
Aku mengangkat tangan kananku dan bersiap melayangkan tamparan di wajah Mila. Tak kuduga, perempuan bermulut pedas itu menepis tanganku lalu mencengkeramnya.
"Jadi perempuan kasar banget sih, Mbak!"
"Aku tidak akan kasar kalau ucapanmu tidak keterlaluan!" Aku balas membentaknya.
"Kenapa Mbak harus tersinggung? Memang bener 'kan seorang suami akan menikah lagi karena bosan pada istri pertamanya?"
"Dulu hubungan kami baik-baik saja. Tapi semua kacau sejak kamu muncul dalam kehidupan kami," ucapku.
"Mbak mau nyalahin aku kaya apa juga percuma. Toh mas Fabian sudah merasa nyaman bersamaku. Dia juga mengatakan mendapatkan kepuasan di ranjang dariku, bukan dari Mbak lagi. Bukan begitu, Mas?"
Mas Fabian diam. Dia tak mengiyakan ataupun tak menyangkal ucapan Mila.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Rupanya pak Hasan telah kembali dari ATM.
"Mbak ini siapa? Adiknya mbak Zura ya?" tanyanya saat melihat Mila.
"I-i-iya, Pak. Dia adik saya," jawabku.
Saat ini tak mungkin bagiku mengatakan siapa Mila sebenarnya. Bisa gempar satu perumahan kalau aku mengatakan Mila adalah istri muda mas Fabian.
"Saya sudah mengambil uangnya, Mbak. Mari kita ke bagian administrasi," ucap pak Hasan.
"Baik, Pak."
Pak Hasan mendorong kursi rodaku meninggalkan ruangan itu lalu menuju bagian administrasi.
"Terima kasih banyak, Pak, untuk bantuannya. Saya tidak tahu jika tidak ada Bapak," ucapku sesaat setelah membayar biaya operasi ibu.
"Jangan berterima kasih terus, Mbak. Saya jadi sungkan," ujar pria yang berprofesi sebagai guru itu.
"Semoga dokter mengizinkan saya pulang secepatnya. Saya tidak enak hati terus menerus merepotkan bu Murni."
"Tidak apa, Mbak. Istri saya juga senang anak-anak. Apalagi bayi seusia Lyra, sedang lucu-lucunya." Pak Hasan terkekeh.
"Saya bersyukur punya tetangga sebaik Bapak dan ibu Murni," ujarku.
__ADS_1
"Maaf, Mbak. Sudah agak siang. Saya harus berangkat mengajar."
"Terima kasih, Pak."
"Sudah, Mbak. Bilang terima kasih nya. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Pak Hasan pun lantas berlalu dari hadapanku dan meninggalkan rumah sakit.
Kuarahkan kursi rodaku kembali menuju ruang UGD.
Benar-benar tidak punya etika! Bisa-bisanya mas Fabian dan Mila bermesraan di ruangan ini!" umpatku.
Menyadari kehadiranku, mereka pun lekas saling menjaga jarak.
Tiba-tiba dua orang perawat masuk ke dalam ruangan. Mereka terlihat membawa sebuah trolly.
"Permisi, Pak, Bu. Kami akan segera memindahkan pasien ke ruang operasi," ucap salah satu perawat.
"Baik, Suster," ucapku.
"Kenapa kalian diam saja? Apa kalian tidak ingin menunggu ibu menjalani operasi?" tanyaku.
"Aku di sini saja nemenin mas Fabian. Mbak bisa kan nungguin ibu sendiri?"
"Maaf, Bu. Bu Azzura ini masih dalam masa perawatan. Sebenarnya pasien tidak dibenarkan meninggalkan kamar perawatan," ucap suster Diana yang baru saja muncul di ruangan ini.
"Saya rasa keadaan Bapak sudah membaik. Silahkan jika anda ingin menunggu operasi ibu anda," imbuhnya.
Kutatap wajah mas Fabian dan Karmila bergantian. Aku bisa menangkap kekesalan di raut wajah mereka.
"Mari saya antar ke ruang perawatan Ibu." Suster Diana memegang bagian belakang kursi rodaku lalu mendorongnya kembali menuju kamar perawatanku.
"Sudah waktunya saya pulang. Teman saya Mayra yang akan menggantikan saya merawat ibu," ucap suster Diana.
Perasaanku sedikit tenang saat perawat itu menyebutkan nama kawan lamaku, Mayra.
__ADS_1
"Permisi, selamat pagi," ucapnya.
"Selamat pagi."
Suster Diana pun lantas meninggalkan kamar perawatanku. Hanya selang beberapa menit Mayra datang.
"Selamat pagi, Ra," sapanya.
"Selamat pagi. Bagaimana keadaanmu? Sudah merasa lebih baik?" tanyanya sembari memeriksa botol infus.
"Sudah lebih baik dari kemarin, hanya masih lemas."
"Oh ya. Barusan aku berpapasan dengan suamimu di depan ruang operasi. Sebenarnya perempuan itu siapa sih? Aku kok nggak yakin kalau dia adik suami kamu. Mereka mesra banget kaya pengantin baru," ucap Mayra.
Aku terdiam. Apakah aku harus terus membohongi Mayra? Atau kuberitahu saja apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tanggaku? Aku mengenal betul siapa Khumayra. Meskipun sedikit cerewet, dia selalu bisa menjaga rahasia.
"Kenapa kamu diam saja, Ra? Apa ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan?" Mayra meraih tanganku lalu menggenggamnya.
"Perempuan itu bernama Mila. Dia adalah istri muda mas Fabian," ucapku.
"Istri muda? Tunggu! Kamu mau dimadu 'Ra?"
Aku tersenyum getir.
"Tak ada perempuan yang mau berbagi suami, May."
"Lantas, kenapa Fabian menikah lagi?" tanyanya.
Bersambung….
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
🙏🙏