Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Rumit


__ADS_3

"Saya minta maaf tidak dapat memenuhi janji saya untuk mempertemukan Ibu dengan putera kandung Ibu," ucapku.


"Sebenarnya maksud Bu Zura apa? Jangan membuat saya bingung."


"Sebenarnya selama ini Ibu sudah begitu dekat dengan putera kandung Ibu. Anak laki-laki itu menjadi murid di sekolah ini juga."


"Siapa anak itu, dan di mana dia sekarang?" tanya bu Mala penuh semangat.


"Rayyan … putera kandung Ibu sudah tiada."


"Bu Zura pasti bercanda. Setahu saya di sekolah ini tidak ada murid benrnama Rayyan."


"Kakak saya yang memberi nama Rayyan pada putera kandung Ibu. Tapi, wanita yang merawat Rayyan merubah namanya menjadi Alden."


"Semua orang tahu Alden siapa. Setiap hari dia selalu diantar jemput dengan mobil mewah. Sama sekali tidak cocok dengan pernyataanmu yang mengatakan Rayyan dirawat oleh seorang pengemudi taksi."


"Pada awalnya Rayyan memang dirawat seorang pengemudi taksi bernama pak Sumarno. Akan tetapi sbuah keadaan membuat Rayyan diasuh keluarga lain. Mereka lantas mengganti nama Rayyan menjadi nama Alden," ungkapku.


"Ja-ja-di, anak saya, …"


Tangis bu Mala pun sontak pecah.


"Saya benar-benar minta maaf, Bu. Ini semua adalah takdir Allah dan di luar kendali kita."


"Saya akan menuntut kakakmu! Dan saya pastikan dia akan mendapatkan hukuman berat!" seru bu Mala.


Apa yang kukhawatirkan benar-benar terjadi. Bagaimana pun apa yang dilakukan kak Maureen memang lah perbuatan kriminal meskipun ia melakukannya dengan menggunakan tangan orang lain. Tapi masalahnya kini aku tak tahu di mana keberadaan kak Maureen.


"Kita temui kakakmu sekarang! Aku harus segera menyeretnya ke pihak berwajib!"


"Ehm … kak Maureen memang sudah bebas dari penjara dan beberapa hari yang lalu kami kembali bertemu. Tetapi, kak Maureen pergi dan saya tidak tahu di mana keberadaannya kini."


"Kebohongan apalagi ini. Bagaimana mungkin seorang adik tidak tahu di mana keberadaan kakaknya?"

__ADS_1


"Saya tidak mau tahu. Saya beri waktu 1x 24 jam untuk menemukan kakakmu. Jika tidak juga menemukannya …Bu Zura lah yang akan menggantikannya!"


Sendi-sendiku mendadak terasa lunglai. Membayangkannya saja sudah begitu mengerikan. Bagaimana jika aku benar-benar harus masuk di dalamnya?


****


Langkah kakiku terasa begitu berat. Jarak dari sekolah menuju rumah yang tidak seberapa tiba-tiba terasa seperti beberapa kilometer jauhnya. Ucapan bu Mala terus saja terngiang di telingaku. Ya Rabb, hamba begitu takut…


"Ibu terlihat begitu lesu. Apa Ibu sakit?" tanya bi Ami setibanya kami di rumah.


"Tidak apa kok Bi, saya mau istirahat di kamar dulu."


Tidak berselang lama seseorang mengetuk pintu kamarku.


"Masuk."


"Di luar ada tamu yang mencarimu, Nak."


"Salah satu pelanggan kita, pak Willy."


"Baik, Bu. Aku segera keluar."


"Wajah kamu terlihat agak pucat. Apa kamu sakit?"


"Aku baik-baik saja, Bu."


Aku beranjak dari kamarku dan berjalan menuju halaman rumah.


"Selamat pagi, Pak Willy," sapaku pada pria paruh baya itu.


"Selamat pagi, Bu."


"Angin apa yang membawa Bapak kemari?"

__ADS_1


"Ada hal penting yang harus saya sampaikan."


"Hal penting apa, Pak?"


"Begini, Bu. Sebelumnya saya berterima kasih atas kerjasama yang selama ini terjalin. Saya cukup puas dengan produk yang dihasilkan konveksi ini. Akan tetapi, saya minta maaf."


Kenapa dengan pak Willy? Setelah mengucapkan terima kasih lalu meminta maaf. Tiba-tiba saja perasaanku tidak enak.


"Kenapa Bapak minta maaf?"


"Ehm … sepertinya kerjasama kita cukup sampai di sini."


Kalimat itu membuatku tersentak kaget. Selama menjadi pelanggan konveksi milikku, pak Willy tidak pernah sekalipun komplain mengenai hal apapun terkait produk, ataupun pengirimannya. Kenapa tiba-tiba dia memutuskan kerjasama dengan konveksi ini?


"Maaf, Pak. Apa saya boleh tahu alasan kenapa Bapak ingin berhenti menjalin kerjasama dengan konveksi ini?" tanyaku.


"Ti-ti-tidak, apa, Bu. Sementara ini saya ingin fokus dengan bisnis saya yang baru," jawabnya.


Entah mengapa aku merasa pak Willy menyembunyikan sesuatu dariku.


"Bukankah toko pakaian Bapak cukup ramai? Sayang jika tiba-tiba ditutup."


"Apakah Pak Willy berpindah ke konveksi lain?" tanya ibu penuh selidik.


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2