
"Iya. Atasanku memang perempuan."
"Lantas, Apakah antara bawahan dan atasan harus sedekat itu sampai-sampai Mas mengucapkan kata-kata manis untuknya?"
"Kata-kata manis mana yang kamu maksud?"
"Sudahlah. Aku mendengar obrolan kalian kok. Mas nggak usah berkelit lagi. Mas selingkuh 'kan dengan atasan Mas?"
"Kamu jangan sembarangan bicara. Kami tidak memiliki hubungan apapun," bantah Fabian.
"Awas saja kalau Mas sampai macam-macam di belakangku. Mas harus ingat, rumah ini sudah kubalik nama atas namaku."
"Dibalik nama? Kenapa kamu melakukannya tanpa sepengetahuanku?"
"Aku bukan perempuan bodoh, Mas. Aku harus jaga-jaga jika suatu saat Mas niggalin aku."
"Kamu ini bicara apa? Aku tidak akan pernah ninggalin kamu. Hanya kamu yang aku cintai. Buktinya aku lebih memilihmu dibandingkan mempertahankan pernikahanku dengan Azzura 'kan?"
Ternyata kalimat bernada rayuan itu mampu membuat amarah Mila sedikit mencair.
"Ya sudah, kita masuk ke dalam. Udara malam kurang baik untuk bayi kita." Fabian melingkarkan tangannya di pinggang Mila. Keduanya pun lantas masuk ke dalam rumah.
"Mas mau kemana?" tanya Mila.
"Kan kamu sendiri yang menyuruhku tidur di sofa."
"Mas tidur di kamar saja deh. Di luar udaranya dingin."
Fabian pun bergegas mengambil bantal serta selimutnya dari atas sofa lalu membawanya masuk ke dalam kamar.
"Boleh nggak malam ini aku ehm, …"
"Apa?"
"Itu?"
"Itu apa?"
Tiba-tiba Fabian mendekap tubuh Mila dan mencumbunya.
"Jangan malam ini, aku sudah ngantuk."
Mila menggesek tubuhnya lalu berbaring di atas ranjang. Ia hendak menarik selimutnya namun Fabian menahannya.
"Apa kamu mau dapat dosa dengan menolak melayani suami?" rayunya.
"Besok saja."
"Sekarang."
"Besok saja."
Mila hanya bisa pasrah saat Fabian mulai menyingkap daster yang dikenakannya.
"Pelan-pelan saja, ada Fabian junior di dalam sana," bisiknya.
Fabian yang sudah dikuasai gairah itu pun bersiap memberikan serangannya. Ketika tiba-tiba terdengar suara tangisan dari arah kamar sang ibu.
"Hufht! Mengganggu saja!" gerutu Fabian kesal. Dia pun bergegas mengenakan kembali pakaiannya lalu menghampiri kamar sang ibu.
"Ada apa, Bu?" tanyanya sedikit kasar.
"Zura…Lyra…hu…hu…hu…"
__ADS_1
"Ibu ini habis mimpi buruk atau bagaimana? Kenapa tiba-tiba menyebut nama mereka?" ucap Mila.
"Zura…Lyra…kangen. Hu…hu…hu…"
"Ibu kangen tuh sama Zura dan Lyra," ucap Mila ketus.
"Sudahlah, Bu. Tidak usah mengingat mereka lagi. Zura sudah lama tidak menjenguk Ibu. Dia pasti sudah lupa pada Ibu."
"Zura…Lyra …"
"Begitu saja terus sampai pagi!"
Mila beranjak dari kamar itu lalu kembali ke dalam kamarnya.
"Mana Zura?"
"Zura lagi. Zura lagi. Aku sudah bilang pada Ibu kan? Dia sudah pergi. Dia sudah tidak mau mengenal kita lagi."
"Ibu…ingin…bertemu… Zura."
"Aku tidak tahu di mana Zura sekarang. Lagipula kami sedang dalam proses perceraian. Aku tidak akan pernah mencarinya."
"Zu-ra ba-ik…Mila ja-hat, …"
"Ibu ini bicara apa? Jelas-jelas Mila yang setiap hari mengurus Ibu. Kenapa Ibu masih saja menganggap Zura Baik? Kalau dia memang baik, dia tidak mungkin pergi meninggalkan kita."
"Zura… Lyra…hu…hu…hu…"
"Sudah, Bu. Jangan menangis terus. Aku juga mau istirahat."
Fabian beranjak dari kamar sang ibu, ia lantas kembali ke dalam kamarnya melanjutkan pertempuran yang sempat tertunda.
Keesokan paginya.
"Sudah sepuluh tahun lebih Zura menjadi menantu ibu. Jadi wajar kalau ibu agak kaget saat dia pergi meninggalkannya."
"Ehm, apa Mas tidak terpikir untuk mengantar ibu bertemu dengan Zura? Kasihan juga kalau ibu terus-terusan begitu."
"Kamu ngomong kaya gitu bukan karena kamu nggak mau mengurus ibu lagi 'kan?"
"Bu-bu-bukan begitu, Mas. Kalau Mas mempertemukan ibu dengan Zura, siapa tahu keadaan ihu akan sedikit membaik."
"Meskipun beberapa hari yang lalu sempat bertemu, tapi aku tidak tahu di mana tempat tinggalnya sekarang."
"Apa? Mas bertemu dengan Zura?"
"Ya. Tapi pertemuan itu bukan disengaja."
"Memangnya kalian bertemu di mana?"
"Ehm…ehm…di-di kantor pegadaian. Kebetulan aku ada perlu di sana."
"Apa Mas tahu apa yang dilakukannya di pegadaian?"
"Entahlah. Mungkin dia meminjam uang."
"Sok-sokan ninggalin Mas, hidupnya kini pasti sedang kesusahan," ujar Mila.
"Biarkan saja. Itu sudah menjadi konsekuensi dari keputusan yang sudah diambilnya."
"Jadi, bagaimana dengan ibu? Mas setuju dengan usulku 'bukan?"
"Di mana aku harus mencarinya?
__ADS_1
"Zura tidak punya saudara di kota ini. Sudah pasti dia tinggal di kontrakan tempat kost."
"Ada puluhan bahkan ratusan rumah kontrakan dan tempat kost di kota ini. Ke mana aku harus mencarinya?"
"Mas bertemu dengannya di kantor pegadaian 'kan? Pasti tempat tinggalnya tidak jauh dari tempat itu."
Suasana hening sejenak.
"Ayolah, Mas. Cari Zura. Aku hanya kasihan pada ibu, itu saja. Aku tidak tega setiap hari dia selalu menangis sambil menyebut nama Zura," bujuk Mila.
Fabian tak sedikitpun curiga jika itu hanyalah bagian dari akal licik Karmila agar bisa terbebas dari merawat ibu mertuanya.
"Ya sudah, hari ini aku akan mencarinya," ucap Fabian. Karmila mengangguk setuju.
"Aku berangkat sekarang."
"Hati-hati, Mas."
Fabian beranjak dari ruang makan. Ia lantas meninggalkan rumahnya.
"Zura…Lyra…"
Lagi-lagi terdengar suara sang ibu memanggil dua nama itu.
Karmila beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri kamar sang ibu mertua.
"Mas Fabian sedang mencari Mbak Zura. Kalau sudah ketemu, silahkan jika Ibu mau tinggal bersamanya. Aku sudah lelah mengurus Ibu!"
"Hu…hu…hu…"
"Bisanya nangis aja. Kenapa sih Ibu tidak meninggal saja saat musibah kebakaran itu? Kalau begini hanya merepotkan saja!" gerutu Mila. Tentu saja kalimat itu terdengar begitu menyakitkan. Pun sang ibu tidak bisa berbuat apapun apalagi memaki menantunya itu.
Sementara itu Fabian tengah menyusuri beberapa rumah kontrakan di sekitar pegadaian tempat ia bertemu dengan Azzura beberapa hari yang lalu. Ia sudah bertanya pada pemilik ataupun penghuni kontrakan itu, namun belum menemukan jejak keberadaan Azzura.
"Mungkin orang yang Bapak cari tinggal di tempat kost.Harga sewa tempat kost 'kan lebih murah jika dibandingkan dengan rumah kontrakan," ucap salah satu penghuni rumah kontrakan.
"Benar juga," gumam Fabian.
Dari rumah kontrakan, tujuan pencariannya kali ini adalah tempat kost. Namun, ia pun dibuat bingung lantaran sebagian besar tempat kost itu hanya karyawan saja yang diperbolehkan menyewanya. Di saat kebingungan itulah tanpa sengaja dia mendengar obrolan dua orang perempuan.
"Di sebelah sana ada tukang jahit baru. Aku dengar orangnya ramah, jahitannya rapi, dia juga tidak memasang tarif khusus untuk ongkos jahit."
"Kebetulan sekali. Aku punya bahan pakaian. Aku berencana membuat baju gamis."
"Ya sudah, sekarang saja kita ke sana. Kalau siang suka antre."
"Memangnya siapa nama penjahitnya?"
"Ehm…kalau tidak salah namanya Zu-Zu-Azzura. Ya, Azzura Taylor."
Keduanya pun lantas meninggalkan tempat itu.
"Azzura? Apa mungkin Azzura yang dimaksud itu adalah Azzura yang kucari? Tapi, bagaimana mungkin Azzura bisa buka usaha? Dia pergi tanpa membawa apapun," gumam Fabian.
Meskipun awalnya ragu, Fabian akhirnya memutuskan mengikuti kedua perempuan itu.
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1