
"Kamu gak apa-apa 'kan pulang naik taksi?" tanya mas Fabian pada Mila saat hari beranjak petang.
"Mas bawa mobil. Kenapa aku harus pulang naik taksi?" protes Mila.
"Aku harus menjaga Zura di sini," ucap mas Fabian.
Aku bisa melihat raut wajah Mila tiba-tiba berubah masam.
"Sudahlah, Mas. Gak perlu ditunggui. Di sini 'kan ada dokter dan perawat. Jika perlu apa-apa Mbak Zura bisa meminta bantuan mereka."
"Mana mungkin aku membiarkannya seorang diri di sini?"
"Ingat, Mas. Lyra sekarang berada di tangan orang lain. Bu Murni 'kan bukan saudara atau kerabat kalian. Bagaimana jika Lyra kenapa-napa? Bu Murni 'kan belum punya anak. Dia pasti kurang paham cara mengasuh bayi."
"Meskipun bukan saudara atau kerabat, aku kenal betul siapa Bu Murni. Beliau orang yang baik dan penyayang. Aku yakin Lyra aman bersamanya," ujarku.
"Lantas, bagaimana dengan ibu? Siapa yang merawat ibu?"
"Tentu saja kamu yang harus merawat ibu. Tunjukkan pada beliau jika kamu pantas menjadi menantunya," ucapku.
Raut wajah masam itu kini berubah kesal. Tanpa bicara pun aku paham jika Mila keberatan jika harus merawat ibu.
"Ehm, Mas. Maaf aku lupa. Malam ini aku harus menghadiri acara penting di rumah tetanggaku."
"Tadi kamu nggak bilang ada acara loh malam ini," ucap mas Fabian.
"Maaf, tadi aku lupa."
"Kamu nggak apa-apa kan mas tinggal? Mas harus merawat ibu di rumah."
Terpaksa kuanggukkan kepalaku. Tak apa jika mas Fabian pulang, saat ini ibu mertuaku lebih membutuhkannya.
"Ya sudah, kita pulang sekarang saja. Mas anterin aku pulang dulu ya," rayu Mila sembari bergelayut manja di pundak mas Fabian. Aku lantas memalingkan wajahku. Sungguh, aku tak menyukai jika mereka pamer kemesraan di hadapanku.
"Mas pulang dulu. Nanti mas bilang pada perawat untuk sering-sering mendatangi ruangan ini," ucap mas Fabian.
"Mas belikan susu juga untuk Lyra. Saat ini terpaksa memberikannya susu formula."
"Merepotkan saja."
Meskipun pelan, aku bisa mendengar ucapan itu.
"Mas bilang apa barusan? Aku merepotkan?"
"Ehm… ti-ti-tidak," bantahnya.
"Kenapa Mbak harus marah? Mbak memang merepotkan kok. Pakai sakit segala." Mila lagi-lagi menimpali obrolan kami.
"Kamu pikir siapa yang mau sakit? Jika keadaanku baik-baik saja aku pastikan sudah pergi meninggalkan rumah."
__ADS_1
"Tapi nyatanya apa? Kamu masih membutuhkan mas Fabian karena kamu tidak mampu membayar biaya perawatan rumah sakit ini."
"Sudahlah, sampai kapan kalian akan berdebat? Aku harus segera pulang untuk merawat ibu dan Lyra," ucap mas Fabian.
"Ya sudah, kita pulang sekarang saja."
Mila melirik sinis ke arahku sebelum melingkarkan tangan kirinya di pinggang mas Fabian. Keduanya pun lantas meninggalkan kamar perawatanku.
Pukul 18.00
"Selamat malam, Ibu …Azzu… Zura?"
Perawat yang baru saja masuk ke dalam kamar perawatanku tampak kaget saat melihatku.
"Selamat malam, Suster."
"Kamu Zura 'kan?" tanyanya.
Siapa perawat cantik ini? Bagaimana dia bisa mengenaliku?
"Benar, Suster. Nama saya Azzura. Apa Suster mengenal saya?"
"Aku Mayra. Teman satu kelasmu dulu."
Aku berpikir sejenak. Seumur hidup aku hanya mengenal satu nama Mayra. Dia adalah kawan sekelasku saat SMA. Apakah perawat yang kini berdiri di hadapanmu adalah Mayra kawan lamaku?
Aku mengamati wajah perawat itu. Tahi lalat kecil yang berada tepat di tengah dagu itu hanya Mayra pemiliknya.
"Alhamdulilah, kabarku baik."
"Syukurlah."
"Pria yang tadi keluar dari ruangan ini suamimu?" tanya Mayra sembari meletakkan nampan berisi menu makan malam untukku di atas meja.
"Ya, May."
"Kenapa dia ninggalin kamu sendirian di rumah sakit ini?"
"Mas Fabian harus pulang. Ada ibu mertuaku yang sedang sakit, juga putri kami yang baru berumur dua bulan," jelasku.
"Lantas, siapa perempuan yang bersama suamimu? Kok mereka mesra banget ya? Aku aja malu bermesraan di tempat umum."
Apa yang harus kukatakan pada Mayra? Apa aku harus mengatakan yang sejujurnya? Ataukah aku harus menutupi borok di rumah tanggaku?
"Kenapa kamu diam, Ra? Apa ucapanku menyinggung perasaanmu?"
"Ti-ti-tidak, May. Aku diam karena tiba-tiba kepalaku pusing. Perempuan tadi adalah adik iparku. Namanya Mila."
"Oh, adik suamimu toh. Aku pikir dia istri muda suamimu." Mayra terkekeh.
__ADS_1
Aku menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.
"Kamu sudah menikah, May?" tanyaku sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Sudah pernah."
"Maksud kamu?"
"Aku sudah pernah menikah, tapi gagal."
Aku dan mantan suamiku bercerai di usia pernikahan kami yang ke lima."
"Maaf ya May, aku nggak tahu."
"Nggak apa, Ra. Beliau yang menggugat cerai lantaran aku tak kunjung memberinya keturunan."
"Deg!"
Ucapan itu bagaikan sebuah tamparan keras bagiku. Mayra diceraikan oleh suaminya lantaran ia tak kunjung hamil. Namun, di saat Allah menghadirkan Lyra dalam kehidupan kami, rumah tangga kami kini justru tengah dihadapkan pada sebuah ujian berat.
"Kamu kenapa, Ra?" tanya Mayra.
Aku lekas menyeka air mataku sebelum sempat menetes.
"Nggak apa-apa, May. Aku hanya iba dengan nasibmu. Tidak seharusnya suamimu menggugat cerai hanya karena Allah belum memberikan kalian keturunan. Aku pun baru hamil saat usia pernikahanku memasuki tahun ke sepuluh."
"Mungkin kamu lebih beruntung. Memiliki suami penyayang dan penyabar," ujar Mayra.
Beruntung? Seandainya Mayra tahu. Saat ini aku merasa menyesal karena menikah dengan mas Fabian.
"Habiskan makan malam nya ya, Ra. Obatnya diminum juga. Aku masih harus mengantarkan makan malam ke pasien lainnya. Lain kali kita lanjutkan ngobrolnya," ucap Mayra.
Kuanggukkan kepalaku, lantas aku tersenyum.
Mayra pun lantas meninggalkan kamar perawatanku.
Aku baru saja menyelesaikan makan malamku ketika tiba-tiba ponselku berdering singkat. Lekas kuambil ponselku dari atas meja dan kubuka aplikasi percakapan.
[Bu Murni]
[Assalamualaikum. Maaf, Mbak. Sedari tadi saya mendengar ibu Kinanti menangis kesakitan. Saya tidak bisa masuk karena pintu terkunci]
Astaghfirullah! Apa lagi ini? Di mana mas Fabian? Kenapa Bu Murni sampai mengirim pesan seperti ini? Keterlaluan kamu, Mas.
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏