dia ngerti kok."


"Tapi, Bu, …"


"Tidak usah membantah!" tegas ibu.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka.


"Zura?"


"Mayra?"


Ya, Khumayra lah yang memasuki ruang perawatanku untuk mengantarkan makan siang.


"Ibu lapar, mau ke kantin dulu," ucap ibu. Beliau lantas berlalu dari hadapan kami.


"Kamu kenapa, Ra? Kok bisa ada di sini?" tanya Mayra sembari meletakkan nampan di atas meja.


"Aku baru saja menjalani operasi usus buntu," jawabku.


"Usus buntu? Sejak kapan penyakit itu menyerangmu?"


"Sebenarnya gejalanya sudah lama muncul. Mungkin aku terlalu mengabaikannya. Akhir-akhir ini gejala itu kembali muncul. Aku mengikuti saran dokter Zain untuk secepatnya melakukan operasi," ungkapku.


"Semoga operasi ini bisa membuatmu sembuh total," ucap Mayra.


"Aamiin."


"Kamu harus lebih bisa menjaga kesehatanmu, juga pola makan, dan yang lebih penting lagi jangan terlalu banyak pikiran."


"Siap, Suster Khumayra."


Kami berdua pun lantas terkekeh.


"Ehm … May."


"Ada apa?"


"Aku ingin memberitahu sesuatu padamu."


"Apa itu?" Kawan lamaku itu mengerutkan keningnya.


Aku memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisku padanya.


"Apa ini, Ra? Apa ini artinya …? Eh, kamu sudah dilamar? Siapa pria itu? Kapan kalian tunangan? Kok aku tidak diundang," cerocosnya.


"Pria itu bernama Gibran. Maaf, bukannya aku tidak ingin berbagi kebahagiaan denganmu, tiba-tiba saja Gibran dan keluarganya datang ke rumahku dan melamarku."


"Oh … so sweet. Lalu kapan hari pernikahan kalian? Awas saja kalau kamu tidak mengundangku."


"Insyaallah bulan depan. Aku hanya menginginkan acara sederhana saja dengan mengundang sahabat dan kerabat dekat. Kamu salah satu sahabatku, Ra. Aku pasti mengundangmu."


"Aku penasaran dengan pria bernama Gibran ini. Dia hebat banget bisa membuka pintu hatimu yang sudah dikunci dengan teralis besi."


Aku mengulas senyum.


"Aku sempat ragu untuk menikah lagi. Bahkan aku cukup lama menggantungnya."


"Lantas, apa yang membuatmu yakin untuk menerimanya?"


"Dia begitu baik, pengertian, dan yang paling penting sayang sama Lyra. Itulah alasan mengapa aku mau menerimanya," jelasku.


"Loh, kamu kok nangis, May?" tanyaku saat mendapati sepasang netra sahabatku itu berkaca-kaca.

__ADS_1


"Aku terharu, Ra. Kamu pernah terluka karena laki-laki, sekarang Allah mengirimkan Gibran untuk mengobati luka hatimu."


"Allah Maha baik pada hamba Nya," ujarku.


"Ya sudah, sekarang kamu makan siang dulu, lalu minum obatnya. Aku masih harus mengantarkan makanan-makanan ini ke pasien lain," ucap Mayra. Aku mengangguk paham.


"Sekali lagi selamat," ucap Mayra sesaat sebelum meninggalkan ruang perawatanku.


Aku baru saja menyelesaikan makan siangku, ketika tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Jika memang itu ibu, kenapa harus mengetuk pintu segala?


"Masuk," ucapku.


"Ibu!"


Ah, rupanya Lyra. Tapi tunggu dulu. Ibu dan pak Amin 'kan di rumah sakit ini? Lalu, siapa yang mengantar Lyra ke sini?


"Sayang … kamu ke sini sama siapa?" tanyaku.


"Ehm … sama paman Giblan."


"Apa?! Kenapa kamu bisa diantar paman Giblan?"


"Tadi Lyla nelpon paman Giblan. Lyla bilang kalau Ibu sakit."


"Kenapa kamu harus bilang ke paman Gibran?"


"Memangnya kenapa kalau Lyra bilang padaku?" ucap Gibran yang kini sudah berdiri di hadapanku. Dia terlihat membawa buket bunga mawar putih dan bingkisan buah.


"K-k-kamu?"


"Kenapa kaget begitu? Apa tidak senang aku jenguk?" ucapnya seraya menyodorkan buket bunga itu ke arahku. Semerbak harumnya membuat perasaanku jauh lebih nyaman.


"Bu-bu-bukan begitu. Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir."


"Tidak lama lagi kita akan menikah, aku harap tidak ada hal sekecil apapun yang kamu sembunyikan dariku."


Pintu ruangan kembali terbuka. Kali ini dokter Zain yang masuk ke dalam ruangan ini.


"Dokter Zain?"


"Kamu, ehm … tunggu saya lupa. Kamu anaknya bu Anita 'bukan?"


"Namanya paman Giblan," jelas Lyra.


"Giblan?"


"Maksudnya Gibran, Dok. Lyra ini belum bisa menyebut huruf R," ucap Gibran.


"Nak Gibran kenal dengan bu Zura rupanya," ucap dokter berkacamata itu.


Gibran mengulas senyum.


"Azzura ini calon istri saya, Dok."


"Oh, selamat kalau begitu. Semoga semuanya dilancarkan sampai hari pernikahan."


"Aamiin."


"Syifa putri dokter juga ternyata guru sekolah Lyra," aku menimpali.


"Sungguh?"


"Ya, Paman Dokter. Bu gulu Syifa baik banget. Dia suka membeli hadiah kalau Lyla bisa menebak peltanyaannya," ungkap Lyra.


"Dunia begitu sempit rupanya." Dokter Zain terkekeh.


"Doktel, kapan ibu boleh pulang?" tanya Lyra dengan mata polosnya.


"Ibumu ini masih dalam tahap pemulihan pasca operasi, jadi untuk sementara harus berisi di sini," jelas dokter.

__ADS_1


"Operasi, Dok?" tanya Gibran.


"Benar. Bu Azzura ini baru selesai menjalani operasi usus buntu."


Gibran tampak berpikir sejenak.


"Jadi, antibiotik yang dulu itu, …"


"Ya, aku sempat mengkonsumsi antibiotik. Namun, karena keadaanku tak lebih baik, aku pun memutuskan mengikuti saran dokter untuk melakukan operasi. Aku sengaja menyembunyikannya darimu agar kamu tidak khawatir," ungkapku.


"Aku harap ini hal terakhir yang kamu sembunyikan dariku," ucap Gibran.


Kuanggukkan kepalaku seraya tersenyum.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu." Dokter pun lantas meninggalkan ruanganku.


"Nenek di mana, Bu?" tanya Lyra.


"Nenek sedang makan siang di kantin. Lyra sudah makan belum?"


"Sudah, Bu. Tadi disuapi sama paman Giblan."


"Lyra 'kan sudah bisa makan sendiri, kenapa minta disuapi?"


"Bukan dia yang mau, aku yang ingin menyuapinya," jawab Gibran.


"Kamu ini pasti manja kalau di dekat paman Gibran," ucapku.


Gadis kecilku itu meringis memperlihatkan deretan giginya yang bersih dan rapi.


"Gibran … Lyra. Kapan kalian ada di sini?" tanya ibu yang baru kembali dari kantin.


"Belum lama, Bu." Gibran meraih tangan ibu lalu mencium punggung tangannya.


"Pasti Lyra yang memberitahu jika Zura dirawat di rumah sakit."


"Benar, Bu. Tadi Lyra menelpon saya dengan menggunakan telepon rumah. Setelah menyuapinya makan siang, kami pun langsung menuju ke sini."


"Kalau begitu percuma saja Zura merahasiakan ini darimu," ujar ibu yang ditanggapinya dengan senyum tipis di bibir.


"Ibu, malam ini Lyla boleh temani Ibu 'kan?"


"Anak sehat sepertimu tidak baik terlalu lama berada di rumah sakit."


"Tapi … Lyla ingin menemani Ibu," rengeknya.


"Dokter pasti tidak mengizinkan Lyra menginap di sini," ucapku.


"Ehm … bagaimana kalau malam ini Lyra menginap di rumah paman Gibran. Nanti Lyra bisa main sama paman Keenan juga," ucap Gibran.


"Malam ini Lyla menginap di rumah paman Giblan ya, Bu. Boleh ya?" ucap Lyra setengah memaksa.


"Ehm … boleh nggak ya?"


"Biarkan saja Lyra menginap di rumah Gibran. Bukankah itu bagus agar dia lebih mengenal calon keluarga barunya?"


"Ya sudah, ibu izinkan Lyra menginap di rumah paman Gibran. Tapi, Lyra janji ikuti ucapan paman Gibran, dan harus bersikap baik di sana," ucapku. Gadis kecilku itu mengangguk paham.


"Telima kasih, Bu." Lyra lalu mendaratkan kecupan lembut di pipiku.


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2