Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Selimut duka


__ADS_3

"Mbak Zura kenapa?" tanya Bu Murni. Rupanya beliau menangkap kegelisahan di raut wajahku.


"Saya titip Lyra sebentar, Bu," ucapku sembari beranjak dari tempat dudukku.


Demi menjawab rasa penasaranku, aku pun menghampiri kerumunan warga yang berasal dari jalan raya di dekat pasar. 


"Astaghfirullahaldzim!" Aku hampir tak mempercayai dengan apa yang kulihat di depan mataku. Meskipun wajahnya berlumuran darah, aku masih bisa mengenali wajah laki-laki itu. Tidak salah lagi, korban kecelakaan itu adalah kakak laki-laki Mayra, Irwan.


"Mbak kenal laki-laki ini?" tanya salah satu warga.


"I-i-iya, Pak. Dia adalah kakak kawan saya," jawabku dengan suara bergetar lantaran ketakutan. Bagaimana tidak? Keadaan laki-laki yang telah membuat ibuku hamil itu begitu mengerikan. Bagian kepala dan wajahnya berlumuran darah dengan kedua bola mata yang melotot. Tubuh ini mendadak lemas, lututku pun gemetar.


"Mbak punya nomor telepon keluarganya 'kan?" tanya pria itu lagi. Kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban.


Bagaimana caraku memberitahu sahabatku itu tentang apa yang terjadi pada Irwan?


"Kenapa Mbak diam saja? Mbak punya nomor saudara korban kecelakaan itu 'kan?" Pria itu mengulangi pertanyaannya.


"I-i-iya, Pak."


Lekas kuambil ponselku yang kusimpan di kantong baju gamis yang kupakai.


[Assalamu'alaikum, May]


[Waalaikumsalam. Ada apa, Ra? Tumben kamu nelpon.]


[Ehm, kakakmu … kakakmu, …]


[Kenapa dengan mas Irwan? Dia masih di luar kota. Katanya mau pulang hari ini. Beberapa hari yang lalu dia mengatakan ingin menemui ibumu dan meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya. Mas Irwan sama sekali tidak bisa tenang dan terus dikejar rasa bersalah. Sepertinya mas Irwan mau mempertanggungjawabkan perbuatannya]


[May …]

__ADS_1


[Kenapa, Ra. Kok suara kamu gemetaran gitu]


[Kamu sekarang di rumah atau di rumah sakit?]


[Hari ini aku sengaja mengambil cuti karena menunggu mas Irwan pulang. Aku sudah janji mau nemenin dia ke rumahmu. Tadinya aku ingin memberi kalian kejutan. Tapi karena kamu nelpon, jadinya aku kasih tahu]


[Ehm, kamu bisa nggak datang ke pasar sekarang?]


[Ngapain, Ra?]


[Ehm, gak apa-apa. Aku ingin ketemu kamu saja]


[Ya sudah, kebetulan aku juga mau belanja. Aku ingin memasak masakan kesukaan mas Irwan. Kamu tunggu ya, aku berangkat sekarang]


-Klik. Panggilan terputus-


"Gimana, Mbak? Apa sudah ditelpon saudaranya korban kecelakaan itu?" tanya pria itu lagi.


Lima belas menit kemudian.


"Zura! Hai!" Sahabatku yang periang itu melambaikan tangan ke arahku sesaat setelah turun dari dalam taksi.


"Itu ada apa, Ra? Kok rame-rame gitu?" tanyanya sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah kerumunan.


"Ehm, … itu … itu …"


Demi apapun, aku tak sanggup mengatakan jika puluhan warga itu kini tengah mengerumuni jenazah kakak semata wayangnya, Irwan.


"Aku harap kamu bisa kuat," ucapku sembari menggandeng tangannya dan mengajaknya mendekati kerumunan tersebut.


"Sebenarnya ada apa sih 'Ra?" tanya Mayra.

__ADS_1


Detik kemudian kami sudah berada tepat di hadapan jenazah Irwan yang kini ditutupi lembaran koran itu.


"Apa Mbak saudara korban?" tanya pria itu pada Mayra.


"Korban? Maksud Bapak korban apa?"


Perlahan pria itu pun menyingkap koran bekas yang menutupi wajah Irwan. 


"Mas Irwan! Astaga! Zura, apa yang terjadi? Kenapa mas Irwan?"


Tak ada hal yng bisa kulakukan selain merengkuh tubuh Khumayra ke dalam pelukanku. Dia baru menyadari jika kakak semata wayangnya itu meninggal dunia akibat sepeda motor yang dikendarainya bertabrakan dengan mobil.


"Mas Irwan! Tidak! Kenapa Mas Irwan ninggalin aku!" teriaknya. Kulihat beberapa pasang netra yang berada di kerumunan itu berkaca-kaca karena iba. Tak terkecuali denganku. Pun tetap berusaha sebisa mungkin menguatkan sahabatku itu.


"Kamu yang sabar, May," bisikku di dekapannya.


"Tuhan tidak adil. Kenapa Tuhan mengambil satu-satunya keluarga yang kumiliki?" Isak Mayra.


"Sabar, May. Ini ujian," ucapku.


Perlahan kurasakan tubuh Mayra terlepas dari dekapanku, hingga akhirnya tubuh itu benar-benar luruh di jalan beraspal.


"May! Mayra! Sadar lah!" pekikku.


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…

__ADS_1


__ADS_2