
Pagi itu aku dan pak Amin sudah bersiap mengantar baju pesanan ke toko pelanggan.
"Barang sudah siap semua, Bu," ucap Handoko yang membantuku membawa barang-barang itu masuk ke dalam mobil. Hari ini Seto izin tidak masuk bekerja lantaran harus mengurus persyaratan pernikahannya.
"Baik, terima kasih, Han. Oh ya, wajah kamu terlihat murung begitu. Apa ada masalah?"
"Saya lagi pusing, Bu. Sudah tiga hari ini istri saya pulang ke rumah orangtuanya. Dai bilang belum mau kembali jika saya belum membelikannya cincin berlian yang ditawarkan teman sekolahnya itu."
"Saya pikir istrimu sudah berubah."
"Berubah apanya? Tingkahnya justru semakin menjadi. Rasanya saya sudah tidak tahan lagi. Selama kami menikah dia tidak pernah menghargai saya. Kalau keinginannya tidak macam-macam, gaji dari konveksi ini pasti lebih dari cukup. Dia terpengaruh dengan gaya hidup kawan-kawannya yang sok sosialita itu," papar Handoko.
"Kunci dari keharmonisan rumah tangga, salah satunya adalah saling menghargai. Pun itu adalah urusan rumah tangga kalian. Saya tidak berhak ikut campur terlalu dalam. Tapi kamu bisa menanyakannya pada istrimu, apakah dia masih ingin mempertahankan rumah tangga kalian atau tidak. Sebagai imamnya kamu harus tegas," paparku.
"Baik, Bu. Terima kasih sarannya. Mungkin selama ini saya kurang tegas sehingga dia selalu menginjak-injak saya," ucap Handoko.
"Ya sudah, saya pergi dulu."
"Hati-hati, Bu … Pak Amin."
"Assalamu'alaikum."
Aku pun lantas masuk ke dalam mobilku.
"Oh ya, Bu. Kira-kira apa yang membuat pak Willy kembali berlangganan di konveksi Ibu?" tanya pak Amin saat kami di perjalanan menuju toko salah satu pelanggan konveksiku.
"Entahlah, Pak. Allah memang maha membolak-balikkan hati manusia. Oh ya, setelah mengantar baju pesanan ini, kita langsung ke toko kue. Hari ini ada yang memesan 50 box kue. Saya khawatir Ana kewalahan mengerjakan pesanan itu sendiri."
"Baik, Bu."
Menjelang jam makan siang kami sudah selesai mengantar baju pesanan pelanggan. Kami pun langsung menuju toko kue ku.
"Pak Amin jemput Lyra saja dulu, nanti jika pesanan kue nya sudah siap, saya hubungi Pak Amin," ucapku.
Sopir pribadiku itu mengangguk paham. Dia pun lantas kembali melajukan mobilku menuju sekolah Lyra.
"Bagaimana, Na? Kamu kerepotan?" tanyaku pada Ana yang sibuk membuat adonan kue di dapur.
"Lumayan, Bu. Sudah dapat 20 box kue."
"Saya minta maaf belum sempat mencari teman untukmu."
"Tidak apa kok, Bu. Lagipula tidak setiap hari juga mendapat pesanan dalam jumlah besar begini."
"Saya bantu kamu biar cepat selesai."
Aku mengambil kain celemek lalu mengenakannya di badanku.
"Saya salut sama Ibu. Walaupun sudah jadi bos, Ibu tidak sungkan turun tangan langsung ke dapur," ujar Ana.
"Kamu berlebihan. Masa saya membiarkan karyawan saya kerepotan sendirian di dapur. Bismillah, semoga semua pesanan bisa selesai tepat waktu."
Setelah cukup lama berkutat di dapur, akhirya kue pesanan bu Murni selesai tepat pada jam lima sore.
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya semuanya selesai," ucapku.
"Ehm … Bu. Apa saya boleh pulang sekarang? Saya harus segera memandikan kakek saya," ucap Ana.
"Oh, boleh. Kamu juga boleh pulang sekarang, Rin. Untuk pengiriman kue ini biar menjadi urusan saya dan pak Amin," ucapku.
"Ya sudah, kami permisi dulu, Assalamu'alaikum."
Kedua karyawanku itu pun lantas meninggalkan toko.
Aku baru saja hendak menghubungi pak Amin. Ketika tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam yang begitu kukenal berhenti tepat di depan toko kue ku.
"Keenan?"
"Permi- …Loh, Zura? Kamu ngapain di sini? Kamu beli kue juga?" tanyanya.
Aku mengulas senyum.
"Toko kue ini milikku."
"Oh ya? Kebetulan sekali. Aku ingin membeli kue ulang tahun."
"Siapa yang berulang tahun?"
"Ayah."
"Silahkan pilih kue yang mana saja. Aku memberikannya gratis untuk ayahmu," ucapku seraya mengajak Keenan menghampiri etalase yang biasanya kugunakan untuk menyimpan kue.
"Mana bisa begitu. Ini ulang tahun ayah. Masa aku memberikannya kue gratisan."
"Begini saja, bagaimana kalau nanti kue nya kuganti saat kamu ulang tahun."
"Ulang tahunku masih tujuh bulan lagi." Aku terkekeh.
"Ehm … kalau ulang tahun Lyra?"
"Kebetulan akhir bulan ini usianya tepat delapan tahun.
"Baiklah, nanti aku belikan kue ulang tahun untuknya, tapi kamu jangan bilang-bilang sama dia," ucap Keenan. Kuanggukan kepalaku seraya tersenyum.
"Kue yang berhias buah ceri itu sepertinya cocok untuk ayah," ucap Keenan.
"Baiklah."
Aku pun mengambil kue dari dalam etalase itu lalu memasukkannya ke dalam sebuah box kue.
"Kamu sendiri yang menjaga toko ini?" tanya Keenan.
"Aku punya dua orang karyawan, mereka sudah pulang beberapa saat yang lalu."
"Oh, aku pikir kamu menjaga toko ini sendiri."
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada tumpukan box kue yang berada di atas meja.
__ADS_1
"Kue-kue itu mau dibawa ke mana?" tanyanya.
"Oh, kue itu pesanan bu Murni. Tetanggaku di tempat tinggal lamaku. Ah, aku sampai lupa mau menghubungi pak Amin. Pesanan ini harus segera sampai di sana sebelum Maghrib."
Aku pun mengambil ponselku dan kembali menghubungi pak Amin.
"Daripada menunggu pak Amin, bagaimana kalau aku saja yang mengantar kue-kue itu?"
"Nanti merepotkan."
"Kamu bilang begitu seperti dengan siapa saja. Meskipun kamu gagal menikah dengan Gibran, kamu sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri."
Aku terdiam sejenak, lantas berpikir.
"Benar juga. Kalau Keenan yang mengantarkan kue-kue ini, pasti akan lebih cepat sampai," gumamku.
"Ya sudah, aku kirim pesan dulu pada pak Amin. Takutnya dia nanti datang ke sini," ucapku.
Setelah memasukkan kue-kue itu ke dalam mobil Keenan, kami pun bergegas menuju rumah bu Murni.
"Alhamdulillah, pesanan saya selesai sebelum Maghrib," ucap bu Murni yang menyambut kami di teras rumahnya.
"Alhamdulillah, Bu."
"Oh ya, Mas ini siapa? Dia bukan sopir kamu 'kan?" tanya bu Murni.
"Oh, bukan, Bu. Dia-dia kawan saya."
"Mana mungkin laki-laki setampan ini jadi supir. Saya rasa Mas ini lebih cocok jadi pasanganmu," ujar bu Murni yang sontak membuatku salah tingkah.
"Ah, Bu Murni ini bisa saja," ucapku.
"Zal! Rizal! Bantuin mas ini angkat kue nya dari mobil lalu bawa masuk ke dalam rumah!" teriak bu Murni.
"Ya, Budhe," sahut pemuda itu dari dalam kamarnya.
Tidak berselang lama Rizal pun muncul di teras. Entah benar atau perasaanku saja, kawan kuliah Fina itu terlihat begitu gugup saat di hadapanku. Dia bahkan tak berani memandangku.
"Si Rizal itu sepertinya sedang menyukai seseorang," ucap bu Murni sesaat setelah Gibran dan Rizal berlalu dari hadapan kami.
"Kenapa Bu Murni bilang begitu?"
"Saya sudah dua kali menemukan nota pembelian buket bunga. Pertama terjatuh dari saku celananya, dan yang kedua di tempat sampah di dalam kamarnya."
Tunggu! Nota buket bunga? Apa benar Rizal yang selama ini mengirim buket bunga itu padaku? Kalau benar dia … apa alasannya? Apa mungkin pemuda itu mengagumiku?
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰