Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Langkah baru


__ADS_3

"Fabian yang kupikir laki-laki setia ternyata mendua. Dia bahkan menikahi perempuan lain secara diam-diam."


"Jadi, kalian sudah berpisah?" tanya ibu.


"Kebetulan beberapa waktu yang lalu rumah kami terbakar. Itu pun karena kecerobohannya sendiri. Beruntung Allah masih memberi keselamatan pada Fabian juga ibu mertuaku. Saat itu aku sedang berada di rumah sakit, sementara Lyra tengah bersama tetanggaku."


"Lantas, di mana laki-laki breng*ek itu sekarang?" tanya ibu lagi.


"Fabian dan ibu mertuaku tinggal di rumah istri mudanya, Karmila. Rumah itu juga dibeli Fabian tanpa sepengetahuanku," ungkapku.


"Ibu jadi penasaran dengan wajahnya. Lihat saja kalau ketemu, ibu pasti akan memakinya habis-habisan. Beraninya dia menyakiti putri kesayanganku!"


"Ibu tidak perlu membuang tenaga hanya untuk memaki laki-laki macam Fabian. Mungkin jodoh kami hanya sampai di sini."


"Jadi, kalian sekarang tinggal di mana?" tanya ibu.


"Aku dan Lyra tinggal di tempat kost tidak jauh dari kawasan industri tekstil," jawabku. 


"Kamu sudah mengambil sikap yang benar. Laki-laki macam Fabian tidak pantas untuk perempuan sepertimu," ujar ibu.


"Ibu tidak keberatan 'kan, tinggal di kontrakan sempit bersama kami? Uang yang kumiliki hanya cukup untuk menyewa kamar kost," ucapku.


"Ibu sungguh beruntung memiliki putri sepertimu, Nak. Entah bagaimana nasibku jika Tuhan tidak mempertemukan kita." 


Tiba-tiba sorot mata ibu berkaca-kaca.


Sedetik kemudian tangisnya pun pecah.


"Ibu minta maaf pernah pergi meninggalkanmu, Nak. Saat itu ibu benar-benar bingung bagaimana melanjutkan hidup. Ibu pergi dengan membawa semua harta milik ayahmu. Ternyata benar, apa yang kita dapatkan dengan cara kotor tidak akan bertahan lama. Hanya selang beberapa tahun semua harta ibu habis. Untuk menyambung hidup, ibu terpaksa menjadi benalu rumah tangga dengan cara merayu para pria berekonomi mapan. Hingga akhirnya ibu bertemu dengan pak Prayoga. Dia berbeda dari pria-pria yang pernah ibu dekati dulu."


"Meskipun baru mengenal pak Prayoga, aku yakin beliau adalah pria yang baik dan tulus," ujarku.


"Kamu benar. Yoga memang pria yang baik. Dia mau menerima ibu apa adanya. Tapi, yang menjadi masalah adalah putri semata wayangnya, Widya. Sepertinya dia membenci ibu. Dia tidak menyetujui hubungan kami bahkan secara terang-terangan menentangnya."


"Semua butuh waktu, Bu. Mungkin Widya tidak akan bisa begitu saja menerima kehadiran orang asing dalam hidupnya. Kalau memang kalian berjodoh, Allah akan menyatukan kalian entah bagaimana caranya," ujarku.


Aku memandang Lyra yang tengah tertidur pulas di pangkuan ibu. Begitu hangat dan nyaman.


"Kita pulang sekarang?" tanyaku.


"Biar ibu yang menggendongnya."


"Tapi, Bu. Ibu belum pulih benar."


"Tidak usah khawatir begitu. Kalau hanya menggendong bayi sekecil Lyra, ibu masih sanggup," ujar ibu.


Setelah selesai mengemasi barang-barang ibu dan merapikan tempat tidur, kami pun lantas meninggalkan kamar perawatan itu.


Aku dan ibu baru saja keluar dari pintu utama. Di saat itulah sebuah taksi berhenti tepat di halaman rumah sakit. Tidak berselang lama pintu terbuka. Aku mengenal betul penumpang itu.


"Fatimah…?"

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Ra," sapanya.


"Waalaikumsalam. Kamu kok naik taksi. Di mana kak Darren?"


"Seperti biasa, dia tidak punya waktu untuk Anisa. Meskipun Anisa sakit sekali pun, mas Darren lebih memilih pekerjaannya."


"Anisa sakit?"


Aku menempelkan punggung tanganku di kening bayi yang belum genap dua Minggu itu. 


"Badan Anisa tiba-tiba panas. Aku sempat meminta mas Darren mengantar Anisa berobat. Tapi dia yang dari awal tidak menyukai kehadiran Anisa tentu saja tak peduli."


"Aku mengerti bagaimana rasanya diacuhkan. Yah terpenting kamu jangan putus berdo'a agar Allah lekas membukakan pintu hati suamimu," ujarku.


"Tunggu! Sepertinya tadi kamu menyebut nama Darren. Apakah Darren itu, …?" ucap ibu.


"Ibu ini siapa, Ra?" tanya Fatimah.


"Oh ya. Ini adalah ibuku, ibu kak Darren juga," jawabku.


Fatimah pun lantas meraih tangan ibu lalu menciumnya penuh takdzim.


"Nama saya Fatimah, Bu. Saya istri mas Darren," ucapnya.


"Jadi, bayi kecil ini adalah cucuku juga?" tanya ibu. Fatimah menganggukkan kepalanya.


"Cucu nenek cantik semua," ujar ibu.


Fatimah menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.


"Ya. Dokter mengizinkan ibu pulang hari ini."


"Alhamdulillah. Maaf, saya permisi ke dalam dulu," ucap Fatimah.


"Biar kutemani," ucapku.


"Tidak usah, Ra. Kamu ajak ibu pulang saja. Beliau harus banyak istirahat."


"Semoga Anisa lekas sembuh."


"Aamiin." 


"Kami pulang dulu, Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Aku dan ibu menumpangi taksi yang akan mengantar kami menuju tempat kost.


"Maaf, ya, Bu. Tempat tinggalku sempit," ucapku sesaat setelah kami tiba di tempat kost.


Ibu tersenyum.

__ADS_1


"Tidak apa, Nak. Yang terpenting ibu memiliki tempat tinggal. Ibu bersyukur Tuhan kembali mempertemukan kita," ujarnya.


Aku berusaha membuat ibu senyaman mungkin tinggal bersamaku. Salah satunya dengan menghidangkan makanan lezat untuknya. Awalnya ibu senang dengan perlakuan itu. Namun, suatu ketika ibu mendapatiku tengah kebingungan saat aku melihat isi dompetku.


"Kalau uangmu pas-pasan, kamu tidak perlu sering-sering memasak makanan lezat untuk ibu. Ibu tidak apa-apa kok makan seadanya," ucapnya.


"Tidak apa, Bu. Aku ingin membuat Ibu nyaman tinggal di sini," ucapku.


****


Satu Minggu sudah ibu tinggal bersamaku. Aku benar-benar bingung bagaimana mendapatkan uang untuk melanjutkan hidup hingga tercetus keinginanku untuk kembali bekerja.


"Maaf, Bu. Jika aku harus menitipkan Lyra pada Ibu. Aku harus memiliki penghasilan untuk kita bertahan hidup," ucapku.


"Ibu minta maaf jika kehadiran ibu di sini menambah beban hidupmu."


"Jangan berkata begitu, Bu. Memang sudah kewajiban anak memuliakan orang tuanya," ujarku.


"Memangnya kamu mau bekerja di mana?" tanya ibu. 


"Aku dengan di pabrik tekstil LR sedang membuka lowongan pekerjaan di bagian penjahit."


"Memangnya kamu bisa menjahit?"


"Setelah menikah aku pernah bekerja di pabrik tekstil selama kurang lebih delapan tahun sebelum akhirnya memutuskan berhenti karena hamil."


Tiba-tiba pandangan ibu tertuju pada sebuah benda terbungkus kantong plastik yang berada di sudut ruang depan.


"Itu apa, Nak?" tanyanya.


"Mesin jahit, Bu. Aku membelinya dari seseorang. Saat itu beliau membutuhkan ongkos untuk pulang ke kampung halamannya."


Ibu pun lantas membuka bungkusan itu, lalu memeriksa isi di dalamnya.


"Walaupun sedikit kuno, tapi mesin jahit ini masih cukup kuat. Daripada bekerja di luar sana, Kenapa kamu tidak membuka usaha sendiri saja? Ibu lihat di daerah sini belum ada jasa tukang jahit. Ibu yakin, usahamu pasti ramai pelanggan," ucap ibu.


Aku terdiam sejenak, lalu berpikir.


"Benar kata ibu. Dengan membuka usaha sendiri, aku bisa punya penghasilan. Aku juga tidak perlu meninggalkan Lyra," gumamku.


"Bagaimana, Nak? Apa kamu setuju dengan ide ibu?" tanya ibu


"Ya, Bu. Tapi, …"


"Tapi kenapa, Nak?"


"Setiap usaha membutuhkan modal. Dari mana aku mendapatkan modal itu?" tanyaku.


Bersambung…


Hai, pembaca setia….

__ADS_1


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2