
Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Gerimis yang turun sejak satu jam yang lalu membuat udara sedikit terasa dingin. Aku baru saja menyelesaikan jahitan pesanan pelangganku yakni sarimbit sepasang suami istri dan sepasang lagi untuk anak laki-laki dan perempuan.
"Pintu dan jendela sudah dikunci semua, Fin?" tanyaku pada Fina yang juga baru selesai membantuku membersihkan ruangan itu dari sisa-sisa potongan kain yang berceceran di bawah meja jahit.
"Sudah, Bu," jawabnya.
"Mari kita istirahat."
Fina melangkah masuk menuju kamar yang pernah ditempati ibu. Baru saja memutar gagang pintu, aku dikejutkan oleh suara yang begitu keras dari arah depan.
"Astaghfirullahaldzim! Suara apa itu?" gumamku.
"Kamu temani Lyra sebentar, Fin. Aku mau memeriksa keluar," ucapku.
"Baik, Bu." Fina yang baru saja membuka pintu kamarnya itu pun lantas menutupnya kembali dan masuk ke dalam kamarku.
Lekas kuambil payung yang kusimpan di sudut ruang tamu, lalu kubuka kembali pintu yang telah terkunci. Aku pun lantas melangkah keluar untuk memeriksa apa yang terjadi di halaman depan tempat kost ku. Rupanya suara keras itu berasal dari sebuah mobil yang menabrak pintu gerbang. Tiba-tiba rasa panik menyerangku saat kulihat asap tebal mengepul dari bagian depan mobil itu.
"Tolong! Tolong!" teriakku.
__ADS_1
Suasana jalan begitu sepi. Di suasana dingin begini mungkin para penghuni kost yang masuk kerja shift pagi memilih tidur lebih awal.
"Ada apa, Mbak?"
Rupanya Rahma masih terjaga.
"Mobil ini menabrak pintu gerbang. Tapi belum ada yang menolong," jawabku.
"Biar aku panggil warga." Rahma berlalu dari hadapanku. Tidak berselang lama ia kembali bersama beberapa orang warga.
"Astaghfirullahaldzim. Kenapa dengan mobil ini?" tanya salah satu warga.
"Saya kurang paham, Pak. Saya mendengar suara yang begitu keras dari dalam. Saat saya keluar, mobil ini sudah begini," jawabku sedikit gugup.
Tanpa membuang waktu lagi mereka pun bekerjasama membuka pintu mobil sport berwarna merah itu. Namun rupanya pintunya terkunci dari dalam. Demi keselamatan pengemudi mobil itu, warga pun akhirnya memecahkan kaca mobil untuk bisa masuk ke dalamnya. Setelah proses yang cukup dramatis, akhirnya warga berhasil membawa keluar pengemudi mobil itu.
"Kita langsung bawa ke klinik saja," ucap salah satu warga.
"Memangnya ada yang kenal dengan pria ini? Siapa yang akan menanggung biaya pengobatannya?" Warga lainnya menimpali.
__ADS_1
"Biar saya yang menanggung biaya nya, Pak. Keselamatan pria ini lebih penting!" tegasku.
"Tapi, bagaimana cara kita akan membawanya ke sana? Malam-malam begini taksi sudah jarang yang lewat," ucap salah satu warga.
"Begini saja. Sementara saya mencari pinjaman mobil dari warga, pria ini kita bawa masuk ke dalam rumah Mbak Azzura saja. Mbak Zura tidak keberatan 'kan? Setelah saya dapat mobilnya, kita akan langsung membawanya ke klinik."
"Tidak apa, Pak. Silahkan," ucapku.
Warga pun mengangkat tubuh pria yang tidak sadarkan diri itu dan membawanya masuk ke dalam rumahku. Di dalam tempat yang cahayanya cukup terang, kini aku bisa melihat wajah pria itu dengan cukup jelas.
"Astaghfirullahaldzim. Bukankah dia, …"
"Mbak Zura kenal dengan pria ini?" tanya Rahma.
Bersambung …
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏