Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Beruntung


__ADS_3

"Oh, jadi benar kata orang-orang di luar sana. Kamu sekarang tinggal di tempat kost ini?"


"I-I-I-bu, …"


"Pulang sekarang!" Wanita itu tiba-tiba menarik tangan Fina dan memaksanya keluar namun gadis itu menolak.


"Aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah itu lagi!" 


"Kurang ajar! Berani melawan kamu 'hah!"


Kali ini wanita yang belum kuketahui namanya itu menarik kain hijab Fina hingga nyaris terlepas.


"Maaf, ini tempat tinggal saya. Jika Ibu tidak bisa bersikap sopan, saya akan memanggil warga agar mengusir Ibu!" ancamku.


"Jangan-jangan kamu yang telah meracuni Fina sampai dia meninggalkan rumah," tuduh wanita itu.


"Astaghfirullah. Apa maksud ucapan Ibu?"


"Gadis pembangkang ini meninggalkan rumah tanpa pamit!"


Tentu saja aku kebingungan. Fina mengatakan jika dirinya diusir, tapi mengapa ibu ini mengatakan Fina pergi tanpa pamit?


Dari wanita itu, kualihkan pandanganku pada Fina.


"Apa kamu bisa jelaskan ini?"


"Ma-ma-af, Bu. Sebenarnya saya tidak diusir, tapi saya meninggalkan rumah."


"Kamu dengar sendiri 'bukan? Selain pembangkang, gadis ini juga pembohong."


"Kenapa kamu meninggalkan rumah tanpa pamit, Fin?" tanyaku.


"Aku tidak tahan lagi dengan sikap Ibu yang selalu kasar dan memperlakukanku seperti pembantu."


"Kamu jangan mengada-ada. Ayo cepat pulang! Jangan membuat malu!" Sekali lagi wanita itu menarik lengan Fina namun gadis itu justru menepisnya dengan kasar.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali ke rumah itu lagi!" tegasnya.


"Maaf, bukannya saya mau ikut campur. Tapi tidak baik berbuat kasar pada anak-anak," ujarku.


"Dia anakku, aku berhak mengaturnya."


"Aku hanya anak sambung dan Ibu selalu memperlakukanku dengan tidak adil. Itulah alasanku pergi dari rumah."


"Ayo ikut ibu pulang!" bentak wanita itu setengah memaksa.

__ADS_1


"Aku tidak mau pulang!" tegas Fina.


Perdebatan keduanya terhenti saat cik Leny, pemilik tempat kost tiba-tiba muncul.


"Astaga. Aku tidak habis pikir. Kenapa setiap kali mendatangi tempat ini selalu ada keributan. Apa hidupmu selalu dikelilingi masalah?" 


"Maaf, Cik. Ini hanya kesalahpahaman," ucapku.


"Dulu ibumu ribut dengan sesama penghuni kost, beberapa bulan kemudian terjadi keributan di kamar kost mu hingga mengakibatkan kematian pak Prayoga. Apa kamu tahu, gara-gara peristiwa itu peminat yang ingin menyewa kamar kost di sini menurun drastis? Sekarang keributan apalagi yang ingin kamu buat?"


"Ini hanya salah paham. Saya yakin masalah yang terjadi di antara Fina dan ibunya bisa dibicarakan dengan baik-baik," ucapku.


Tiba-tiba wanita keturunan China itu menatap tajam mata ibu sambung Fina.


"Jangan membuat keributan di tempat ini!" serunya.


"Dia lah sumber masalah ini!" Ibu sambung Fina mengacungkan jari telunjuknya ke arahku.


"Loh, kenapa jadi saya yang disalahkan? Niat saya hanya menolong Fina yang waktu itu kebingungan karena tidak memiliki tempat tinggal."


"Alah! Saya tahu, tujuanmu menampung Fina di sini hanya untuk memanfaatkannya saja. Kamu pasti mempekerjakan dia tanpa membayarnya 'bukan?"


"Apa yang Ibu tuduhkan sama sekali tidak benar. Saya memang memiliki tempat usaha. Namun, saya selalu memperlakukan Fina dengan layak seperti keluarga saya sendiri," ujarku.


"Apa yang bu Zura katakan benar. Kalaupun disuruh memilih, aku lebih memilih tinggal bersamanya daripada tinggal di rumah peninggalan mendiang ayah," ucap Fina.


"Ayo pulang!" Ibu sambung Fina bersikeras mengajak Fina pergi, namun gadis itu selalu menolak.


"Daripada tinggal di rumah peninggalan mendiang ayahku, aku lebih memilih tinggal di bersama bu Zura!" tegas Fina.


"Dasar gadis pembangkang!"


Wanita itu mencoba menarik lengan Fina, kali ini aku yang menghalaunya.


"Jika Ibu berbuat kasar pada Fina, saya akan berteriak agar warga mengusir Ibu dari tempat ini!" ancamku.


"Diam kamu! Tidak usah ikut campur urusan orang lain!" Ibu sambung Fina balas membentakku.


"Kalau Ibu tidak segera pergi dari tempat ini, saya akan menghubungi polisi!" ancam cik Leni. Ia lantas mengambil ponselnya lalu didekatkan ke arah telinganya. Meski hanya gertakan, nyatanya hal itu mampu membuat wanita berperangai kasar itu ketakutan. Dia pun akhirnya memilih pergi meninggalkan tempat kost ku.


"Jadi, itu ibu sambung kamu, Fin?" tanyaku sesaat setelah wanita paruh baya itu berlalu.


"Benar, Bu. Beliau hanya baik di depan ayah saja. Saat ayah tidak di rumah, aku selalu diperlakukan buruk," ungkap Fina.


"Maaf, maksud kedatangan saya kemari untuk meminta uang sewa kamar ini," sela cik Leny.

__ADS_1


"Oh ya, Cik. Saya sudah menyiapkan uangnya. Terima kasih Cik Leny masih mengizinkan saya tinggal di tempat ini meskipun saya sering membuat masalah."


"Yang terpenting bagi saya Mbak Zura selalu tepat waktu membayar uang sewa kamar. Tapi saya harap ini yang terakhir saya mendengar keributan di tempat ini."


"Baik, Cik. Tinggu sebentar, saya ambil uangnya dulu." Aku beranjak dari ruang tamu dan berjalan menuju kamar. Beberapa saat kemudian aku kembali dengan membawa sejumlah uang.


"Saya bayar selama tiga bulan ke depan," ucapku yang tentu saja ditanggapi wanita berkulit putih itu dengan senyuman. 


"Sepertinya usaha menjahit Mbak Zura sudah lumayan ramai," ucapnya.


"Alhamdulillah."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu."


Pemilik tempat kost itu pun lantas meninggalkan ruang tamu.


"Kamu kenapa, Fin?" tanyaku saat mendapati raut wajah gadis itu tiba-tiba berubah murung.


"Apa saya durhaka pada pada orangtua jika saya meninggalkan rumah?" tanyanya.


Aku tersenyum.


"Kalau kamu tetap tinggal di rumah itu, sama artinya kamu membiarkan dirimu didzolimi. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah sering-sering berdo'a agar Allah lekas melembutkan hati ibu sambungmu agar dia bisa bersikap lebih baik padamu," ujarku.


"Aku begitu beruntung dipertemukan dengan orang sebaik Bu Zura," ucap Fina.


"Aku juga senang dipertemukan dengan gadis yang baik dan rajin sepertimu."


*****


Hari berlalu, dua hari sebelum tanggal pernikahan Keenan dan Asha, baju pengantin yang kurancang khusus untuk pernikahan Keenan dan Asha telah siap.


Kebaya berwarna putih dan jas berwarna senada itu baru saja kumasukkan ke dalam paper bag untuk kemudian diberikan kepada pemiliknya.


Aku pun lantas menghubungi nomor telepon Keenan yang tertera di kartu nama yang pernah diberikannya padaku kurang lebih dua Minggu yang lalu. Berkali-kali kuhubungi nomor telepon itu, namun ia mengabaikan panggilan dariku. Akhirnya aku pun memutuskan mengirim pesan singkat untuknya.


[Assalamu'alaikum. Mas Keenan, ini nomor saya, penjahit Azzura. Baju pengantin pesanan Mas Keenan dan mbak Asha Alhamdulillah sudah siap dan bisa diambil hari ini]


Sepuluh menit, dua puluh menit, hingga beberapa jam setelah laporan pesan itu dibaca, Keenan tak juga mengirim pesan balasan. Tiba-tiba aku teringat ucapan Asha beberapa waktu yang yang mengatakan "jika kita hanya bisa berencana, selebihnya adalah hak mutlak Allah".


Ya Rabb, kenapa tiba-tiba hati ini tidak tenang? Apakah terjadi sesuatu pada mereka?


Bersambung … 


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…


__ADS_2