Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Pertikaian


__ADS_3

Pagi ini aku tengah berada di ruang produksi. Aku hendak memantau sejauh mana proses produksi pakaian muslim yang dipesan Gibran.


"Insyaallah produksi selesai hari ini, Bu. Semua pesanan bisa dikirim besok," ucap Mira, salah satu karyawan yang kutunjuk sebagai kepala produksi.


"Alhamdulillah, berkat kerjasama dan kekompakan kalian semua selesai sesuai jadwal. Insyaallah jika pembayaran selesai, saya akan memberikan bonus untuk kalian semua," ucapku yang disambut senyum sumringah dari 30 karyawanku yang berada di dalam ruangan itu.


"Baik, silahkan kembali bekerja." Aku beranjak meninggalkan ruangan itu dan kembali ke rumahku yang berada di bagian depan. Di ruang tamu kulihat mantan ibu mertuaku tengah duduk melamun di ruang tamu.


"Ibu, …"


Sepertinya ibu tak menyadari kehadiranku. Beliau bahkan sedikit berjingkat saat aku menyentuh lembut punggungnya.


"Kamu … Nduk."


"Ibu sedang mikir apa?" tanyaku.


"Apa sikap ibu pada Fabian kemarin keterlaluan? Dia datang untuk meminta maaf, tapi ibu malah mengabaikannya."


Aku mengulas senyum.


"Siapapun yang diperlukan buruk oleh anak kandungnya akan merasa sedih, kecewa, bahkan sakit hati. Wajar saja jika Ibu merasa begitu.


"Ibu rindu pada Fabian yang dulu. Fabian yang penyayang pada keluarga, alim, dan pekerja keras."


Suasana hening sejenak.


"Nduk, …"


"Ya, Bu."


"Apakah tidak ada kesempatan ke dua bagi Fabian untuk memperbaiki pernikahan kalian?"


Aku terdiam. Meskipun Fabian tak pernah sekalipun menjatuhkan talak padaku, bukan berarti aku akan mudah menerimanya kembali. Hati ini sudah terlanjur remuk, bahkan hancur. Rasanya sulit untuk membuatnya kembali utuh.


"Aku memang sudah memaafkan Fabian. Tapi untuk kembali padanya, aku tidak bisa."


"Lihat Fabian sekarang. Hidupnya sudah hancur. Apa sedikit pun kamu tidak memiliki rasa iba? Setiap orang pernah melakukan kesalahan, namun dia juga berhak mendapatkan kesempatan ke dua. Bagaimana pun Bian adalah ayah kandung Lyra. Apa hati kamu tidak merasa teriris setiap kali anak itu bertanya kenapa ayahnya tidak tinggal bersama kita di rumah ini?"


"Mungkin sekarang Lyra belum paham, tapi seiring berjalannya waktu, dia pasti akan mengerti kenapa ayahnya tidak tinggal serumah bersamanya," ujarku.


"Assalamu'alaikum," sapa seseorang dari arah pintu depan.


"Lyra sudah pulang, Sayang. Di mana nenek?"


"Nenek masih di belakang."


"Loh, kok ditinggal."


"Nenek lali nya lama." Lyra terkekeh.


"Besok Jangan diulangi ya, Sayang."


"Iya, Bu. Maaf."

__ADS_1


"Anak pintar," ucapku seraya mengusap kepalanya yang terbalut hijab.


Beberapa saat terdengar langkah kaki dari arah teras.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam," jawab kami bertiga serentak.


"Lyra, kenapa nenek ditinggal lagi?" protesnya.


"Maaf, Nek. Nenek capek ya? Sini Lyra pijitin." Lyra menggandeng tangan ibu lslu mengajaknya duduk di atas sofa. Bagaikan seorang tukang pijit profesional, sepasang tangan mungil itu mulai bergerak lincah di bagian kaki ibu, kebawah, lalu ke atas, begitu seterusnya selama beberapa menit hingga akhirnya dia mengucapkan kata "selesai!".


"Loh, baru sebentar kok sudah selesai?" protesku.


"Tukang pijitnya lapal, mau makan dulu," ucapnya yang sontak membuat tawa kami meledak.


"Oh ya, Bu. Hampil lupa."


Lyra mengambil selembar kertas dari dalam tasnya lalu memberikannya padaku.


Aku pun mulai membacanya. Rupanya kertas itu berisi pemberitahuan program rekreasi siswa.


"Apa itu, Nak?" tanya ibu.


"Surat pemberitahuan program rekreasi siswa."


"Kapan?"


"Dua Minggu lagi."


"Oh ya, nanti Lyla ditemani ayah juga 'kan, Bu?" tanyanya kemudian.


"Dengan ibu saja tidak apa kok, Sayang."


"Tapi, Lyla ingin ditemani ayah juga," rengek Lyra.


"Memangnya setiap siswa wajib didampingi kedua orangtuanya?"


Setiap siswa yang masih memiliki orangtua lengkap wajib didampingi keduanya, sebab rekreasi itu dilaksanakan dalam rangka hari keluarga sekaligus merayakan hari ulang tahun sekolah.


"Ya sudah, ditemani ibu dan nenek ya, Sayang," bujuk ibu.


"Aku mau ditemani ayah. Safila, Shinta, Nana, pasti mengajak ayahnya."


"Lyra 'kan tahu, ayah sibuk bekerja. Jadi, ditemani ibu dan nenek tidak apa 'kan, Sayang?" bujukku.


"Lyra 'kan anak yang baik, pintar dan penurut. Lyra pasti menurut dengan kata-kata ibu," ucapku lagi. Akhirnya putri kecilku itu mengangguk paham.


"Ya sudah, Lyra ganti baju lalu makan siang. Hari ini bibi masak ayam goreng kesukaan Lyra," ucap ibu. Beliau pun lantas menggandeng tangan Lyra dan mengajaknya masuk ke dalam kamar .


"Kenapa kamu setega itu dengan Lyra?" tanya mantan ibu mertuaku.


"Tega bagaimana, Bu?" Aku balik bertanya.

__ADS_1


"Lyra hanya ingin Fabian ikut mendampinginya di acara rekreasi sekolah. Itu hanya keinginan kecil yang mudah untuk kamu turuti. Kenapa kamu harus berbohong segala?"


"Setelah dibujuk, Lyra mau ditemani aku dan ibu. Kenapa sekarang Ibu yang mempermasalahkannya?"


"Kamu pikir saja. Berapa banyak waktu kebersamaan Fabian dan Lyra yang selama ini terbuang. Hanya sehari saja yang diminta Lyra. Kenapa kamu harus keberatan?"


Aku tersenyum kecut.


"Kalaupun waktu kebersamaan mereka terbuang, apa itu kesalahanku? Siapa yang dari awal membuangku? Aku, atau Fabian?"


"Fabian memang pernah salah, kenapa kamu tidak memberinya kesempatan untuk berubah? Ibu yakin Fabian sudah menyesali kesalahannya dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik."


"Maaf, Bu Kinanti. Tidak sepantasnya Ibu bicara begitu pada Zura." Ibu yang baru saja keluar dari kamar Lyra menimpali.


"Memangnya salah saya di mana? Setiap ibu menginginkan yang terbaik untuk anaknya 'bukan?"


"Dengan memaksa Zura untuk kembali menerima Fabian, begitu?"


Ibu Kinanti terdiam dan menundukkan kepalanya.


"Seharusnya Ibu Kinanti bersyukur, bukan malah banyak menuntut ini itu. Setelah apa yang dilakukan Fabian pada Zura, dia masih saja peduli pada Ibu. Dia bahkan dengan sukarela mengajak Ibu tinggal di rumahnya. Jika Zura mau, dia bisa saja membiarkan Ibu selamanya berada di panti jompo, atau sama sekali tak peduli pada Ibu," ucap ibu kandungku.


"Kenapa Ibu Sabrina jadi membahas masalah lain? Saya hanya meminta Zura mengabulkan permintaan Lyra agar Fabian diperbolehkan mendampingi Lyra di acara rekreasi sekolah, itu saja."


"Apa Ibu Kinanti lupa? Selama bertahun-tahun Zura mampu hidup tanpa Fabian. Zura sudah berjuang keras demi terus bertahan hidup. Setelah Zura berhasil meraih kesuksesan, Ibu Kinanti memaksanya agar mau menerima kembali Fabian. Puteri saya tidak sebodoh itu, Bu."


"Pasti Ibu Sabrina yang sudah meracuni otak Zura," ucap Bu Kinanti.


"Loh, kok Ibu jadi menuduh saya yang bukan-bukan. Zura sudah dewasa, dia pasti tahu apa yang terbaik untuk hidupnya."


"Bilang saja Ibu lebih menginginkan punya menantu kaya dibandingkan dengan Fabian yang hanya seorang pelayan cafe."


"Dasar perempuan tua tidak tahu diri! Dikasih hati malah ngelunjak!" seru ibu.


Ibu Kinanti menyeringai kecut.


"Memangnya apa bedanya dengan kamu? Dulu kamu membuang Zura, tapi pada akhirnya kamu menjadi bebannya juga 'kan?"


"Apa kamu lupa? Aku ibu kandungnya. Aku berhak tinggal di rumah ini. Sedangkan kamu? Hanya mantan ibu mertua. Apa masih pantas seorang ibu tinggal di rumah perempuan yang pernah disakiti anak laki-lakinya?"


"Sudah kuduga. Kamu memang tidak pernah mennyukai keberadaanku di rumah ini. Baiklah, detik ini juga aku pergi dari rumah ini!"


"Astaghfirullahaldzim, Kenapa kalian jadi ribut begini?"


Ibu Kinanti masuk ke dalam kamarnya. Tidak berselang lama beliau keluar dengan menenteng tas miliknya.


"Ibu mau kemana? Kumohon jangan pergi, Bu," ucapku parau.


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ke novel baruku yuk yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"

__ADS_1


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰 🥰🥰🥰


__ADS_2