Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Curahan hati


__ADS_3

"Siapa sebenarnya perempuan itu? Jangan membuatku penasaran," desak Keenan.


"Namanya Azzura."


"Azzura? Apa Azzura yang kamu maksud itu Azzura yang kita kenal?"


"Ya, namanya Azzura. Penjahit yang dulu membuatkan baju pengantin untukmu dan mendiang Asha."


"Apa kabarnya sekarang? Sudah cukup lama aku tidak bertemu dengannya."


"Kabarnya baik, bahkan begitu baik. Sekarang dia sudah memiliki usaha konveksi di rumahnya."


"Masyaallah. Kesuksesan yang kini diraihnya adalah hadiah dari ketekunan dan kerja kerasnya. Bagaimana kamu bisa bertemu dengannya lagi? Atau selama ini kalian memang masih sering berkomunikasi?"


"Bagaimana caranya kami berkomunikasi. Aku bahkan tidak memiliki nomor ponselnya. Kami kembali dipertemukan melalui pak Willy. Dia yang merekomendasikan "LYRA KONVEKSI" sebagai pemasok baju muslim untuk toko yang rencananya akan kubuka bulan ini."


"Jika boleh kutahu, sejak kapan kamu mulai tertarik pada Zura?" tanya Keenan penuh selidik.


"Entahlah. Awalnya aku memang acuh padanya. Aku bahkan tidak tahu pasti kapan rasa itu muncul hingga akhirnya aku benar-benar jatuh cinta padanya."


"Apa kamu sudah mengutarakan perasaanmu padanya?"


"Beberapa hari yang lalu aku bertemu denganmu di cafe untuk membicarakan rencana kerjasama kami. Aku sudah mengungkapkan perasaanku padanya, bahkan aku mengajaknya menikah."


"Lantas, bagaimana tanggapan nya?"


Gibran menggelengkan lemah.


"Zura tidak memberi jawaban apapun."


"Zura pernah gagal dalam pernikahannya. Mungkin dia butuh waktu untuk menyembuhkan luka hatinya," ujar Keenan.

__ADS_1


"Aku pun tidak ingin memaksakan kehendakku. Jika dia memang memiliki perasaan yang sama denganku, Alhamdulillah. Sebaliknya, jika dia hanya menganggapku teman, ya sudahlah."


"Kamu percaya jodoh 'bukan? Pasrahkan semua pada Allah. Jika kalian memang berjodoh, Allah pasti akan menyatukan kalian entah bagaimana caranya."


"Bagaimana dengan kamu sendiri? Sudah lebih dari dua tahun setelah Asha meninggal, sepertinya aku belum pernah melihatmu dekat dengan perempuan manapun."


Keenan membuang nafas.


"Saat ini belum ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi Asha di hatiku."


"Ayolah. Kamu masih muda. Jangan biarkan rasa kehilangan membelenggumu untuk menatap masa depan. Apa seumur hidup kamu akan melajang? Siapa yang kelak akan menjadi penerusmu?"


"Untuk urusan itu aku pun serahkan pada Allah. Jika memang hanya Asha saja perempuan yang Allah hadirkan dalam hidupku, insyaallah aku ikhlas. Pun sebaliknya. Jika Allah memang sudah menyiapkan penggantinya, aku juga akan menerimanya dengan hati lapang."


"Percayalah, Allah selalu tahu apa yang terbaik untuk kita," ujar Gibran.


"Kamu sekarang semakin bijak. Rupanya Zura benar-benar telah membuat pengatuh besar bagi hidup seorang Gibran yang dulunya keras kepala, kaku, dan susah diatur. Aku turut bantu do'a semoga dia menerima cintamu."


"Belum juga diterima, sudah bicara soal pernikahan," ledek Keenan.


"Ucapan berarti do'a 'bukan? Meskipun bukan cinta pertamaku, aku yakin Zura adalah cinta terakhirku."


Tiba-tiba Keenan menutup mulutnya yang tiba-tiba menguap. Menandakan jika dirinya kini mulai diserang rasa kantuk.


"Sudah malam, waktunya tidur."


"Terima kasih."


"Untuk apa?"


"Sudah mendengarkan curahan hatiku."

__ADS_1


Keenan tersenyum.


"Kita ini bersaudara. Sudah seharusnya kita saling berbagi," ujarnya.


"Selamat malam, adikku, mimpi indah."


Keenan menanggapi ucapan itu dengan nyengir kuda sebelum akhirnya ia meninggalkan kamar Gibran dan masuk ke dalam kamarnya.


"Terima kasih, ya Allah. Engkau hadirkan Zura dalam hidup Gibran," lirih Keenan.


Keenan merasa dirinya tengah berjalan sendirian di jalan setapak. Sunyi, sepi tak ada seorang pun di sana. Hingga tiba-tiba di hadapannya tampak seorang perempuan yang tengah menangisi seorang laki-laki yang terbujur kaku dan ditutupi kain berwarna putih.


"Assalamu'alaikum, ukhti," sapa Keenan.


Perempuan yang wajahnya samar itu terus menangis seolah tak memperdulikan keberadaan Keenan. Hingga beberapa saat kemudian muncul sesosok pria berpakaian serba putih. Tiba-tiba saja dia meraih tangan Keenan.


"Sesungguhnya kamu lah penyembuh luka hati putriku. Jagalah dia, bahagiakan dia," ucapnya.


Perempuan yang sedari tadi menundukkan wajahnya itu pun lantas memandang wajah Keenan.


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ke novel baruku yuk  yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰


 

__ADS_1


__ADS_2