Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Sandiwara telah usai


__ADS_3

Kemunculan tuan Anthony yang tiba-tiba tentu saja membuat Silvia dan Evan tersentak kaget. Pun keduanya mencoba bersikap setenang mungkin di hadapannya.


"Ehm … itu-itu … uang itu untuk modal investasi di perusahaan X," jawab Silvia sedikit gugup.


"Kamu melakukan investasi tanpa meminta persetujuan dari ayah. Apa kamu tahu bagaimana kredibilitas perusahaan yang kamu tanami saham itu? Bagaimana kalau ternyata perusahaan itu hanya penipu berkedok investasi? Kamu pasti sudah tahu akhir-akhir ini sedang marak bisnis itu."


"Ayah tenang saja, aku sudah meminta Evan mencari informasi tentang perusahaan ini. Perusahaan ini sudah dipercaya banyak investor. Bukan begitu, Evan?"


"I-i-iya, Nona," jawab Evan gugup.


"Bisa kulihat tanda bukti kerja sama dengan perusahaan itu?"


Pertanyaan itu tentu saja membuat keduanya kebingungan.


"Ah! Sepertinya aku meninggalkannya di kantor," ucap Silvia.


"Ayah harap kamu tidak membuat ayah kecewa. Ehm … Evan."


"Ya, Tuan."


"Buat janji dengan dokter Steve. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kaki saya."


"Baik, Tuan," ucap Evan sembari menunduk hormat. Ia pun lantas bergeser beberapa langkah dan mulai menelpon seseorang.


"Aku ke dalam dulu biar bibi menyiapkan keperluan Ayah," ucap Silvia.


"Hati-hati mengemudinya, jangan ngebut," ucap Silvia sesaat setelah ia memapah sang ayah masuk ke dalam mobil.


"Baik, Non."


Mobil sedan itu pun meninggalkan tempat tersebut.


Di tengah perjalanan, entah mengapa sang tuan mengeluh pusing.


"Apa kita perlu ke rumah sakit, Tuan?" tanya Evan.


"Tidak perlu. Kita berhenti saja di apotek itu. Kamu beli obat yang biasanya." Tuan lantas Anthony mengambil dompetnya.


"Ah! Aku lupa tidak memiliki uang tunai," ucapnya.


"Tidak apa, Tuan. Pakai uang saya dulu."


Evan mengambil dompet yang berada di dalam tas miliknya yang berada di samping tempat duduknya. Karena terburu-buru, ia tak menyadari jika selembar kertas baru saja terjatuh dari dalam sana. Tuan Anthony yang awalnya berpikir itu hanya lah kertas biasa, entah mengapa ia begitu penasaran. Ia pun mulai membaca tulisan tangan yang tertera di kertas tersebut. Tentu saja dia paham betul tulisan siapa itu.


"Berani betul kalian membohongi saya," gumamnya setelah membaca isi surat perjanjian itu. Kini ia tahu jika Amira dan ibunya yang ia temui beberapa hari yang lalu ternyata bukan Amira yang asli. Silvia dan Evan lah yang telah merancang sandiwara ini.


Tuan Anthony bergegas mengambil kertas tersebut dan melipatnya, lalu memasukkannya ke dalam saku jasnya saat Evan mulai melangkah masuk ke dalam mobilnya. Ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Kalaupun ada yang harus disalahkan, orang itu adalah putri kandungnya sendiri, Silvia. Evan hanya lah anak buah yang harus mematuhi perintahnya ataupun Silvia.


"Silahkan, Tuan."

__ADS_1


Evan menyodorkan satu botol pil pereda nyeri serta sebotol air mineral pada sang tuan.


Untuk ke dua kalinya Evan menghentikan mobilnya lantaran di jalanan tersebut telah terjadi kecelakaan lalu lintas.


"Ada apa ini, Pak?" tanya tuan Anthony pada seorang polisi melalui kaca jendela mobilnya.


"Ada kecelakaan, Pak. Dua orang wanita yang tengah berboncengan sepeda motor menabrak pembatas jalan. Sepertinya pengendara motor itu belum terlalu mahir mengendarai sepeda motornya. Saya bisa mengatakan demikian karena plastik pembungkus kendaraan itu belum dibuka. Mungkin pengendara nya nekad turun ke jalan raya," ungkap polisi.


"Lantas, bagaimana keadaan mereka?"


tanya tuan Anthony.


"Wanita yang membonceng selamat meskipun ia mengalami luka yang cukup parah, sedangkan pengemudinya meninggal dunia di tempat."


Entah mengapa perasaan Evan tiba-tiba tidak nyaman. Jika mendengar ciri-ciri yang disebutkan polisi, mungkinkah kedua perempuan itu adalah Amira palsu dan ibunya? Semoga bukan.


"Evan."


"Ya, Tuan."


"Bantu saya turun. Saya ingin melihat kedua korban kecelakaan itu."


"T-t-tapi, Tuan, …"


"Kenapa kamu panik begitu?"


"Ti-ti-tidak, Tuan. Mari saya bantu turun."


"Kita mendekat ke sana." Tuan Anthony mengacungkan jari telunjuknya ke arah kerumunan.


"T-t-tapi, Tuan. Itu korban kecelakaan. Apa Tuan yakin ingin tetap melihatnya?"


"Memangnya kenapa? Jangan-jangan kamu takut."


"Ehm … saya-saya ngeri melihat darah."


"Jadi laki-laki masa dengan darah saja takut. Ayo dorong aku ke sana."


Pikiran Evan tak karuan. Rasa takut pun mulai menyerangnya. Bukan darah yang sebenarnya ia takutkan, namun bagaimana jika kedua perempuan yang mengalami kecelakaan itu ternyata benar-benar perempuan yang sudah ia bayar untuk mengaku sebagai Amira dan ibunya?


"Permisi," ucap tuan Anthony sembari menembus kerumunan dengan kursi rodanya.


Alangkah terkejutnya dia saat mendapati pemandangan yang tersaji di hadapannya.


Seorang wanita yang baru beberapa hari lalu ditemuinya tengah menangis histeris sembari memeluk tubuh seorang gadis.


Tidak salah lagi, kedua korban kecelakaan itu adalah Amira palsu dan ibunya. Evan pun tak kalah terkejutnya. Ternyata dugaan itu benar adanya.


"Nyonya, …" ucap tuan Anthony.

__ADS_1


"Tangis perempuan paruh baya itu seketika terhenti. Dari putrinya, pandangannya beralih pada tuan Anthony.


"Tu-Tu-Tuan? Hu … hu … hu … Kami minta maaf, Tuan," ucapnya.


"Kenapa Nyonya harus meminta maaf pada saya?"


"Kami sudah membohongi Tuan."


"Apa maksud Nyonya?"


"Sebenarnya putri saya bukan Amira. Kami hanya dibayar oleh nona Silvia agar mengaku sebagai Amira. Gadis yang pernah Tuan tabrak sepuluh tahun silam."


"Jadi benar, Silvia membohongiku?" gumam tuan Anthony.


"Berapa dia membayar kalian?"


"Lima puluh juta rupiah. Separuh kami belikan sepeda motor baru, separuh lagi kami pakai untuk berbelanja. Kami celaka karena omongan saya sendiri. Putri saya benar-benar mengalami kecelakaan bahkan ia kehilangan nyawanya. Itu pasti karena teguran dari Tuhan karena kami membeli sepeda motor bukan dari uang halal. Kami benar-benar meminta maaf. Hu … hu … hu." Sekali lagi wanita itu memeluk tubuh anak gadisnya yang kini sudah tidak bernyawa."


"Sudahlah, Nyonya. Tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Apa yang terjadi pada putri Nyonya adalah takdir. Kita tidak akan pernah tahu kapan dan di mana maut akan menjemput," ucap tuan Anthony.


"Aww! Sakit!" pekik wanita itu sembari memegangi bagian belakang kepalanya yang memang sudah berlumuran darah.


"Kenapa, Nyonya?"


"Sekali lagi kami minta maaf. Saya sudah tidak kuat lagi. Selamat ting-gal."


"Nyonya! Nyonya!" pekik tuan Anthony. Namun tubuh wanita itu tak lagi bergerak.


"Siapapun kalian, aku meminta maaf. Karena putriku telah mengantar kalian menuju kematian," ucapnya parau.


"Evan."


"I-i-iya, Tuan."


"Kita putar balik. Batalkan janji dengan dokter Steve."


"T-t-tapi, Tuan, …"


"Cepat!" bentaknya.


Apa yang akan dilakukan tuan Anthony pada Silvia? Ikuti terus kisahnya ya, Kak.


Bersambung …


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


🙏🙏


Happy reading…


__ADS_2